Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Gempa M5,4 Guncang Pulau Karutung Sulawesi Utara, Tidak Berpotensi Tsunami
- Hasil Liga Italia: Lazio Pesta Gol, Roma dan Como Ikut Raih Kemenangan
- PSS Sleman Takluk dari Borneo FC, Kartu Merah Jadi Titik Balik
- Persib Vs Melbourne Victory, Ujian Terberat Maung Bandung
- Gempa M5,4 Guncang Gunungkidul Yogyakarta, Tidak Berpotensi Tsunami
Danantara Buka Peluang Mitra Strategis, MIND ID Perkuat Hilirisasi Nikel
Rabu, 28 Oktober 2026 10:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Danantara Indonesia mendorong pengembangan industri hilir nikel melalui kemitraan investasi dengan investor strategis dari berbagai negara.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai industri, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.
Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan, melalui Danantara Investment Management (DIM), pihaknya dapat mencari mitra yang memiliki keahlian untuk mengembangkan fasilitas produksi dan berinvestasi bersama di Indonesia.
Pahala mencontohkan, upaya hilirisasi yang dilakukan MIND ID Group melalui sejumlah entitasnya, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Ketiga entitas tersebut menjalankan pengembangan industri hilir dengan menggandeng calon investor maupun investor dari berbagai negara.
Baca juga : BSI International Expo 2026 Cetak Transaksi Rp 5,38 Triliun
"Contoh lain adalah yang dilakukan oleh teman-teman di tempatnya MIND ID. Karena kan ini ada Inalum, ada Antam, ada IBC. Mereka dalam hal ini melakukan upaya hilirisasi bermitra dengan calon investor lain atau investor lain yang berasal dari negara lain juga," ujar Pahala dalam BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut Pahala, pengembangan hilirisasi nikel mencakup berbagai tahapan produksi yang saling terhubung, mulai dari pengolahan nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat hingga produksi katoda, sel baterai, dan paket baterai.
Pengembangan rantai produksi tersebut membutuhkan investasi pada berbagai tahapan agar ekosistem industri baterai dapat terbentuk secara terintegrasi.
Bagi MIND ID Group, pengembangan rantai nilai tersebut melibatkan peran sejumlah entitas dengan kegiatan usaha yang saling berkaitan.
Antam memiliki peran dalam sektor pertambangan nikel, sedangkan IBC terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai. Kolaborasi dengan investor strategis menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengembangan industri hilir hingga produk bernilai tambah.
Baca juga : Hilirisasi Mineral MIND ID Perkuat Nilai Tambah dan Ekonomi Indonesia
Pengembangan industri hilir juga menghadapi tantangan dari sisi kebutuhan modal dan kepastian pasokan bahan baku.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menilai, investasi di sektor hilirisasi membutuhkan modal berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan investasi di sektor hulu.
Karena itu, Seto mendukung pemerintah memperkuat keterkaitan kedua sektor menjadi faktor fundamental bagi investor yang ingin masuk ke industri hilir.
Dengan demikian, investasi yang sudah digeolontorkan memberikan manfaat yang sesuai dengan perencanaannya di awal.
"Jadi pertama bagaimana keterkaitan hulu dan hilir ini sebenarnya sesuatu yang sangat fundamental ya. Jadi hulu itu merupakan basis jaminan atau kenyamanan untuk orang melakukan hilirisasi. Kita tahu bahwa investasi di hilirisasi itu berkali-kali lipat besarnya dibandingkan investasi di sektor hulu ya," ujar Seto.
Baca juga : BNI Raih Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik Danantara Indonesia CX100 Award 2026
Salah satu pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia melibatkan Antam, IBC, serta perusahaan asal China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL).
CBL merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend.
Total investasi proyek ekosistem baterai terintegrasi tersebut mencapai US$5,9 miliar atau setara Rp96,04 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.278 per dolar AS.
Pengembangan proyek ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai industri baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya