Dark/Light Mode

Risiko Kesehatan Meningkat, FWD Insurance Perkuat Perlindungan Masyarakat

Senin, 19 Oktober 2026 20:55 WIB
Director, Head of Customer Experience Ipsos Indonesia Dini Islami, Ekonom Senior A. Prasetyantoko, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy Franto Manik dalam diskusi FWD Economic Outlook 2027: “Navigating Tomorrow with Confidence”, sebuah forum yang menghadirkan perspektif regulator, ekonom, riset konsumen dan industri, di Jakarta, Senin (19/10/2026). (Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka/RM.id)
Director, Head of Customer Experience Ipsos Indonesia Dini Islami, Ekonom Senior A. Prasetyantoko, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy Franto Manik dalam diskusi FWD Economic Outlook 2027: “Navigating Tomorrow with Confidence”, sebuah forum yang menghadirkan perspektif regulator, ekonom, riset konsumen dan industri, di Jakarta, Senin (19/10/2026). (Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan, industri asuransi, termasuk FWD Insurance harus terus memperkuat perannya dalam memberikan proteksi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila menyampaikan, industri asuransi Indonesia menghadapi sejumlah tantangan di antaranya dalam meningkatkan penetrasi dan memperluas perlindungan kepada masyarakat.

“Rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia, masih menjadi salah satu tantangan utama bagi industri asuransi,” ujar Iwan dalam acara FWD Economic Outlook 2027: “Navigating Tomorrow with Confidence”, di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (19/10/2026).

Iwan menambahkan, penetrasi industri asuransi masih berada di kisaran 8 persen, sehingga diperlukan upaya lebih besar untuk mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan.

Terlebih, industri asuransi tidak hanya berperan memberikan perlindungan finansial kepada masyarakat. Tetapi, juga menjadi investor institusional yang dapat berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Tantangan lainnya kata Iwan adalah meningkatnya risiko kesehatan seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat.

Baca juga : Generali Indonesia Lindungi 3.000 Pelari Tangerang 10K

Menurutnya, kondisi ini memunculkan risiko longevity, yaitu ketika seseorang hidup lebih lama. Tetapi, tidak selalu disertai kondisi kesehatan yang baik.

“Akibatnya, kebutuhan biaya kesehatan pada usia lanjut berpotensi meningkat, sementara akumulasi dana pensiun dan manfaat yang dimiliki seseorang belum tentu mencukupi kebutuhan tersebut,” kata Iwan.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan dalam memastikan masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan finansial yang memadai.

Karena itu, industri asuransi diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi risiko yang berpotensi mengganggu kondisi keuangan keluarga, terutama ketika pencari nafkah mengalami sakit atau meninggal dunia.

Yang tak kalah penting, kata Iwan, pengembangan industri juga membutuhkan ekosistem yang sehat, mulai dari regulasi yang efektif, penguatan kapasitas perusahaan asuransi, hingga peningkatan pemahaman dan perilaku masyarakat.

“Namun saya tekankan, pertumbuhan industri tidak cukup hanya mengandalkan produk dan regulasi. Tetapi, juga memerlukan praktik bisnis yang baik, serta perilaku pelaku industri yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Baca juga : Diskusi Peran DPR dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Di kesempatan yang sama, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy Franto Manik mengatakan, di tengah proyeksi ekonomi yang diperkirakan tetap tumbuh pada 2027, namun hal itu dibarengi dengan berbagai ketidakpastian kondisi global yang juga masih membayangi.

Karena itu, kepercayaan diri masyarakat perlu didukung oleh fondasi perlindungan yang kuat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko dalam perjalanan hidup ke depannya.

“Dalam hal ini, asuransi, khususnya FWD memiliki peluang untuk berperan lebih besar dalam membantu masyarakat meningkatkan kepercayaan diri, melalui perlindungan yang memadai untuk menghadapi berbagai risiko di masa mendatang,” kata Rudy.

Selain memahami risiko yang ada, Rudy menilai, masyarakat juga perlu melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan yang dapat terjadi.

“Jadi, masyarakat perlu memahami kondisi keuangannya, melakukan perencanaan dengan baik, serta memilih perlindungan yang sesuai kebutuhan,” katanya.

Selama ini, Rudy menyebut pihaknya kerap melakukan studi dan diskusi dengan nasabah. Hasilnya menunjukkan, bahwa kepercayaan atau trust menjadi elemen paling penting bagi masyarakat dalam mengambil keputusan keuangan.

Baca juga : Perayaan HUT ke-56 Jamkrindo

“Selain kepercayaan, reputasi lembaga keuangan juga menjadi prioritas. Nasabah juga semakin mempertimbangkan perusahaan yang benar-benar memahami kebutuhan mereka,” tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Ekonom Senior Agus Prasetyantoko menerangkan, dunia usaha saat ini menghadapi tantangan yang semakin meningkat di tengah tingginya ketidakpastian global.

Salah satu sumber ketidakpastian tersebut, kata dia adalah harga minyak dunia yang masih tinggi akibat krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Kondisi ini membuat pelaku usaha sulit memprediksi kapan harga minyak akan turun, mengingat pergerakannya tidak hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Tetapi juga dipengaruhi persoalan geopolitik yang lebih luas," kata Agus.

Oleh karena itu, diperlukan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan mendasar yang menjadi sumber ketidakpastian tersebut.

“Penyelesaian satu masalah diharapkan dapat memberikan efek berantai (spillover effect) yang turut membantu mengatasi persoalan ekonomi lainnya,” ujar Agus.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.