Dark/Light Mode

Pemanfaatan AI di Dunia Farmasi: Peluang, Tantangan, dan Peran Tenaga Kefarmasian

Senin, 24 Agustus 2026 14:41 WIB
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam dunia farmasi (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam dunia farmasi (Gambar dibuat dengan AI)

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam berbagai bidang, termasuk farmasi. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI mampu membantu mengolah data, mengenali pola, membuat prediksi, dan memberikan rekomendasi. Menurut saya, AI memiliki potensi besar untuk membantu meningkatkan pelayanan dan pekerjaan tenaga kefarmasian, tetapi penggunaannya tetap harus disertai pengawasan manusia.

Pemanfaatan dan Peluang AI dalam Farmasi

AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang farmasi, seperti pelayanan kefarmasian, pengembangan obat, farmakovigilans, pengelolaan persediaan, dan penelitian. Dalam pelayanan kefarmasian, AI dapat membantu menganalisis data pasien, mendeteksi kemungkinan interaksi obat, serta memberikan informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan. Dalam penelitian dan pengembangan obat, AI dapat membantu menganalisis senyawa dan memprediksi kandidat obat sehingga proses penelitian dapat menjadi lebih efisien.

Menurut saya, peluang terbesar AI adalah kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat. Hal ini dapat menghemat waktu tenaga kefarmasian sehingga mereka dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada pasien. AI juga dapat membantu memprediksi kebutuhan obat dan mengurangi risiko kekurangan atau kelebihan persediaan.

Baca juga : Belajar Farmasi di Era AI: Antara Kemudahan, Ketergantungan, dan Etika

Tantangan Penggunaan AI

Walaupun memberikan banyak manfaat, penggunaan AI juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah kemungkinan AI memberikan informasi yang kurang tepat. Dalam bidang farmasi, kesalahan mengenai dosis, interaksi, atau penggunaan obat dapat berisiko bagi keselamatan pasien.

Selain itu, keamanan dan kerahasiaan data pasien harus diperhatikan. WHO menekankan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan harus memperhatikan privasi, keamanan, transparansi, dan pengawasan manusia. Tantangan lainnya adalah bias algoritma dan ketergantungan terhadap teknologi. Oleh karena itu, hasil dari AI tidak boleh langsung dipercaya tanpa pemeriksaan dari tenaga profesional.

Peran Tenaga Kefarmasian

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Ancaman bagi Profesi atau Justru Partner Apoteker?

Menurut saya, perkembangan AI tidak berarti tenaga kefarmasian akan kehilangan perannya. Justru tenaga kefarmasian harus mampu beradaptasi dengan teknologi. AI dapat menjadi alat bantu, sedangkan keputusan akhir tetap berada pada tenaga profesional.

Tenaga kefarmasian berperan dalam memeriksa kebenaran informasi yang diberikan AI, memberikan edukasi dan konseling kepada pasien, menjaga kerahasiaan data, serta memastikan penggunaan obat yang aman dan rasional. Karena itu, tenaga kefarmasian juga perlu meningkatkan kemampuan digital dan berpikir kritis agar dapat menggunakan AI secara tepat.

Pendapat Pribadi

Menurut saya, AI sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti tenaga kefarmasian, tetapi sebagai mitra kerja. AI memiliki kelebihan dalam kecepatan mengolah data, sedangkan tenaga kefarmasian memiliki pengetahuan, pengalaman, kemampuan komunikasi, empati, dan pertimbangan profesional. Kombinasi keduanya dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian.

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Sebenarnya, Apakah AI Menjadi Teman Kerja atau Ancaman?

Kesimpulan

AI memberikan peluang besar bagi perkembangan dunia farmasi, mulai dari pelayanan pasien hingga penelitian dan pengembangan obat. Namun, penggunaannya memiliki tantangan berupa kesalahan informasi, keamanan data, bias, dan ketergantungan teknologi. Oleh karena itu, AI harus digunakan secara bijak dengan tetap menempatkan tenaga kefarmasian sebagai pengambil keputusan profesional. Menurut saya, masa depan farmasi bukan manusia melawan AI, tetapi manusia yang mampu bekerja bersama AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2021). Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health. WHO.
  2. World Health Organization. (2024). Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health: Guidance on Large Multi-Modal Models. WHO.
  3. Sawalha, N. A., et al. (2023). Artificial intelligence in the field of pharmacy practice: A literature review. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy.
  4. U.S. Food and Drug Administration. (2025). Considerations for the Use of Artificial Intelligence to Support Regulatory Decision-Making for Drug and Biological Products. FDA.
  5. U.S. Food and Drug Administration. (2026). Guiding Principles of Good AI Practice in Drug Development. FDA.
  6. U.S. Food and Drug Administration. (2026). Artificial Intelligence for Drug Development. FDA.
Al Zahra Hasanah Fatimah
Al Zahra Hasanah Fatimah
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.