Dark/Light Mode

Dari Limbah Jerami Menjadi Sumber Ekonomi

Rabu, 21 Oktober 2026 21:01 WIB
M QORI HALIANA / RM
Penggerak Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, Deden Junaedi (kiri), menimbang jerami milik warga di Desa Pasirtanjung, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Penggerak Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, Deden Junaedi (kiri), menimbang jerami milik warga di Desa Pasirtanjung, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Selama bertahun-tahun, wilayah Desa Pasirtanjung di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, selalu dihiasi jelaga hitam. Setiap tahun, sekitar 2.450 ton jerami dibakar begitu saja di atas tanah-tanah sawah. Asap pekat tidak hanya mengepung paru-paru warga, tetapi juga menguapkan potensi ekonomi yang terkandung di dalam limbah pertanian tersebut. Di balik kepulan asap itu, ada realitas sosial yang tak kalah menghimpit, yakni ketimpangan ekonomi warga rentan, ketiadaan akses air bersih, hingga ketergantungan pada tengkulak dan "Bank Emok" sebutan lokal untuk rentenir keliling berkedok pinjaman informal bertarif bunga tinggi.

Namun, kondisi desa ini perlahan bergeser. Melalui program Desa Energi Berdikari Prakarsa Bagja Juara yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga Regional JBB bersama Fuel Terminal Cikampek sejak 2022, kondisi sosial-ekonomi Pasirtanjung mulai menemukan wajah barunya. Lensa tak lagi merekam kepulan asap pembakaran liar, melainkan dinamika ekonomi sirkular yang mengaitkan ekosistem desa dari hulu ke hilir.

Mekanisme sirkular ini bermula langsung dari petak sawah pascapanen melalui skema inovatif Bank Jerami. Jerami yang dulu dianggap beban dan dibakar, kini dikumpulkan oleh para pemilik sawah maupun buruh tani untuk disetorkan. Sesuai dengan volume jerami yang dikumpulkan, warga dapat menukarkannya dengan pupuk organik, air layak minum hasil olahan reverse osmosis (RO), hingga pemasangan baru pemipaan air bersih. Skema barter nilai tambah ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi langsung, tetapi juga menjawab kebutuhan paling mendasar warga akan akses air bersih.

Potret perubahan di tingkat tapak itu tampak nyata pada sosok Endang Sutisna. Dahulu, Endang bekerja sebagai pemulung. Kini, jemari yang terbiasa memilah sampah menjadi penggerak utama Bank Sampah Waste Innovation for Social Empowerment (WISE). Ia memimpin gerakan pemanfaatan limbah, mengelola jerami yang dihimpun dari warga, serta mengolah eceng gondok hingga sampah dapur menjadi pupuk kompos organik melalui inisiatif Bank JEKS (Jerami, Eceng Gondok, Keong, Sampah).

Jerami yang terkumpul dari warga kini ditumpuk rapi di penampungan Bank Jerami, difungsikan sebagai media tanam budidaya jamur produktif, lalu diolah kembali menjadi pupuk kompos organik. Aktivitas sirkular ini memberi dampak langsung pada dapur dan kesejahteraan warga, pendapatan rata-rata masyarakat rentan melonjak tajam, sekaligus membebaskan puluhan warga dari jerat utang rentenir keliling.

Hasil pengelolaan lingkungan tak berhenti di lembaran rupiah. Efisiensi yang tercipta dari skema tukar jerami, bank sampah, dan perluasan jaringan air bersih Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) berhasil menyalurkan air layak konsumsi ke 174 kepala keluarga.

Wajah teknologi ramah lingkungan turut melengkapi cerita visual di Pasirtanjung. Di atap-atap fasilitas komunitas, panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp menangkap sinar matahari Karawang untuk menyuplai energi bagi operasi Bank Sampah WISE dan Agro Santri di Eco-Pontren Hidayatul Burhan. Di sudut lain, instalasi biogas mengolah sisa makanan dapur pesantren menjadi energi masak sehari-hari.

Secara kumulatif, pengelolaan 673,9 ton jerami serta puluhan ton sampah organik dan anorganik setiap tahunnya mampu memangkas emisi hingga 33.742,9 ton CO₂e. Karawang tidak lagi hanya bercerita tentang asap panen dan jerat utang warga desa, melainkan tentang bagaimana sebuah komunitas mampu merebut kembali kemandirian energi, akses air bersih, dan kesejahteraannya dari tumpukan jerami yang kini kaya manfaat.