Sebelumnya
Pemerintah berencana membatasi game online. Bagaimana pandangan Anda terhadap wacana ini?
Saya memahami kehati-hatian Pemerintah sebagai respons atas keresahan publik. Namun, kebijakan harus proporsional dan berbasis data. Tidak semua game aksi berdampak negatif. Yang penting adalah bagaimana konten digunakan, siapa yang mengaksesnya, dan sejauh mana pengawasannya. Pembatasan yang menyamaratakan justru berisiko mengabaikan aspek edukatif, kreatif, dan potensi ekonomi dari industri game.
Sejauh mana efektivitas pengawasan game online di Indonesia saat ini?
Pengawasan game online masih menghadapi tantangan besar, terutama karena sifatnya lintas negara. Di Indonesia, klasifikasi konten sudah dilakukan, namun belum maksimal. Kita perlu sistem rating yang lebih ketat, literasi digital di sekolah, dan peran aktif orang tua dalam mengawasi anak. Pengawasan tidak cukup hanya lewat aturan, tapi juga lewat edukasi dan keterlibatan lingkungan sekitar anak.
Baca juga : Kawiyan: Penggunaan Game Online Dibatasi Saja
Apakah pembatasan game online bisa mencegah kekerasan di dunia nyata?
Saya kira, kita perlu berhati-hati dalam menarik korelasi langsung antara game dan kekerasan. Kekerasan di dunia nyata adalah hasil dari banyak faktor seperti lingkungan sosial, kesehatan mental, pola asuh, hingga tekanan hidup. Game bisa menjadi salah satu pemicu, tapi bukan akar masalah. Maka, solusi yang dibutuhkan adalah pendekatan holistik, bukan sekadar pembatasan teknis.
Apa langkah konkret yang dapat dilakukan Komisi I DPR RI terkait hal ini?
Komisi I DPR RI bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dapat mendorong regulasi yang lebih ketat terhadap perusahaan game, seperti verifikasi usia dan sistem kontrol orang tua. Kami juga mengajak platform global untuk patuh pada aturan lokal, terutama soal usia pemain dan konten bermasalah. Ini bukan sekadar soal kontrol, tapi tanggung jawab bersama menciptakan ruang digital yang aman bagi anak.
Baca juga : Redenominasi Rupiah Butuh Sosialisasi Dan Waktu Transisi
Seberapa besar pengaruh game kekerasan terhadap perilaku anak?
Pengaruh game kekerasan terhadap anak bergantung pada usia, intensitas bermain, dan lingkungan sosial. Tanpa bimbingan, anak bisa meniru perilaku agresif, namun dengan pengawasan yang tepat, game bisa menjadi sarana belajar. Kuncinya ada pada pengelolaan akses dan pendampingan, dengan peran aktif orang tua dan pendidik untuk membentuk kebiasaan digital yang sehat.
Bagaimana dengan tanggung jawab produsen game luar negeri yang menyebarkan konten kekerasan?
Saat ini, belum ada sanksi pidana langsung bagi produsen game luar negeri yang menyebarkan konten kekerasan, kecuali jika melanggar Undang-Undang ITE atau memuat unsur terlarang seperti pornografi, terorisme, atau ujaran kebencian. Namun, Komdigi dapat memblokir akses terhadap game yang dinilai membahayakan. Ke depan, dibutuhkan regulasi yang lebih kuat agar platform global turut bertanggung jawab atas konten yang beredar di Indonesia, sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan digital.
Baca juga : Gus Dur Dan Marsinah Jadi Nama Gedung Di Kemenham
Apa pesan Anda dalam menghadapi dinamika digital yang semakin kompleks ini?
Tentu kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika digital yang terus berkembang. Tugas kita bukan hanya membatasi, tapi membentuk ekosistem digital yang sehat, aman, dan mendidik. Komisi I DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal isu ini secara serius, dengan tetap menjunjung tinggi hak anak, kebebasan berekspresi, dan kedaulatan digital bangsa. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Rabu, 12 November 2025 dengan judul "Usai Insiden Ledakan Di SMAN 72 Jakarta, Perlukah Game Online Dibatasi Di Indonesia? Dave Laksono: Pembatasan Ini Harus Proporsional"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.