Dark/Light Mode

Berkah Hujan Turun, Titik Karhutla Tersisa 742 Hektare

Rabu, 4 November 2026 08:10 WIB
Foto: Kemenhut
Foto: Kemenhut

RM.id  Rakyat Merdeka - Guyuran hujan mulai membawa berkah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Luas lahan terbakar secara nasional kini tersisa 742 hektare. Namun, bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah berpotensi masih menjadi ancaman.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, kebakaran tersebut tersebar di sejumlah provinsi. Kalimantan Tengah dan Papua Selatan menjadi wilayah dengan luasan terbesar.

"Secara nasional kami bisa menyampaikan ada 742 hektare lahan terbakar," kata Berton, Selasa (3/11/2026).

Berton merinci, Kalimantan Tengah mencatat luas lahan terbakar 351 hektare. Angka tersebut turun 42 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Selanjutnya, Papua Selatan mencatat 253 hektare atau turun 56 persen. Sulawesi Tenggara mencapai 95 hektare atau berkurang 63 persen.

Sementara itu, luas lahan terbakar di Nusa Tenggara Timur mencapai 16 hektare atau turun 36 persen. Adapun Kalimantan Barat mencatat 19 hektare dan Bangka Belitung delapan hektare.

Berton mengungkapkan, sebelumnya tidak ditemukan laporan kebakaran di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung. Namun, pada Senin (2/11/2026), titik api kembali ditemukan di kedua wilayah tersebut.

Baca juga : Cuaca Besok Di Jakarta Rabu (4/11), Info BMKG: Mayoritas Wilayah Basah

Kondisi ini menunjukkan, hujan belum sepenuhnya menghilangkan ancaman karhutla. Sebab, bara api masih bisa bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali menyala ketika kondisi memungkinkan.

"Artinya untuk Kalimantan maupun tempat lain, walaupun musim hujan, masih berpotensi terjadi titik-titik api baru mengingat api atau bara api yang ada di bawah permukaan masih belum 100 persen padam akibat hujan yang sudah terjadi akhir-akhir ini," tuturnya.

Untuk mencegah kebakaran meluas, BNPB terus mengerahkan personel ke lokasi terdampak guna melakukan pemadaman dan pendinginan. Armada udara juga disiagakan untuk membantu penanganan apabila muncul titik api baru.

BNPB menyiapkan total 54 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 22 armada digunakan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 30 helikopter disiapkan untuk pemadaman melalui metode water bombing. Armada tersebut disiagakan di sejumlah wilayah.

"Kita lihat ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi dan Riau tetap ada standby atau dalam keadaan siap siaga ketika nanti pesawat ini dibutuhkan untuk keperluan yang ketika ada titik api ataupun memang diperlukan untuk melakukan modifikasi cuaca," jelasnya.

Dukungan udara juga disiapkan di Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. Berton menegaskan, kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemunculan titik api baru, termasuk di daerah yang mulai diguyur hujan.

Meski kebakaran mulai mereda, ancamannya belum sepenuhnya berakhir. Bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan lahan gambut berpotensi memicu titik api baru, sekalipun hujan mulai turun.

Baca juga : Buka Data Konsesi, RSPO Tegaskan Komitmen Tangani Karhutla

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat, jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi justru meningkat. Hingga Senin (2/11/2026) pukul 21.00 WIB, jumlahnya mencapai 189 titik atau bertambah 89 titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan, kenaikan tersebut tidak terjadi di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Di wilayah tersebut, jumlah hotspot justru turun dari 34 menjadi 31 titik.

"Kalimantan Tengah mencatat 19 hotspot, Jambi sembilan titik, dan Kalimantan Selatan tiga titik. Sementara itu, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau nihil hotspot," beber Ristianto, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, kenaikan hotspot nasional tetap perlu dicermati. Namun, indikasi panas yang terdeteksi satelit tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Temuan tersebut harus diverifikasi melalui pemeriksaan di lapangan.

Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut pada 2 November, operasi pemadaman masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, petugas masih menemukan kepulan asap dari lahan gambut. Kondisi serupa terjadi di Jabiren dan sejumlah lokasi di Palangka Raya yang masih menyisakan api maupun asap.

Sementara itu, kebakaran di Pematang Kambat, Seruyan, serta Pasir Panjang, Kotawaringin Barat, telah berhasil dipadamkan. Di Pasir Putih, Kotawaringin Timur, petugas masih melakukan pemadaman di sekat batas dan pendinginan pada titik yang mengeluarkan asap.

Baca juga : PKSS Salurkan Masker dan Susu untuk Dinkes Kalteng

Di Jambi, kebakaran di Desa Terusan, Kabupaten Batang Hari, juga berhasil dipadamkan. Hujan berintensitas tinggi selama sekitar 30 menit di lokasi turut membantu proses pemadaman.

Sementara itu, BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah pada Rabu (4/11/2026). Wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Potensi hujan serupa diperkirakan berlanjut pada Kamis (5/11/2026). Peringatan dini mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

"Kendati kekeringan masih melanda, cuaca ekstrem berupa hujan lebat tetap membayangi sejumlah daerah lain," tulis BMKG dalam keterangannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.