Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sukses Di Asian Games 2026, PBSI Bidik Emas Olimpiade 2028
Kamis, 8 Oktober 2026 06:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Raihan enam medali pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi bahan evaluasi Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) untuk menghadapi Olimpiade Los Angeles 2028. PBSI menargetkan wakil Indonesia lolos di seluruh nomor pertandingan pada pesta olahraga terbesar dunia tersebut.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PP PBSI, M Fadil Imran dalam acara Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurut Fadil, PP PBSI telah menetapkan target jangka panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028, yakni meloloskan wakil secara maksimal di seluruh sektor sekaligus meraih medali emas. Untuk itu, pencapaian Asian Games 2026 harus menjadi salah satu pijakan untuk mencapai target tersebut.
“Perjalanan menuju Los Angeles 2028 terus berjalan. Prestasi adalah milik bersama, evaluasi adalah tanggung jawab bersama, dan masa depan bulu tangkis Indonesia adalah perjuangan kita bersama,” ujar Fadil.
Seperti diketahui, cabang bulu tangkis menjadi salah satu penyumbang terbesar medali Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan koleksi enam medali yaitu dua emas, satu perak, dan tiga perunggu.
Dua emas dipersembahkan tim beregu putra serta ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, sedangkan satu medali perak diraih ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Adapun tiga medali perunggu masing-masing diperoleh tim beregu putri, tunggal putra Alwi Farhan, serta ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
Baca juga : Dipastikan Dudung: Suasana Politik Adem Ayem
Fadil mengatakan evaluasi tersebut penting karena Asian Games bukan tujuan akhir dan PBSI masih memiliki perjalanan panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028 yang menjadi sasaran utama pembinaan jangka panjang.
“Medali Asian Games ini jangan hanya kita simpan di lemari. Kita harus mengubah setiap medali menjadi data, setiap pertandingan menjadi evaluasi, setiap kekalahan menjadi pelajaran, dan setiap kemenangan menjadi standar baru,” ujarnya.
Dia mencontohkan hasil sejumlah pertandingan di Asian Games yang harus dibedah secara detail, termasuk kekalahan Alwi Farhan dari Kunlavut Vitidsarn serta hasil sektor putri pada nomor perseorangan.
Kekalahan, kata Fadil, tidak boleh berhenti sebagai hasil pertandingan, tetapi harus digunakan sebagai bahan perbaikan untuk turnamen berikutnya. Sebaliknya, kemenangan juga harus melahirkan standar baru bagi atlet.
Fadil mencontohkan keberhasilan Moh Zaki Ubaidillah atau Ubed ketika mampu mengalahkan pemain China Weng Hongyang sebagai salah satu tolok ukur baru yang harus dijaga dan ditingkatkan. “Ketika Ubed bisa menang melawan tunggal China, itu menjadi standar baru buat Ubed,” ujar Fadil
Ukuran keberhasilan PBSI, kata Fadil juga, bukan sekadar kemampuan menghasilkan juara dalam satu turnamen.
Baca juga : Rakyat Tidak Lagi Bolak-balik Isi Formulir, Layanan Lebih Cepat
Namun lebih kepada membangun sistem yang dapat melahirkan prestasi secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, PBSI masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah setelah Asian Games, mulai dari konsistensi performa, kedalaman atlet di setiap sektor, jarak kualitas antara kelompok pratama dan utama, hingga kemampuan bertanding di bawah tekanan.
Program individual atlet dan pemantauan berbasis data juga menjadi bagian yang akan terus diperkuat dalam sistem pembinaan. “Organisasi yang sehat bukan organisasi yang merasa selalu benar. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani melihat kekurangannya dan memperbaikinya,” kata Fadil.
Pada kesempatan sama, PP PBSI juga memberikan apresiasi pada atlet peraih medali dan tim pendukung. Raihan enam medali tidak lepas dari peran seluruh elemen pendukung yang bekerja di balik layar.
Menurut Fadil, keberhasilan atlet Indonesia meraih dua emas, satu perak, dan tiga perunggu merupakan hasil kerja panjang yang melibatkan pelatih teknik dan fisik, tim performa dan sport science, tenaga medis, psikolog, ahli nutrisi, fisioterapis hingga tim analisis data dan video.
Para pelatih, kata dia, setiap hari merancang strategi sekaligus menempa kondisi fisik atlet, sementara tim pendukung memastikan para pemain berada dalam kondisi terbaik selama menjalani latihan hingga pertandingan.
Baca juga : Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Cetak Sejarah
Fadil juga memberikan apresiasi kepada staf, karyawan dan pengurus PP PBSI, termasuk tim administrasi, pengelola lapangan, konsumsi serta operasional harian yang menopang aktivitas pelatnas.
“Jangan lupakan mereka. Kepada para atlet dan peraih emas, karena mereka yang setiap hari datang dan mempersiapkan semuanya untuk kalian,” ujar Fadil.
“Nama mereka tidak muncul di papan skor, tidak muncul di televisi dan tidak berdiri di podium. Tetapi medali yang kalian dapat menyimpan keringat mereka,” tambahnya. [DHN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya