Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pembinaan Atlet Muda
- Persija Alihkan Fokus ke Persiapan Musim 2026/2027
- Pramono Siapkan 1.000 Mushaf Al-Quran Untuk Peringatan ke 500 Tahun Kota Jakarta
- KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim SAR Evakuasi Penumpang
- Shin Tae-yong Fokus Benahi Fisik dan Taktik Persija
Menhut: SRAK Gajah Sumatera Harus Jadi Aksi Nyata, Bukan Sekadar Dokumen
Rabu, 12 Agustus 2026 21:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar menjadi dokumen.
Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan populasi sekaligus habitat Gajah Sumatera.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meluncurkan SRAK Gajah Sumatera di Kantor Kemenhut, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Peluncuran tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Gajah Sedunia. Raja Juli mengatakan, SRAK harus menjadi pedoman yang benar-benar dijalankan untuk melindungi Gajah Sumatera.
Baca juga : Ancaman Serius Gajah Sumatera, Pakar IPB: Populasi Anjlok Lebih Dari 70%
Menurutnya, konservasi gajah tidak hanya membutuhkan pendekatan rasional, tetapi juga kepedulian terhadap makhluk hidup.
“Kita bareng-bareng kawal nih, supaya dia tidak menjadi dokumen yang hanya bersifat teoritis, tapi ini executable ya. Bisa dieksekusi di bawah, konsisten, istiqomah ya, untuk menjalankan strategi ini. Terus kita bekerja sama demi memperbaiki populasi ini, populasi dan habitat Gajah Sumatera dan Kalimantan,” ujar Raja Juli.
Menurut Raja Antoni, tantangan konservasi gajah semakin berat. Dari sebelumnya terdapat sekitar 42 kantong gajah, kini jumlahnya disebut tinggal 21 kantong.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat rencana aksi konservasi yang tertuang dalam SRAK.
Baca juga : Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Apa Saja yang Harus Dipenuhi?
Raja Juli juga menyebut, Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen konkret dalam upaya konservasi, terutama terhadap populasi dan habitat Gajah Sumatera.
Komitmen tersebut, kata dia, antara lain diwujudkan melalui dimulainya proyek PECI (Peusangan Elephant Conservation Initiative) di Aceh serta terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2026 tentang Percepatan Perlindungan dan Penyelamatan Populasi serta Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan.
“Bapak Presiden Prabowo beliau punya pesan yang sama dengan kita, saya merasa sangat konkret sekali terutama untuk gajah ini ya. Pertama ada inisiatif di Peusangan Aceh ya, yang sudah berjalan dengan teman-teman WWF luar biasa. Kemudian dalam perjalanannya kita minta Inpres, terbit Inpres ini, beliau sangat mendukung,” ujar Raja Juli.
Selain itu, pemerintah mendorong penguatan upaya koeksistensi antara manusia dan gajah di Way Kambas. Salah satunya melalui pembangunan pagar sepanjang lebih dari 100 kilometer untuk mengurangi konflik yang selama ini menimbulkan kerusakan sawah dan perkebunan hingga korban jiwa.
Baca juga : Kemenhut Bongkar Modus Jual Beli Kawasan Hutan Lindung Luwu Timur, 3 Ditangkap
Raja Juli menegaskan, keberhasilan pelaksanaan SRAK membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, korporasi, lembaga swadaya masyarakat (NGO), hingga para pegiat konservasi.
Ia berharap, implementasi SRAK dapat memperbaiki populasi sekaligus habitat Gajah Sumatera dan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat konservasi satwa di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya