RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam kategori sedang (medium) dan belum menunjukkan situasi mengkhawatirkan.
Menurut data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus–September masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terjadi di Indonesia.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen dinyatakan positif influenza. Virus yang paling dominan adalah influenza A H1N1 PDM09.
Kemenkes juga terus memantau perkembangan influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan masyarakat dan kerap disebut sebagai “superflu”. Data surveilans menunjukkan jumlah temuan subclade K pada tahun ini justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga : Semua Kader Diminta Solid, PAN Targetkan Masuk 3 Besar Di Pemilu 2029
“Untuk yang disebut sebagai ‘superflu’ atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI, sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 tahun 2026 tercatat 188 hasil pemeriksaan subclade K. Dari jumlah tersebut, 166 temuan tercatat pada 2025 dan 22 temuan pada 2026.
Kemenkes tetap melakukan pemantauan terhadap subclade K melalui surveilans sentinel yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium dan balai kekarantinaan kesehatan.
Dalam hal pengobatan, sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap. Penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir juga tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.
Baca juga : Bentuk 217 DPRt Dalam 6 Hari, PKB Banyuwangi Yakin Menangkan Pemilu 2029
“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ujar Budi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, masyarakat tidak perlu panik terhadap peningkatan kasus influenza A di Indonesia.
“Peningkatan kasus ini bukan lonjakan luar biasa,” katanya.
Sementara itu, Epidemiolog Masdalina Pane menilai upaya Pemerintah, khususnya Kemenkes, dalam mencegah penyebaran virus influenza A masih belum optimal.
Baca juga : Pertamina Grand Prix of Indonesia Dari Sponsorship ke Global Branding
“Upaya pencegahan yang dilakukan masih kurang,” ujar Masdalina.
Untuk mengulas lebih jauh kondisi influenza A di Indonesia, termasuk perbedaan pandangan Pemerintah dan epidemiolog mengenai peningkatan kasus serta langkah pencegahannya, berikut wawancara dengan Aji Muhawarman.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.