Dark/Light Mode

Refleksi Kepemimpinan Presiden: Kemandirian Energi, Fondasi Kedaulatan Indonesia

Sabtu, 17 Oktober 2026 19:48 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Foto : Biro Pers Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo Subianto. (Foto : Biro Pers Sekretariat Presiden)

Bangsa yang besar harus mampu menentukan masa depannya sendiri. Di tengah ketidakpastian geopolitik, persaingan ekonomi, dan gejolak harga energi dunia, kemandirian energi merupakan keharusan strategis untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan bangsa.

Indonesia memiliki sumber energi yang beragam, mulai dari tenaga air, batu bara, minyak bumi, gas alam, panas bumi, tenaga surya, hingga bioenergi. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya menjamin ketahanan energi nasional. Kebutuhan minyak mentah Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan produksi nasional sehingga sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM harus dipenuhi melalui impor.

Kondisi ini membuat ketahanan energi Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, gangguan rantai pasok global, fluktuasi harga minyak dunia, serta kebijakan negara-negara produsen energi. Tantangan lainnya adalah penurunan alamiah produksi migas dalam negeri, keterbatasan kapasitas pengolahan, serta kebutuhan investasi dan teknologi yang besar.

Berdasarkan capaian tahun 2025, bauran energi primer nasional masih didominasi batu bara sekitar 41%, minyak bumi 28%, gas bumi 15%, dan energi baru terbarukan sekitar 16%. Di sektor kelistrikan, tenaga air menjadi salah satu andalan energi terbarukan, bersama panas bumi, bioenergi, dan tenaga surya.

Baca juga : Pras Beri Suntikkan Semangat Untuk Tim Slalom Indonesia Di Hong Kong

Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan energi yang besar, tetapi masih perlu mengoptimalkan pemanfaatannya secara terpadu, efisien, dan berkelanjutan. Pengurangan ketergantungan impor harus dilakukan melalui peningkatan produksi, penguatan kapasitas pengolahan, diversifikasi sumber energi, serta percepatan pemanfaatan energi alternatif.

Agenda kemandirian energi menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional saat ini. Visi ini diwujudkan melalui peningkatan produksi migas, pengembangan kapasitas kilang, optimalisasi batu bara dan gas bumi, serta percepatan energi terbarukan. Ke depan, Presiden Prabowo menempatkan energi rendah karbon sebagai titik berat kebijakan energi Indonesia, termasuk melalui pemanfaatan tenaga nuklir secara aman, bertahap, dan bertanggung jawab, guna mendukung pencapaian Indonesia menuju zero carbon emission pada 2060 bahkan untuk batu bara targetnya tahun 2050 tdk digunakan lagi.

Modernisasi Kilang Balikpapan, penguatan program biodiesel yang kini telah menjadi B50 di seluruh Indonesia, pengembangan bioetanol melalui penerapan E10, serta pemanfaatan sustainable aviation fuel (SAF) atau avtur dari jelantah dengan target awal 1% merupakan langkah nyata untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.

Pertamina memiliki peran strategis dalam mendukung agenda tersebut. Peran itu diwujudkan melalui peningkatan produksi migas, penguatan infrastruktur pengolahan, distribusi BBM dan LPG ke seluruh Nusantara, serta pengembangan energi alternatif. Upaya ini mendorong Pertamina menjadi perusahaan energi yang semakin efisien, profesional, dan berdaya saing global.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Optimalkan Operasional Penyaluran BBM

Meski demikian, implementasi agenda kemandirian energi masih menghadapi tantangan besar. Selain penurunan alamiah produksi migas, diperlukan investasi berkelanjutan, penguasaan teknologi, pembangunan infrastruktur, serta koordinasi yang kuat antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat, keberanian mengambil keputusan, konsistensi kebijakan, dan kemampuan mengeksekusinya secara efektif.

Kemandirian energi tidak saja berkaitan dengan produksi atau impor, tetapi juga dengan penguatan ekonomi, peningkatan daya saing industri, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah komoditas nasional.

Penerapan B50, E10, dan SAF 1% menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi serta pengurangan konsumsi bahan bakar fosil berbasis impor. Pada saat yang sama, pengembangan energi rendah karbon, termasuk tenaga nuklir, perlu diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menurunkan emisi secara berkelanjutan.

Energi yang mandiri akan melahirkan ekonomi yang kuat, dan ekonomi yang kuat menjadi fondasi negara yang berdaulat. Karena itu, seluruh elemen bangsa perlu mengambil bagian dalam menjaga efisiensi energi, mendukung inovasi, memperkuat industri nasional, dan memastikan setiap kebijakan energi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga: Penyaluran Kondusif Saat Penerapan Ganjil Genap BBM di Bali

Momentum ulang tahun ke-75 Presiden Prabowo Subianto menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pencapaian hari ini, tetapi juga dari fondasi kokoh yang dibangun bagi generasi mendatang.

Selamat Ulang Tahun ke-75, Bapak Presiden Prabowo Subianto.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam memimpin bangsa menuju Indonesia yang semakin maju, mandiri, sejahtera, dan berdaulat.

Dengan visi yang jelas, kepemimpinan yang kuat, dan kerja nyata seluruh anak bangsa, kemandirian energi bukan sekadar cita-cita, melainkan masa depan Indonesia yang harus kita wujudkan bersama.

Mochamad Iriawan/Iwan Bule
Mochamad Iriawan/Iwan Bule
Komisaris Utama Pertamina

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.