Dark/Light Mode

Operasi Katarak, JEC Dorong Pasien Pikirkan Quality of Vision Bukan Hanya Bebas Kabut

Rabu, 30 September 2026 11:20 WIB
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM. (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM. (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Operasi katarak selama ini identik dengan satu tujuan: mengembalikan penglihatan yang buram. Namun, kebutuhan pasien kini berkembang.

Setelah mata kembali jernih, muncul pertanyaan berikutnya: seberapa baik penglihatan itu bisa dipakai untuk menjalani aktivitas sehari-hari?

Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi 81,2 persen.

Dari 23,35 juta peserta skrining Cek Kesehatan Gratis 2025-2026, sebanyak 2,95 juta orang teridentifikasi mengalami gangguan mata.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 94 juta orang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat atau kebutaan akibat katarak.

Di tengah kondisi tersebut, teknologi operasi katarak terus berkembang. Pilihan lensa juga semakin beragam. JEC Eye Hospitals and Clinics menilai keberhasilan operasi katarak kini perlu dilihat lebih luas. Bukan cuma soal menghilangkan lensa yang keruh, tetapi juga kualitas penglihatan setelah operasi atau quality of vision.

Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM, mengatakan pasien saat ini tetap memiliki banyak aktivitas meski sudah memasuki usia lanjut.

Mulai bekerja, membaca, menggunakan perangkat digital, berkendara hingga bepergian.

Baca juga : BULOG-Kodam Tambun Bungai Operasi Katarak Gratis 100 Warga

“Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari,” ujar Dr. Milzan saat Media Briefing JEC Eye Hospitals & Clinics dengan tema "Dari Clear Vision Menuju Quality of Vision, Memahami Perkembangan Penanganan Katarak" di Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Dia menegaskan, kebutuhan setiap pasien berbeda. Karena itu, pemeriksaan mata dan konsultasi menjadi bagian penting sebelum menentukan metode operasi maupun jenis lensa yang akan digunakan.

Jangan Tunggu Sampai Aktivitas Terganggu

Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih berubah menjadi keruh. Penglihatan pun bisa menjadi buram seperti berkabut, mudah silau, hingga warna terlihat lebih kekuningan.

Usia memang menjadi faktor paling umum. Tetapi bukan satu-satunya. Diabetes, riwayat trauma atau operasi mata, penggunaan obat tertentu, hingga faktor genetik juga perlu diperhatikan.

“Katarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Karena itu, pemeriksaan mata penting untuk memahami kondisi setiap pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat faktor usia,” ujar Milzan.

Ketika katarak semakin berkembang, aktivitas sederhana pun bisa terganggu. Membaca menjadi sulit. Melihat dalam cahaya redup terganggu.Berkendara tidak lagi nyaman.

Mengenali lingkungan sekitar pun bisa menjadi masalah. Karena itu, menurut Milzan, yang penting bukan semata-mata apakah seseorang memiliki katarak atau tidak. Yang harus dilihat adalah seberapa besar katarak tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas sehari-hari.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien,” katanya.

Teknologi Laser Jadi Andalan

Baca juga : JEC Raih Top Brand Award 2026, Perkuat Komitmen Layanan Kesehatan Mata Tepercaya

Dalam operasi katarak, lensa mata yang keruh diangkat dan diganti dengan lensa intraokular atau intraocular lens (IOL). Perkembangan teknologi membuat proses operasi semakin presisi.

Salah satunya Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang tersedia di JEC. Teknologi ini menggunakan laser femtosecond untuk membantu sejumlah tahapan operasi.

Mulai membuat insisi hingga bukaan kapsul lensa secara lebih presisi dan konsisten. FLACS juga membantu memecah lensa yang keruh sebelum diangkat. Dengan begitu, penggunaan energi ultrasonik dapat dikurangi.

Tak cuma teknologinya yang berkembang. Pilihan lensa tanam pun semakin banyak. Ada lensa multifokal yang mendukung penglihatan jauh, menengah, dan dekat. Pilihan ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kacamata untuk berbagai aktivitas.

Ada pula lensa EDOF atau Extended Depth of Focus. Lensa ini memberikan rentang penglihatan jauh, menengah, dan dekat, dengan manfaat lebih dominan pada jarak menengah, misalnya saat menggunakan komputer atau melihat dashboard kendaraan.

Sementara lensa monofokal memiliki satu titik fokus, umumnya untuk jarak jauh. Pasien biasanya masih membutuhkan kacamata untuk aktivitas pada jarak lainnya.

Bagi pasien dengan astigmatisme atau mata silinder, tersedia lensa Toric. Lensa ini dapat dikombinasikan dengan lensa monofokal, EDOF, maupun multifokal.

Meski pilihan semakin banyak, Milzan mengingatkan pasien tidak bisa asal memilih lensa. Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua orang.

Baca juga : BAZNAS Salurkan Bantuan Operasi Katarak Rp 202 Juta Bagi Mustahik Di Bandung

Dokter harus melihat kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, hingga ekspektasi pasien terhadap penggunaan kacamata setelah operasi.

“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien,” ujar Milzan. 

Karena itu, konsultasi menjadi penting sebelum tindakan. Pasien perlu memahami pilihan yang tersedia sekaligus konsekuensinya sesuai kondisi mata dan kebutuhan aktivitas.

Perkembangan teknologi tersebut membuat ukuran keberhasilan operasi katarak ikut berubah. Dulu, fokus utamanya mengangkat lensa yang keruh. Kini, perhatian juga diarahkan pada kualitas penglihatan yang dapat menunjang mobilitas dan kemandirian pasien.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan JEC sejak 1984. Selama lebih dari empat dekade, JEC mengembangkan layanan kesehatan mata berbasis teknologi diagnostik dan bedah.

Saat ini, JEC memiliki 16 fasilitas di sembilan kota. Ekspansi layanan juga berlanjut melalui pengembangan JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur serta persiapan fasilitas baru di Tangerang, Banten, dan Kediri, Jawa Timur.

Pengembangan tersebut melengkapi layanan klinis JEC, termasuk FLACS dan beragam pilihan IOL. Namun, Milzan menegaskan teknologi bukan satu-satunya pusat perhatian.

“Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,” ujar Milzan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.