RM.id Rakyat Merdeka - Tak terasa perjalanan panjang hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok telah menginjakan usia tujuh puluh lima tahun lamanya.
Terhitung sejak tahun 1950 saat kedua negara baru sama-sama mengenyam kemerdekaan seumur jagung, hingga sekarang, saat keduanya sama-sama tengah menghadapi prahara politik di tengah perang tarif yang dilancarkan Trump.
Angka 75 ini merupakan usia yang matang. Usia yang penuh kebijaksanaan serta ketajaman budi dalam analogi umur manusia. Kedua negara memang telah sama-sama tumbuh dewasa, banyak belajar dari pengalaman masa lalu tentang manis-pahit kehidupan dan susah-senang dinamika hubungan sebagai negara tetangga.
Tiongkok dan Indonesia mengawali perjalanan diplomatiknya dengan solidaritas tinggi, dimulai sejak era Sukarno dan Mao Zedong. Keduanya berbagi fondasi yang kuat akan pentingnya persatuan untuk lepas dari jeratan imperialisme dan kolonialisme.
Indonesia yang merdeka di tahun 1945, dan Tiongkok yang meraih kedaulatan republik di tahun 1949, sama-sama mengerti urgensi kerja sama antar negara yang baru merdeka.
Baca juga : Pertamina Gas Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Palestina di Tengah Krisis
Mao dan Sukarno mafhum, tanpa kerja sama solid di antara negara-negara terjajah, kaum imperialis akan sewenang-wenang memecah belah, mengeksploitasi, dan menimbulkan hura-hara politik.
Perlu ikatan kuat di antara negara-negara yang baru lahir untuk memunculkan rasa solidaritas ini. Solidaritas penting sebagai bentuk dukungan moral dan alat perlawanan atas penjajahan.
Solidaritas Anti-Penjajahan
Karenanya, baik Sukarno maupun Mao kerap mengampanyekan pentingnya solidaritas di antara negara-negara dunia ketiga. Dua sosok pemberani, penentang keras praktik kolonialisasi. Ratusan tahun penjajahan yang terjadi di Indonesia, dan “abad penghinaan” yang dirasakan Tiongkok, telah membawa mereka pada kesamaan persepsi bahwa setiap bangsa berhak untuk merdeka.
Berhak hidup layak tanpa paksaan dan perbudakan; berhak mengatur jalan hidupnya sendiri berdasar kehendak rakyat masing-masing. Alhasil, Mao dan Sukarno tegap menjadi simbol perjuangan anti-kolonialisme di masanya.
Baca juga : Haidar Alwi Care Sarankan Indonesia Perkuat Investasi Domestik dan Asing
Petarung sejati yang tiada henti menyerukan pentingnya persatuan bangsa-bangsa dunia ketiga. Inilah pondasi dasar yang membingkai hubungan Indonesia-Tiongkok di masa-masa awal.
Pondasi yang dilandasi rasa senasib sepenanggungan. Sebagai dasar bangunan, kesamaan nasib dan kesejalanan perlawanan atas penjajahan berhasil mengikat hubungan kedua negara semakin solid.
Soliditas dan jalinan kemesraan ini semakin jelas saat kedua negara mengambil andil dalam pertemuan penting Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung 1955. Itu adalah bukti pertama kedekatan kedua negara, yang dibalut kesamaan persepsi tentang mendesaknya tatanan dunia yang bebas dari penjajahan.
Kontribusi Indonesia maupun Tiongkok tidak kecil dalam KAA. Sebagai tuan rumah, Indonesia menjadi insiator utama dan berhasil mengumpulkan 29 negara partisipan (Museum Konperensi Asia-Afrika, n.d.). Jumlah dan upaya yang tidak remeh di masa itu.
Di sisi lain, Tiongkok banyak menyumbang ide dan gagasannya, khususnya terkait prinsip politik luar negeri yang mereka anut “Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai” dalam formulasi Dasasila Bandung (Xinhua, dikutip dalam China Daily, 2015).
Baca juga : Perhimpunan Indonesia Tionghoa Tangsel Gelar Peduli Kasih Ramadhan
Lima prinsip itu antara lain: “saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, tidak saling melancarkan agresi, tidak mencampuri urusan domestik masing-masing, kesetaraan dan saling menguntungkan, hidup damai berdampingan”.
Prinsip-prinsip tersebut kini abadi dan sering dirujuk sebagai model ideal pengembangan hubungan antar negara dalam politik internasional (Xinhua, dikutip dalam China Daily, 2005).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.