Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
UPER Dorong Ilmu Aktuaria untuk Antisipasi Risiko Kerugian Industri Energi
Senin, 12 Oktober 2026 17:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kerusakan aset, lonjakan biaya pemeliharaan, hingga gangguan operasional menjadi risiko yang dapat memengaruhi investasi di industri energi.
Untuk mengantisipasi potensi kerugian tersebut, Universitas Pertamina (UPER) mendorong penerapan ilmu aktuaria guna membantu perusahaan mengukur risiko, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan strategi pemeliharaan aset berbasis data.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan investasi energi global mencapai US$3,4 triliun pada 2026.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan transisi energi, perusahaan perlu memiliki metode yang mampu memperkirakan peluang terjadinya risiko sekaligus menghitung konsekuensi finansialnya. Kebutuhan tersebut membuka peluang penerapan ilmu aktuaria di industri energi.
Meski aktuaris di Indonesia umumnya bekerja di bidang asuransi jiwa, keahlian dalam mengukur risiko dan memperkirakan kebutuhan biaya juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung keputusan pemeliharaan serta penggantian aset.
Penerapan ilmu tersebut diperkenalkan Program Studi Sains Aktuaria UPER kepada pegawai perusahaan pengelola data minyak dan gas bumi (migas) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada 26 September 2026.
Baca juga : Lantik 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Masa Depan
“Pendekatan aktuaria membantu perusahaan mengukur risiko kerusakan aset, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan langkah pencegahan berdasarkan data,” ungkap Ketua Program Studi Sains Aktuaria UPER sekaligus Ketua Tim PkM, Dr. Tasmi, S.Si., M.Si.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah survival analysis, yakni analisis statistik untuk memperkirakan berapa lama suatu peralatan dapat berfungsi sebelum mengalami kerusakan.
Sebagai contoh, perusahaan dapat menganalisis data usia pemakaian, jadwal perawatan, dan riwayat kerusakan sejumlah pompa untuk memperkirakan peluang peralatan tersebut tetap berfungsi dalam satu tahun ke depan.
Hasil analisis dapat membantu perusahaan menentukan pompa yang perlu diprioritaskan untuk perawatan atau pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan demikian, perusahaan juga dapat menyiapkan anggaran penggantian sebelum kerusakan mengganggu operasional.
Selain memperkirakan probabilitas kegagalan, pendekatan aktuaria dapat membantu perusahaan mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari keputusan pemeliharaan dan penggantian aset.
Baca juga : Pertamina Foundation dan UPER Perkuat Sinergi Transisi Energi
Dalam kegiatan PkM tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul sebagai acuan bagi perusahaan dalam menganalisis risiko keuangan.
Dr. Tasmi menjelaskan, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dynamic programming, yaitu metode untuk membandingkan sejumlah pilihan keputusan berdasarkan berbagai kemungkinan dan konsekuensinya dalam jangka panjang.
Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional.
Model dynamic programming membantu membandingkan kedua pilihan tersebut selama beberapa tahun ke depan, termasuk memperhitungkan harga jual mesin lama.
"Dengan begitu, perusahaan dapat menilai apakah lebih menguntungkan mengganti mesin sekarang atau tetap menggunakannya untuk sementara,” tambah Dr. Tasmi.
Kolaborasi UPER dengan industri melalui kegiatan PkM menjadi sarana untuk memahami secara langsung persoalan manajemen risiko yang dihadapi sektor energi.
Baca juga : MedcoEnergi Buktikan Perempuan Indonesia Bisa Memimpin di Industri Energi
Kegiatan ini sekaligus membuka peluang penerapan ilmu aktuaria untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan keterhubungan antara keilmuan dan kebutuhan industri merupakan bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di bidang energi.
“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, pengembangan Sains Aktuaria melalui peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya