Perkembangan kecerdasan buatan (AI) bagaikan pedang bermata dua di dunia farmasi. Di satu sisi, AI membuka kemungkinan luar biasa, mulai dari percepatan penemuan obat hingga personalisasi terapi. Namun, di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada "kecerdasan" mesin tanpa kewaspadaan manusia menyimpan risiko fatal yang mengancam keselamatan pasien.
Bagi saya, sebagai generasi yang akan terjun ke profesi ini, tantangannya bukanlah menolak atau menerima AI secara membabi buta. Melainkan bagaimana mengintegrasikannya secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab sebagai mitra, bukan pengganti, profesional farmasi.
Salah satu janji terbesar AI adalah dalam percepatan riset dan penemuan obat. Proses tradisional yang memakan waktu hingga 15 tahun dan biaya miliaran rupiah, dengan tingkat kegagalan yang tinggi, kini mulai terpangkas. Teknologi seperti machine learning dan deep learning memungkinkan analisis data molekuler dalam jumlah besar untuk memprediksi efektivitas dan keamanan senyawa obat secara lebih efisien.
Studi tentang integrasi AI di farmasi bahkan menunjukkan potensi keakuratan data yang tinggi, hingga 92% pada model tertentu, mengindikasikan bahwa teknologi ini dapat menjadi alat yang sangat powerful dalam menyaring kandidat obat. Ini adalah kabar baik bagi pasien yang membutuhkan terapi inovatif dengan waktu yang lebih singkat.
Baca juga : Penerapan AI di Bidang Farmasi: Peluang dan Tantangan
Namun, peran AI tidak berhenti di laboratorium. Di tingkat layanan kefarmasian, AI mulai digunakan untuk mendeteksi interaksi obat, mengelola stok, hingga memberikan rekomendasi terapi. Ini memang membantu, tetapi ada peringatan keras yang harus kita camkan. Sebuah studi dari Amerika Serikat, misalnya, menemukan bahwa alat AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini hanya memberikan jawaban yang sepenuhnya akurat dengan referensi terpercaya 19 persen dari waktu. Lebih mengkhawatirkan, 15 persen jawaban dari ChatGPT sama sekali tidak akurat dan bahkan menyertakan referensi palsu . Temuan ini membuktikan bahwa AI sangat rentan terhadap kesalahan dan "halusinasi" yang bisa berakibat fatal jika diandalkan secara membabi buta.
Inilah mengapa peran apoteker sebagai penjaga gerbang (gatekeeper) keselamatan pasien menjadi semakin krusial. Seorang apoteker senior di Amerika Serikat dengan tegas menyatakan bahwa AI memiliki "ketidakkonsistenan yang terlalu banyak" untuk diandalkan dalam rekomendasi pengobatan, terutama untuk obat-obatan yang dijual bebas.
Pengalaman seorang apoteker di Inggris juga menggambarkan kekesalan dan kekhawatiran ketika pasien datang dengan "diagnosis AI" yang seringkali keliru, meremehkan nilai dari pengalaman klinis dan "firasat" seorang profesional yang telah bertahun-tahun bergelut dengan kasus nyata. Penilaian klinis apoteker, yang lahir dari pengalaman dan pemahaman kontekstual, adalah elemen yang tidak bisa digantikan oleh algoritma.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah isu bias data, keamanan, dan regulasi. Algoritma AI belajar dari data. Jika data pelatihan tidak representatif atau mengandung bias, maka rekomendasi yang dihasilkan akan diskriminatif, bisa merugikan kelompok pasien tertentu. Selain itu, kerahasiaan data medis pasien adalah harga mati.
Baca juga : Pemanfaatan AI di Dunia Farmasi: Peluang, Tantangan, dan Peran Tenaga Kefarmasian
Penggunaan AI harus diiringi dengan jaminan keamanan data yang kuat dan regulasi yang jelas. Di Indonesia, payung hukum dan etika untuk pemanfaatan AI di bidang kesehatan masih perlu terus dikembangkan. Kesenjangan infrastruktur dan sumber daya manusia antara pusat dan daerah juga menjadi kendala nyata yang harus diatasi.
Kesimpulannya, pemanfaatan AI di dunia farmasi adalah sebuah keniscayaan yang akan membawa efisiensi dan inovasi besar. Namun, kemajuan ini harus diimbangi dengan kewaspadaan etis dan profesionalisme. AI harus diposisikan sebagai asisten cerdas yang membantu apoteker mengambil keputusan, bukan menggantikan pertimbangan klinis mereka. Untuk itu, pendidikan dan pelatihan tentang literasi AI dan etika penggunaannya menjadi sangat mendesak, baik bagi mahasiswa farmasi maupun praktisi . Kita tidak boleh membiarkan "kecerdasan buatan" menciptakan "kebodohan buatan" dengan mengabaikan tanggung jawab kemanusiaan kita sebagai tenaga kesehatan.
Rujukan
Kharde, P. (2026). Critical appraisal of the “ASHP Statement on the Use of Artificial Intelligence in Pharmacy”. American Journal of Health-System Pharmacy, *83*(10), 461–462.
Baca juga : Belajar Farmasi di Era AI: Antara Kemudahan, Ketergantungan, dan Etika
Humphries, A. (2026, April 15). AI can be useful, but clinical judgement is still essential. Pharmacy Magazine.
Ramadhaniyah, R. (2026, August 9). Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Farmasi: Antara Harapan dan Kehati-hatian. RM.id.
Sulasmi, & Hidayatullah, R. F. (2025). Penerapan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Formulasi Farmasi: Tren, Tantangan, dan Prospek Masa Depan (Tinjauan Literatur). Jurnal Tunas Cendekia.
Frazer, A., Yoon, E., & Durant, K. M. (2026). Artificial intelligence for drug information: Evaluating its use in real-world pharmacy practice. American Journal of Health-System Pharmacy, *83*(12), 669–676.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.