Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Marc Klok Cs Pastikan Persib Siap Tempur Lawan Manila Digger
- Lautaro Martinez Tak Dijual, Barcelona Gigit Jari
- Guru Besar UGM: Penanganan Karhutla Jangan Hanya Hebat Saat Api Sudah Menyala
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Belajar Farmasi di Era AI: Antara Kemudahan, Ketergantungan, dan Etika
Senin, 17 Agustus 2026 21:21 WIB
Pernah membayangkan kuliah farmasi tanpa harus menghafal 200 nama obat dalam semalam? Atau menyusun tinjauan pustaka hanya hitungan menit? Itulah realitas mahasiswa farmasi kini. AI telah menjadi sahabat karib di setiap sesi belajar. Namun, terlalu banyak teman bisa menghilangkan jati diri. Apakah AI menjadikan kita calon apoteker lebih cerdas, atau justru lebih malas dan kehilangan nurani?
Kemudahan: AI Membuka Gerbang Pengetahuan
Dulu, tugas interaksi obat berarti merogoh rak buku setinggi dada. Sekarang? Cukup ketik nama obat di alat AI, 3 detik muncul daftar interaksi, mekanisme, hingga rekomendasi klinis.
Bukti nyata: obat temuan AI, Rentosertib, dipublikasikan di Nature Medicine. AI memangkas waktu penelitian dari 10–15 tahun menjadi hanya 2 tahun! Kami tidak lagi hanya belajar dari masa lalu, tetapi ikut serta dalam masa depan.
Kemudahan ini juga merambah manufaktur. Kementerian Perindustrian memfasilitasi uji coba predictive maintenance berbasis AI di PT Kalbe Farma. Industri farmasi Indonesia mulai bertransformasi, dan materi kuliah kami menjadi lebih kontekstual.
Ketergantungan: Saat Robot Mengambil Alih Akal Sehat
Masalah mulai merayap. Saya melihat teman lebih percaya ChatGPT daripada dosen atau buku teks. "Pak, kenapa susah-susah baca jurnal, kan AI bisa rangkum?" Pertanyaan itu praktis, tetapi mengkhawatirkan.
Survei menunjukkan 62% mahasiswa farmasi khawatir tentang privasi data, dan 60,5% merasa AI bisa mengurangi aspek humanistik profesi. Ketika terlalu bergantung pada AI, kita kehilangan kemampuan berpikir kritis—nyawa profesi kefarmasian.
Profesor Stanford, Fei-Fei Li, memperingatkan narasi "AI menggantikan manusia" mengikis martabat kemanusiaan. AI seharusnya pendukung, bukan pengganti. Mahasiswa yang terus bergantung pada AI berisiko menjadi teknisi pintar, tetapi miskin wawasan dan hati nurani.
Opini Pribadi: Refleksi Seorang Mahasiswa Farmasi di Persimpangan Jalan
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Ancaman bagi Profesi atau Justru Partner Apoteker?
Saya menulis bagian ini dengan hati yang sedikit gamang. Bukan karena saya anti-teknologi—justru sebaliknya, saya adalah pengguna aktif berbagai alat AI setiap hari. Tetapi semakin dalam saya menyelami dunia farmasi, semakin saya sadar bahwa profesi ini bukan sekadar tentang menghafal rumus molekul atau nama generik obat. Profesi ini adalah tentang nyawa manusia. Dan di situlah letak perbedaan fundamental antara AI dan seorang farmasis.
Ketika saya pertama kali menggunakan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas farmakologi, rasanya seperti menemukan superpower. Waktu belajar yang biasanya habis berjam-jam untuk mencari jurnal internasional, kini bisa dipangkas menjadi setengah jam. Saya merasa lebih produktif, lebih pintar, dan lebih siap menghadapi ujian. Tetapi suatu malam, saya bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya benar-benar memahami materi ini, atau saya hanya pandai menyusun prompt yang bagus?"
Saya tidak ingin menjadi generasi farmasis yang pintar secara teknis tetapi bodoh secara sosial dan moral. Bayangkan jika suatu hari nanti, seorang pasien datang dengan mata berkaca-kaca menceritakan keluhan yang tidak termuat dalam basis data AI mana pun. Atau seorang ibu bertanya tentang efek samping obat anaknya dengan suara gemetar. Akankah saya menjawabnya dengan layar tablet dan suara robot? Atau akankah saya menatap matanya, mendengarkan dengan sepenuh hati, dan memberikan jawaban yang tidak hanya akurat secara ilmiah tetapi juga menenangkan secara emosional?
Saya yakin, keunggulan seorang farmasis bukanlah pada kecepatan mengingat data, tetapi pada kemampuan membaca situasi, merasakan empati, dan mengambil keputusan etis di saat-saat kritis. AI bisa menganalisis ribuan interaksi obat dalam satu detik, tetapi AI tidak bisa memegang tangan pasien yang ketakutan. AI bisa merekomendasikan dosis optimal, tetapi AI tidak bisa melihat ekspresi wajah pasien yang menyembunyikan rasa sakit yang tak terucapkan.
Itulah mengapa saya percaya bahwa mahasiswa farmasi di era AI harus memiliki dua kompetensi sekaligus: kompetensi teknis yang didukung AI, dan kompetensi humanistik yang hanya bisa diasah melalui interaksi nyata dengan pasien, diskusi dengan dosen, dan refleksi diri yang mendalam. Kita tidak bisa memilih salah satu; kita harus menguasai keduanya.
Saya juga prihatin dengan ketimpangan akses. Tidak semua teman saya memiliki perangkat canggih atau koneksi internet stabil untuk mengakses AI premium. Ini menciptakan kesenjangan baru di antara mahasiswa—antara yang bisa dan yang tidak bisa. Jika pendidikan farmasi kita terlalu bergantung pada AI, maka kita secara tidak sadar sedang mendiskriminasi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Ini adalah isu keadilan yang menurut saya jarang dibicarakan, tetapi sangat nyata.
Etika: Kompas Moral di Tengah Badai Teknologi
Inilah topik paling krusial: etika. Saat ini Indonesia belum memiliki regulasi spesifik AI di bidang farmasi. Kita hanya mengandalkan UU Perlindungan Data Pribadi dan Surat Edaran Etika AI Kominfo.
Mahasiswa berada di zona abu-abu. Apakah menggunakan AI untuk tinjauan pustaka adalah plagiarisme? Apakah menyuruh AI menganalisis data pasien (walaupun sintetis) melanggar etika?
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Sebenarnya, Apakah AI Menjadi Teman Kerja atau Ancaman?
Untungnya, BPOM meluncurkan sistem izin edar berbasis AI (tercatat MURI!) dan menjalin kerja sama dengan Health Sciences Authority (HSA) Singapura untuk memperkuat regulasi AI di produk kesehatan. Regulator bergerak cepat, akademik dan mahasiswa juga harus ikut bergerak.
Tiga Pegangan Mahasiswa Farmasi di Era AI
- Literasi AI adalah Kemewahan Baru. Pelajari AI, bukan hanya gunakan. Pahami cara kerja, kelemahan, dan bias algoritma. Jadilah pengguna kritis.
- Sentuhan Manusia Tak Tergantikan. Pasien datang ke apotek bukan hanya untuk obat, tetapi empati, edukasi, dan rasa aman. Ini tak bisa disediakan AI.
- Patuh pada Hukum dan Hati Nurani Selagi regulasi berkembang, miliki kompas moral. Jangan tunggu aturan tertulis untuk berlaku etis. Mulai dari diri sendiri.
Penutup: Bukan Mana Lebih Hebat, Tapi Bagaimana Bersikap
AI bukan ancaman, juga bukan dewa. Ia cermin—memantulkan niat dan sikap kita. Jika digunakan bijak, AI menjadikan kita farmasis masa depan cerdas, cepat, dan berhati. Jika dibiarkan menggantikan akal dan nurani, kita jadi generasi canggih secara teknologi, tetapi dangkal secara kemanusiaan.
Mari belajar farmasi di era AI dengan kepala tegak, hati terbuka, dan etika tak tergoyahkan. Karena yang menyembuhkan bukanlah AI, tetapi manusia yang menggerakkannya.
Daftar Rujukan
TvOneNews. (2025, September 16). Terobosan AI di Dunia Farmasi: Teknologi Baru Memangkas Waktu Pembuatan Obat dari 10 Tahun Jadi 2 Tahun.
ANTARA News. (2025, November 28). BPOM launches AI licensing system to amp up drug, food registration.
Baca juga : Ketika Teknologi Ikut Meracik Masa Depan Farmasi
ANTARA News. (2025, November 28). BPOM luncurkan sistem izin edar obat-makanan berbasis AI.
RM.ID. (2026, Juli 20). Kemenperin Percepat Transformasi Digital Industri Farmasi Dengan AI.
RM.ID. (2026, Agustus 10). Kecerdasan Buatan di Dunia Farmasi: Antara Revolusi dan Tanggung Jawab Etis.
Kompas.com. (2024, September 16). Regulasi Penggunaan AI dalam Layanan Kesehatan dan Industri Vaksin.
Badan POM. (2026, Januari 15). BPOM dan HSA Singapura Sepakat Perkuat Kerja Sama Regulasi Obat Teknologi Kesehatan dan Kecerdasan Buatan.
RM.ID. (2026, Agustus 9). Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Farmasi: Antara Harapan dan Kehati-hatian.
Tribrata News. (2025, November 29). BPOM Luncurkan Sistem Izin Edar Obat dan Makanan Berbasis AI.
Tia Sukma Ningsih
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya