BREAKING NEWS
 

Angka Stunting Sudah Turun, Tapi Tetap Harus Menjadi Perhatian

Writer : IKM8 UINSU Stambuk2026d
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 23 September 2026 17:47 WIB
Ilustrasi penanganan stunting. (Gambar dibuat dengan AI)

Stunting masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan tinggi badan anak berada di bawah standar usianya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan anak serta kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Secara nasional, prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Indonesia menurun dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 19,8 persen pada tahun 2024. Meskipun demikian, angka tersebut menunjukkan bahwa stunting masih dialami oleh sejumlah besar balita dan tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

Baca juga : Malam yang Salah, Hari yang Berantakan: Dampak Bergadang bagi Tubuh dan Pikiran

Kota Medan, Sumatera Utara, dapat dijadikan salah satu contoh daerah dalam pembahasan stunting. Namun, data prevalensi stunting di Kota Medan perlu disajikan secara cermat karena terdapat perbedaan antara hasil survei nasional dan data pemerintah daerah. Berdasarkan informasi Pemerintah Kota Medan, prevalensi stunting di Kota Medan pada tahun 2023 dilaporkan menurun menjadi 5,8 persen dari 15,4 persen pada tahun 2022.

Adsense

Meskipun mengalami penurunan, stunting tetap perlu mendapat perhatian karena masih terdapat anak yang mengalami gangguan pertumbuhan. Stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain asupan gizi yang tidak memadai, kondisi kesehatan ibu dan anak, pola asuh, sanitasi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Baca juga : Belajar di Era Digital: Peluang atau Tantangan?

Oleh karena itu, penanganannya tidak dapat dilakukan hanya melalui sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, dan berbagai sektor terkait. Di Kota Medan, upaya penanggulangan stunting dilakukan melalui kerja sama lintas sektor serta kegiatan berbasis masyarakat, termasuk pemantauan pertumbuhan anak melalui posyandu.

Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga anak mencapai usia balita. Pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI yang sesuai, pemantauan pertumbuhan anak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan langkah-langkah penting dalam pencegahan stunting.

Baca juga : Menjaga Pola Makan di Tengah Tren Kuliner

Dengan demikian, meskipun prevalensi stunting di berbagai daerah menunjukkan penurunan, masalah ini belum dapat dianggap selesai.

Artikel ini ditulis oleh Sri Rahma, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadillah Pasaribu. Dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense