Dark/Light Mode

Program B50 Dinilai Perkuat Swasembada Energi dan Tekan Impor BBM

Rabu, 15 Juli 2026 15:15 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Implementasi Program Mandatori B50 dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM), kebijakan ini juga diyakini mampu menghemat devisa, meningkatkan nilai tambah industri sawit, serta mendorong terwujudnya swasembada energi berbasis sumber daya dalam negeri.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengatakan, Program Mandatori B50 merupakan upaya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai bahan baku energi terbarukan melalui campuran 50 persen biodiesel pada bahan bakar solar.

Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi sekitar 53 juta ton per tahun.

Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mempercepat pengembangan bahan bakar nabati (BBN) sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada energi.

Baca juga : Bendungan Sidan Perkuat Irigasi 9.598 Hektare, Dukung Swasembada Pangan Di Bali

Tri menjelaskan, swasembada energi merupakan kebutuhan strategis karena Indonesia masih bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Ketergantungan tersebut tidak hanya membebani devisa negara, tetapi juga meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah, gejolak harga minyak dunia, hingga risiko gangguan rantai pasok energi.

"Jadi, pengembangan sumber daya dalam negeri seperti bahan bakar nabati perlu terus diupayakan agar kita bisa swasembada energi. Program B50 adalah salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut," katanya di Jakarta, dikutip Rabu (15/7/2026). 

Ia meyakini, implementasi Program Mandatori B50 akan memberikan dampak ekonomi yang positif, antara lain menekan impor solar, menghemat devisa negara, serta memperbaiki neraca perdagangan sektor minyak dan gas.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), implementasi program biodiesel selama periode 2015–2025 telah menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp 722,9 triliun dan menciptakan nilai tambah Rp 114,7 triliun melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel.

Baca juga : Kapolri Dan Jaksa Agung Kompak, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

Juga, mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO₂.

"Program B50 akan meningkatkan pendapatan petani sawit dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Daerah penghasil sawit seperti Sumatra dan Kalimantan memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi di sektor perkebunan dan industri biodiesel," jelas Tri.

Meski demikian, Tri mengingatkan pemerintah perlu mengantisipasi meningkatnya kebutuhan CPO untuk industri biodiesel agar tidak mengganggu pasokan bagi kebutuhan ekspor maupun industri pangan, mengingat CPO juga merupakan bahan baku utama minyak goreng.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong penguatan sektor hulu melalui berbagai program, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan sumber daya manusia, dukungan riset dan pengembangan, serta penyediaan sarana dan prasarana perkebunan.

"Jika lebih banyak CPO digunakan di dalam negeri, volume ekspor berkurang sehingga devisa ekspor sawit juga dapat menurun. Selain itu, CPO juga digunakan sebagai bahan baku minyak goreng," tegasnya.

Baca juga : TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menyatakan dukungannya terhadap implementasi Program Mandatori B50.

Menurutnya, program tersebut memiliki peran strategis dalam mengurangi impor solar sekaligus menghemat devisa negara.

Ia memastikan pasokan CPO nasional dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan Program B50 hingga akhir 2026 yang diperkirakan mencapai 1,74 juta ton.

Eddy menegaskan, GAPKI berkomitmen mengutamakan pemenuhan kebutuhan CPO untuk pasar domestik, khususnya mendukung implementasi Program Mandatori B50, sebelum memenuhi permintaan ekspor.

"Kita pasti akan mengutamakan untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.