Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kecelakaan Kapal Berulang, Komisi V DPR Tagih Janji Evaluasi Menyeluruh
- Bidik Ekspor CPO 25 Persen, PTPN IV PalmCo-Kemendag Siap Tembus Pasar Global
- Pascainsiden KMP Batumandi, ASDP Pastikan Layanan Express 1 Kembali Normal
- Pertamina Patra Niaga Raih ESG NOW Awards 2026 Berkat Inovasi SAGARI
- BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Deposit Facility Naik Jadi 5%
Perayaan Hari Batik Nasional 2026
Bakul Budaya Nusantara dan FIB UI Angkat Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal
Selasa, 20 Oktober 2026 20:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bakul Budaya Nusantara (BBN) menggelar bincang-bincang budaya bertajuk “Jejak R.A. Kardinah di Batik Tegal”, di Auditorium Benny H. Hoed, Gedung X Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026. Setiap 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Peringatan ini bertepatan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009.
Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama BBN dengan FIB UI, serta didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan.
Bincang-bincang ini menelusuri jejak R.A. Kardinah dalam perkembangan batik Tegal, Jawa Tengah. Lahir pada 1 Maret 1881 di Jepara, Jawa Tengah, Kardinah merupakan salah seorang adik Pahlawan Nasional R.A. Kartini sekaligus putri R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Tak hanya dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan dan pemberdayaan kaum perempuan, Kardinah juga mengajarkan keterampilan membatik. Upaya tersebut turut mewarnai perkembangan kebudayaan di Tegal.
Peserta bincang-bincang berasal dari beragam kalangan, dari pegiat budaya, mahasiswa, pelajar, masyarakat umum, hingga akademisi. Kaum muda tampak mendominasi, tertib dalam balutan busana batik sebagai dress code.
Sejumlah tamu undangan turut hadir. Di antaranya Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Judi Wahjudin serta Dekan FIB UI Untung Yuwono.
Hadir pula Kasubid Promosi dan Anjungan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan Irisandy Winata Nasution, Ketua Program Studi Kriya Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta Tri Wahyuni, Guru Besar Program Studi Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Jakarta Prof. Wesnina, serta Kepala Seksi Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Depok Hafiza Aryaputri.
Sebelum memasuki ruang bincang-bincang, peserta dapat singgah di Pojok Literasi R.A. Kardinah. Di sini, perjalanan Kardinah disajikan melalui biografi singkat, linimasa dari kelahiran hingga wafat, silsilah keluarga, serta arsip foto. Sejumlah literatur ilmiah dan buku turut menjadi pelengkap sudut literasi, membuka kesempatan agar peserta mengenal Kardinah melalui sumber-sumber tertulis.
Dua di antaranya adalah buku "Tiga Saudara" karya Kardinah Reksonegoro, yang diperbanyak oleh Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Rembang serta "Kardinah: Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan (1881–1971)" karya Yono Daryono, budayawan asal Tegal.
Bersisian dengan Pojok Literasi, ada gerai kain batik Tegal yang juga mencuri perhatian peserta. Kain-kain batik tulis, batik cap, dan caplis (kombinasi cap-tulis) tersaji dengan beragam corak dan warna. Tak sedikit peserta singgah untuk melihat lebih dekat, bahkan memilih kain untuk dibeli. Lewat gerai ini, BBN turut mempertemukan karya perajin lokal dengan masyarakat yang ingin mengenal batik Tegal lebih dekat.
Merawat Warisan Budaya dengan Menghargai Jejak Setiap Tokoh
Baca juga : Dubes RI Untuk Kanada Muhsin Syihab Pamer Keindahan Batik Melalui Fashion Show
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan “Indonesia Raya” dalam tiga stanza, dilanjutkan dengan “Mars Bakul Budaya Nusantara”. Acara lalu berlanjut ke sambutan para perwakilan penyelenggara dan mitra yang menekankan pentingnya mengenalkan warisan budaya serta mengangkat tokoh-tokoh yang berkontribusi di dalamnya.
Ketua Umum Yayasan Bakul Budaya Nusantara Dewi Fajar Marhaeni mengatakan, batik Tegal menyimpan kekayaan budaya lokal yang perlu dipopulerkan agar masyarakat semakin mengenal keragaman batik di Indonesia.
“Merawat budaya dan kebanggaan terhadap batik berawal dari mengenalnya, karena di balik selembar kain terdapat sejarah, pengetahuan, cerita, lambang, dan penggambaran suatu daerah. Dengan mengenal lebih dalam, kami berharap masyarakat luas dapat mengenal Batik Tegal yang mempunyai sejarah panjang yang di dalam perkembangannya ada sosok R.A. Kardinah yang tidak hanya seorang visioner, melainkan juga seorang praktisi pendidikan dan kemanusiaan,” tutur Dewi.
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Untung Yuwono.
Untung Yuwono mengapresiasi inisiatif BBN dalam mengangkat sosok R.A. Kardinah. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan upaya FIB UI untuk memberi perhatian kepada tokoh-tokoh yang kerap disebut sebagai seniman “lapis kedua”, seperti Bokir dan Mpok Nori, yang sebelumnya pernah diangkat oleh FIB UI.
“Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menggandeng Bakul Budaya Nusantara akan mengedepankan tokoh-tokoh yang mungkin belum dikenal oleh masyarakat, tapi luar biasa jasanya. Sehingga siapapun yang berjasa bagi bangsa Indonesia bisa terangkat,” ujar Untung.
Sementara itu, Judi Wahjudin, S.S., M.Hum. menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan. Ia berharap kegiatan kebudayaan dapat melibatkan seluruh lapisan masyarakat agar ekosistem kebudayaan tetap terjaga.
“Kebudayaan adalah milik semua. Rohnya itu (kebudayaan) adalah gotong-royong dan saling melengkapi, saling menguatkan,” ucap Judi.
Menelusuri Kehidupan dan Perjuangan R.A. Kardinah
Usai sambutan, perbincangan beralih ke dua hal yang menjadi inti kegiatan: perjalanan hidup R.A. Kardinah dan jejaknya dalam perkembangan batik Tegal.
Dwi Mulyatari (kiri), dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, mengulas sosok R.A. Kardinah, didampingi oleh moderator Wanda Alifya Tejomoyo (tengah) dan narasumber lainnya, Notty J. Mahdi, antropolog lulusan UI dan periset batik.
Dwi Mulyatari, dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, mengulas sosok Kardinah serta kiprahnya dalam kehidupan sosial masyarakat Tegal pada masa penjajahan Hindia Belanda hingga akhir hayatnya. Di sisi lain, Notty J. Mahdi, antropolog lulusan Universitas Indonesia sekaligus periset batik, mengajak peserta menelusuri jejak Kardinah dalam perkembangan batik Tegal. Perbincangan dipandu oleh perancang busana Wanda Alifya Tejomoyo.
“Karena begitu dekat, Kardinah bersama Kartini dan Rukmini dikenal sebagai Tiga Saudara atau Daun Semanggi Berkelopak Tiga,” ujar Dwi.
Baca juga : Lestari: Hari Batik Harus Jadi Momentum Sejahterakan Perajin Dan Jaga Regenerasi
Ketiganya punya kepedulian terhadap hak perempuan. Dwi menjelaskan, Kardinah banyak terinspirasi oleh Kartini dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan Jawa. Seperti sang kakak, Kardinah juga gemar melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan pengetahuan umum. Wafatnya Kartini pada 1904 membuat Kardinah bersama Rukmini melanjutkan perjuangan itu.
Kepedulian Kardinah terhadap masyarakat juga tumbuh dari pengalaman masa kecilnya bersama sang ayah. Dalam kunjungan ke desa-desa, ia berkesempatan melihat kehidupan rakyat dari dekat, termasuk persoalan kesehatan, kebersihan lingkungan, dan kesulitan yang muncul akibat bencana.
Menurut Dwi, pengalaman ini turut membentuk kesadaran sosial Kardinah untuk berbuat bagi masyarakat. Di Tegal, kepedulian itu diwujudkan melalui pendirian Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranawa untuk pendidikan perempuan dan Kardinah Ziekenhuis sebagai balai pengobatan bagi masyarakat miskin.
Jejak Kardinah dalam Kain Batik Tegal
Jejak Kardinah juga hadir dalam kain batik yang dikenakan Notty J. Mahdi pada kesempatan itu. Kain tersebut menyimpan kisah personal yang menghubungkan Notty dengan peninggalan Kardinah.
“Jadi, saya sekarang berkesempatan pamer,” ujar Notty, diikuti iringan tawa mereka yang hadir.
“Ini kain tahun 70-an kata Ibu saya, beberapa bulan sebelum Kardinah meninggal. Karena dia perlu uang untuk pengobatan, dia jual ke ibu saya,” sambung Notty.
Notty J. Mahdi (kiri), antropolog lulusan UI yang juga periset batik, sedang memberi penjelasan tentang motif sekar jagat yang sedang dibentangkan oleh moderator, Wanda Alifya Tejomoyo.
Ia menunjukkan motif kupu-kupu khas Lasem yang terlukis pada lembar kain batik tersebut. Motif itu mengantarkan pembahasan pada kecintaan Kardinah terhadap batik Lasem.
Menurut Notty, pengaruh Lasem juga terlihat pada ragam batik yang dibawa Kardinah ke Tegal, mulai dari warna merah darah dan sogan hingga motif bunga dan Burung Hong yang dilengkapi isen-isen watu pecah dan tumbar bolong.
Dalam sesi tersebut, Notty juga menghamparkan sejumlah kain batik Tegal sembari menjelaskan filosofi di balik motifnya. Salah satunya adalah motif watu pecah, yang dikaitkan dengan penderitaan rakyat saat kerja paksa pembangunan Jalan Raya Anyer–Panarukan pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Motif ini dimaknai sebagai ungkapan protes atas beratnya pekerjaan memecah batu besar menjadi bagian-bagian kecil.
Notty juga menjelaskan filosofi motif Sekar Jagad yang mengingatkan pemakainya akan berbagai sisi kehidupan.
Baca juga : Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
“Kenapa namanya Sekar Jagad? Karena di dalamnya ada sifat manusia. Kalau kita pakai ini, kita diingatkan pada sifat kita, hubungan vertikal dan horizontal, kita dengan sesama, kita dengan Gusti Allah. Kita juga harus mencari makan, harus kerja. Semuanya ada di sini,” tutur Notty.
Parade Kain Batik: Tak Tegal, Maka Tak Sayang
Sesi berikutnya menghadirkan Parade Kain Batik bertajuk “Tak Tegal, maka Tak Sayang”, yang diperagakan oleh anggota BBN, yakni Nisrin Rubina, Mery Wahyuningsih, Priska Endang Kusumandani, Roro Wiwien S., dan Anggun Tara F. Diiringi narasi, parade ini mengajak peserta tak sekadar menikmati keindahan kain, tapi juga memahami filosofi di balik motif dan warna yang ditampilkan.
Enam helai kain batik diperagakan--Batik Parang, Udan Liris Gurdo, Kawung Jenggot, Kawung, Gribig Irengan, dan Jo Ijo, mencerminkan kekayaan batik Tegal yang tumbuh dari perjumpaan beragam kebudayaan.
Pakem Mataraman berpadu dengan corak pesisiran dan sentuhan Peranakan Tionghoa, terlihat dalam ragam motif serta warna. Pengaruh Amangkurat I hadir melalui warna hitam dan sogan, sementara perjumpaan dengan pedagang Eropa, Tiongkok, dan muslim turut memperkaya ragam hias batik Tegal.
Dalam perkembangannya, Kardinah turut meninggalkan jejak melalui motif dan warna yang mendapat pengaruh dari batik Lasem. Perpaduan berbagai pengaruh tersebut membentuk kekhasan batik Tegal sekaligus memperlihatkan buah cipta dan pemikiran Ibu Kardinah dalam mengembangkan warisan budaya tanah kelahirannya.
Di penghujung parade, Chitaria Noeswantoro Poetri, selaku narator sekaligus MC acara, mengajak peserta kembali mengingat sosok Kardinah dalam setiap helai kain batik yang diperagakan.
“Demikianlah batik dari Tanah Tegal membawa kita kembali pada ingatan tentang Ibu Kardinah. Bagaimana jika setiap helai kain yang terbentang di hadapan kita adalah cara Ibu menyapa, menitipkan pesan agar batik sebagai warisan sejarah terus hidup?” tutup Chitaria.
Parade ini membawa kita pada satu hal: batik bukan hanya untuk dikenakan, melainkan juga dicintai. Dan, tak ada cara mencintai yang lebih baik selain dengan memahaminya. Setiap motif menyimpan cerita dan setiap cerita memberi alasan untuk tetap merawatnya.
Notty J. Mahdi mengungkapkannya dengan sederhana, “Don’t use printing because it has no soul, no story”.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya