Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Soft Launching Buku, Foke Dukung Penataan Kota Jakarta Terarah dan Berkelanjutan
Senin, 2 November 2026 17:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengingatkan, penataan ruang Ibu Kota tidak boleh terputus hanya karena pergantian kepemimpinan.
Perencanaan kota harus berkesinambungan agar pembangunan Jakarta berjalan terarah.
Pesan tersebut disampaikan Fauzi Bowo saat memperkenalkan buku Perjalanan Penataan Ruang Ibu Kota Jakarta 1965-2012 di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Bintaro Jaya, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Senin (2/10/2026).
Buku yang disusun bersama sejumlah mantan pejabat dan praktisi tata ruang itu merangkum perjalanan kebijakan pembangunan Jakarta selama hampir setengah abad.
Foke sapaan akrab Fauzi mengatakan, buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan atau cerita sejumlah tokoh. Isinya merupakan hasil kerja bersama para pelaku yang terlibat langsung dalam proses perencanaan dan pembangunan Jakarta dari waktu ke waktu.
“Buku ini bukan cerita bunga rampai. Ini merupakan hasil kerja bareng atau teamwork yang tidak hanya sesaat. Perjalanan tata ruang Jakarta memang sudah berlangsung sejak awal dan inilah yang mencerminkan keberhasilan, termasuk berbagai persoalan yang harus kita alami,” ujar Foke.
Menurut dia, salah satu alasan buku tersebut mengambil rentang waktu mulai 1965 adalah karena pada tahun itu Jakarta mulai memiliki master plan atau rencana induk kota.
Sebelumnya, Jakarta telah ditetapkan secara yuridis sebagai Ibu Kota Negara melalui undang-undang pada 1964.
Foke menyebut, Jakarta menjadi daerah pertama di Indonesia yang memiliki rencana induk kota.
Baca juga : Perahu Sampah Plastik Semarakkan CiLung Fest 2026
Dokumen tersebut menjadi titik penting dalam perkembangan perencanaan tata ruang di Tanah Air.
Dia menegaskan, perencanaan tata ruang tidak bisa dibatasi oleh periode kepemimpinan seorang gubernur.
Pengalaman dan kebijakan dari pemerintahan sebelumnya harus menjadi pijakan bagi pemimpin berikutnya.
“Planning tidak mungkin kita sekat-sekat atau tersekat-sekat dengan masa jabatan tersebut. Harus berkesinambungan,” tegasnya.
Pengawasan Jadi Kunci
Dalam paparannya, Foke juga menyoroti pentingnya pengawasan dan pengendalian pembangunan. Menurut dia, rencana tata ruang yang baik tidak akan menjamin hasil sesuai harapan jika tidak disertai pengawasan yang konsisten.
Dia mengingatkan, perjalanan penataan Jakarta menunjukkan proses pembelajaran yang panjang. Pada masa awal pembangunan, aturan tata ruang belum selengkap sekarang.
Bahkan, peraturan perundang-undangan khusus mengenai tata ruang baru terbit pada 1992.
Pengalaman tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kebijakan tata ruang berkembang melalui proses evaluasi dan pembelajaran.
Foke juga menyinggung pengaturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).
Baca juga : August Hamonangan: Jangan Sampai Bebani Warganya Di Masa Depan
Menurut dia, peningkatan intensitas pembangunan, termasuk penambahan ketinggian gedung, harus mempertimbangkan kesiapan infrastruktur pendukung.
Kesiapan energi, lalu lintas, pengelolaan limbah, utilitas, dan transportasi harus menjadi dasar dalam menentukan kapasitas pembangunan suatu kawasan.
“Base-nya adalah kesiapan utilitas kita. Energi traffic, limbah buangan, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Dia mengingatkan, pembangunan vertikal maupun pertumbuhan ekonomi Jakarta harus diimbangi pengendalian yang memadai.
Tanpa pengawasan, perkembangan kota berisiko memunculkan kawasan yang semakin padat dan mengurangi ruang terbuka serta kualitas hidup warga.
Jakarta Harus Dipandang Regional
Sejak 1970-an, perencanaan juga mulai diarahkan dalam skala regional melalui konsep Jabotabek, saat itu Depok masih menjadi bagian Bogor.
Menurut Foke persoalan perkotaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat batas administrasi Jakarta karena aktivitas dan kebutuhan masyarakat telah terhubung dengan wilayah sekitarnya.
Namun, dia menilai, hingga kini masih dibutuhkan respons yang lebih efektif untuk mengatasi hambatan koordinasi antardaerah dalam perencanaan kawasan metropolitan.
Dia berharap, buku tersebut menjadi sumber pembelajaran bagi para perencana dan pengambil kebijakan di berbagai daerah.
Baca juga : Produk Betawi Online Gallery Tembus Pasar Global
Dokumentasi perjalanan tata ruang Jakarta juga diharapkan dapat menjadi basis pengetahuan untuk mendukung pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence dalam perencanaan kota pada masa depan.
Foke mengakui, buku tersebut masih memiliki kekurangan dan terbuka terhadap masukan dari para pakar maupun pembaca.
Dia berharap generasi penerus dapat melanjutkan perjalanan penataan Jakarta dengan tetap belajar dari pengalaman masa lalu.
Diseminasi buku yang ditulis oleh tujuh tokoh yang terdiri dari Foke, Ery Chayaridipura, Nurfakih Wirawan, Sarwo Handayani, Aisa Tobing, Priyadi Priyautama dan Bayu Wirawan ini juga diisi diskusi panel yang menghadirkan sejumlah pakar tata ruang nasional.
Mereka antara lain Prof. Gunawan Tjahyono dari Universitas Indonesia (UI), Dr. Oswar Mungkasa dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Dr. Ing. Heru Poerbo dari Pusat Studi Urban dan Desain (PSUD) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hadir pula Dr. Yayat Supriyatna dari Universitas Trisakti serta Dr. Phil. Hendricus Andy Simarmata dari Ikatan Ahli Perencanaan (IAP).
Diskusi dimoderatori Ade Tinamei, Ph.D dari PSUD-ITB. Diskusi tersebut membedah isi buku sekaligus membahas berbagai pelajaran dari perjalanan penataan ruang Jakarta untuk menentukan arah pembangunan kota ke depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya