BREAKING NEWS
 

TKA Bantu Ungkap Talenta dari Pelosok Negeri

Writer : Shinta Nur
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 3 Agustus 2025 22:15 WIB
Siswa mengikuti ujian berbasis komputer. (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)

Sistem pendidikan Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dalam mencetak generasi yang berdaya saing tinggi di tengah kompetisi global. Salah satu terobosan penting adalah penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai instrumen evaluasi capaian belajar siswa. Secara yuridis, historis, filosofis, dan sosiologis, TKA memiliki peran signifikan. Yuridis karena berpijak pada regulasi pendidikan nasional, historis karena menjawab kelemahan warisan sistem Ujian Nasional, filosofis karena menekankan keadilan dalam mengukur potensi, dan sosiologis karena mendorong pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.

TKA bukan sekadar alat ukur, melainkan bagian dari upaya untuk membangun kepercayaan terhadap sistem evaluasi capaian belajar yang selama ini terasa timpang antar-sekolah. Selama ini, seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik antarsekolah maupun ke perguruan tinggi, umumnya mengandalkan nilai rapor sekolah. Padahal, nilai rapor sekolah kerap kali tidak dapat dibandingkan secara adil antar-satuan pendidikan. Tidak adanya penilaian individu yang terstandar secara nasional membuat nilai 90 di satu sekolah bisa sangat berbeda maknanya dengan nilai serupa di sekolah lain. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi institusi pendidikan lanjutan, termasuk perguruan tinggi, dalam melakukan pemeringkatan dan seleksi secara objektif.

TKA hadir menjawab tantangan ini. Dengan instrumen tes yang dikembangkan secara nasional, hasil TKA memberikan gambaran yang lebih terstandar tentang kemampuan akademik siswa. Ia menjadi instrumen pengendali mutu yang mendorong perbaikan berkelanjutan di tingkat satuan pendidikan.

Dari data Kementerian Pendidikan, disparitas nilai antar-sekolah cukup signifikan, dengan deviasi capaian mencapai 15–20 poin pada skala 100. Dengan adanya TKA, disparitas ini dapat ditekan karena standar instrumen berlaku sama di seluruh Indonesia. Hal ini berarti siswa dari kota besar hingga pelosok memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan potensi akademiknya.

TKA sebagai Jembatan Keadilan Akses Pendidikan

Salah satu persoalan klasik dalam pendidikan Indonesia adalah kesenjangan kualitas antara sekolah di perkotaan dan di pelosok. Ketidaksetaraan ini tampak jelas pada data Badan Pusat Statistik (2023) yang mencatat bahwa angka partisipasi murni (APM) SMA/SMK mencapai 60,2 persen, tetapi di daerah 3T masih di bawah 50 persen. Perbedaan akses terhadap guru berkualitas, fasilitas belajar, dan sumber daya pembelajaran turut memperlebar jurang tersebut.

Baca juga : Banteng Tegaskan Tak Ada Faksi Jelang Kongres

Dalam konteks ini, TKA hadir sebagai instrumen yang menyeimbangkan peluang. Dengan standar soal yang sama secara nasional, TKA memberi kesempatan bagi siswa dari daerah terpencil untuk membuktikan kemampuan mereka setara dengan siswa dari kota besar. Nilai 85 di sekolah pelosok tidak lagi dipandang sebelah mata, karena TKA menyediakan tolok ukur nasional yang objektif.

Lebih jauh, TKA bukan hanya menilai, tetapi juga memetakan potensi. Data hasil TKA dapat digunakan pemerintah untuk melihat peta kekuatan dan kelemahan akademik di berbagai daerah. Dengan demikian, intervensi kebijakan bisa lebih terarah. Misalnya, jika hasil TKA menunjukkan rendahnya capaian literasi numerik di daerah tertentu, maka program peningkatan kualitas guru matematika bisa difokuskan di wilayah tersebut.

Aspek positif lain dari kebijakan TKA adalah pendekatan kolaboratifnya. Pada tingkat SMA/SMK, soal disusun oleh kementerian. Namun, untuk SD dan SMP, pemerintah pusat melibatkan pemerintah daerah (Dikdasmen, 2024). Ini bukan hanya soal teknis pembuatan soal, tetapi juga proses pemberdayaan kapasitas daerah. Kolaborasi ini membangun rasa memiliki yang lebih kuat, sekaligus memperkaya perspektif pusat agar instrumen TKA lebih kontekstual dan inklusif .

Dengan posisi tersebut, TKA dapat dipandang sebagai jembatan keadilan akses pendidikan. Ia memberi standar nasional yang sama, memetakan kebutuhan daerah, dan pada saat bersamaan mendorong rasa kepemilikan lokal terhadap kebijakan nasional. Harapannya, talenta-talenta dari pelosok negeri yang selama ini kurang terekspos akan mendapat panggung yang lebih luas untuk berkembang.

TKA sebagai Pemicu Transformasi Budaya Belajar

Selain aspek evaluasi, TKA menyimpan potensi strategis yang lebih luas: mendorong perubahan budaya belajar di sekolah. Selama ini, paradigma pembelajaran masih berpusat pada nilai rapor dan ujian sekolah. Dengan hadirnya TKA, siswa dan guru didorong untuk melihat capaian akademik dalam kerangka yang lebih objektif dan komparatif.

Baca juga : Polri-Kejagung Kejar Pengoplos Beras

Kisi-kisinya mencakup tiga hal penting: (1) dasar filosofis, yuridis, historis, dan sosiologis yang menegaskan keadilan evaluasi, (2) keberlanjutan partisipasi stakeholder, serta (3) kebijakan prioritas Kemendikdasmen dalam mempercepat mutu pendidikan. Namun, lebih dari itu, TKA dapat menjadi titik balik perubahan pola pikir pendidikan kita.

Data Kemendikbudristek tahun 2024 menunjukkan 67 persen siswa SMA/SMK masih belajar dengan orientasi menghafal, sementara hanya 33% yang terbiasa dengan soal berbasis penalaran. Format TKA yang menekankan literasi membaca, numerasi, serta kemampuan bernalar logis, perlahan menggeser budaya belajar ke arah keterampilan berpikir kritis. Selain itu, TKA membuka ruang bagi sekolah untuk bercermin. Korelasi antara nilai ujian sekolah dengan hasil TKA menjadi indikator integritas. Jika hasilnya selaras, sekolah dapat merasa percaya diri bahwa sistem evaluasi internalnya sehat. Namun, bila terdapat kesenjangan besar, itu menjadi alarm penting untuk pembenahan. Dengan demikian, TKA berfungsi ganda: sebagai alat seleksi sekaligus mekanisme akuntabilitas pendidikan.

Kekhawatiran publik tentang TKA menjadi “Ujian Nasional baru” tetap relevan. Namun, dengan komunikasi publik yang jernih dan konsisten, TKA dapat dipahami sebagai instrumen pendamping, bukan pengganti. Peran guru dalam menentukan kelulusan tetap dominan. Justru, TKA hadir sebagai mitra guru, memberi data yang lebih objektif untuk memperkaya evaluasi.

Di sisi lain, potensi kesenjangan akses juga tidak boleh diabaikan. Murid dengan fasilitas lengkap jelas lebih siap menghadapi TKA dibandingkan mereka yang terbatas. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan sistem dukungan, mulai dari bank soal gratis yang bisa diakses publik, bimbingan teknis untuk guru, hingga infrastruktur TIK yang merata. Dengan langkah ini, TKA benar-benar bisa menjadi instrumen keadilan, bukan pemicu ketimpangan baru.

Dalam empat tahun terakhir, sistem pendidikan berjalan dengan dua instrumen evaluasi: Asesmen Nasional yang memotret kinerja sistem secara makro, serta penilaian guru untuk menilai capaian mikro. TKA hadir di tengah keduanya, memperkuat sisi individu tanpa menggantikan peran yang sudah ada. Inilah nilai tambah TKA: ia menjembatani skala mikro dan makro dalam evaluasi pendidikan.

Penutup

Baca juga : Keakraban Kedua Tokoh Menandai Kemajuan Negeri

TKA merupakan inovasi penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Ia bukan sekadar instrumen seleksi, melainkan juga jembatan untuk menghadirkan standar nasional yang adil, membuka akses bagi talenta dari pelosok negeri, serta mendorong perubahan budaya belajar yang lebih kritis dan adaptif.

Dengan format yang transparan dan komunikatif, TKA mampu menjadi cermin kejujuran bagi sekolah, alat bantu guru dalam memperkaya evaluasi, serta referensi kredibel bagi pemerintah dalam merancang kebijakan berbasis data.

Jika dilaksanakan dengan komunikasi publik yang konsisten, dukungan teknologi yang merata, dan partisipasi stakeholder yang berkelanjutan, TKA akan benar-benar menjadi katalis peningkatan mutu pendidikan nasional.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense