Panen raya jagung di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, telah memberi gambaran bahwa potensi pertanian yang besar akan selalu diikuti oleh besarnya limbah pertanian. Kondisi ini menjadi titik masuk bagi tim dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) bersama KWT Mekar Indah untuk mengembangkan pemanfaatan bonggol jagung secara lebih produktif. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat limbah panen tersebut diarahkan menjadi bagian dari agroindustri berbasis sumber daya lokal yang menghubungkan sektor pakan dan pangan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat diketuai oleh Dewi Elfrida Sihombing dengan anggota I Kadek Yoga Kertiyasa dan Erry Ersani. Pola terintegrasi menjadi bagian penting dalam kegiatan, karena satu sumber daya lokal dapat memberikan lebih dari satu manfaat.
Kami tidak ingin kegiatan berhenti pada satu produk. Yang ingin dibangun adalah pola pemanfaatan yang terintegrasi. Dari satu sumber daya lokal, masyarakat dapat mengembangkan kegiatan peternakan, pangan, hingga pertanian. Dengan cara ini, nilai tambahnya tidak hanya berasal dari satu tahap produksi.
Baca juga : Jalankan Arahan Prabowo, Dapur MBG Kagungan Ratu Berdayakan Kelompok Wanita Tani
Rangkaian kegiatan pengabdian diawali dengan memperkenalkan mesin penepung dan mesin cetak pellet kepada KWT Mekar Indah, disertai pelatihan pengoperasian dan praktik produksi. Kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari instalasi, uji fungsi, uji coba produksi hingga penggunaan kedua mesin. Pada tahap ini, tim pelaksana juga memberikan bimbingan teknis penyusunan ransum ayam. Pada tahap akhir, dilakukan produksi 30 KG pellet dengan tepung bonggol jagung terfermentasi maksimal 10%.
Kegiatan berikutnya pelatihan budidaya jamur janggel dengan penambahan bekatul, urea dan ragi tape. Hasil budidaya tersebut selanjutnya diolah menjadi berbagai produk pangan, termasuk nugget dan bakso. Anggota KWT terlibat langsung dari tahap persiapan bahan, pencampuran adonan, pembentukan produk hingga pemasakan.
Rantai pemanfaatan agroindustri sisa media budidaya jamur janggel dilanjutkan untuk media tanam dalam penerapan teknik hugelkultur. Empat raised bed berukuran 1x2 meter dibuat di pekarangan Kantor Desa Oesao sebagai upaya mengoptimalkan lahan yang didominasi batu karang dan memiliki lapisan tanah produktif terbatas. Bahan organik digunakan sebagai bagian dari media untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura.
Baca juga : Ketua Kelompok Mekaar Jadi Penggerak Pemberdayaan di Kampung Madani PNM
Bagi tim pelaksana, kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada pengenalan teknologi. Pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting karena KWT Mekar Indah diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam mengelola potensi lokal menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Keberlanjutan program turut diperkuat melalui keterlibatan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Naibonat. Penyuluh diharapkan dapat mendampingi kelompok dalam menerapkan teknologi dan mengembangkan kegiatan setelah program pengabdian selesai.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026. Pelaksanaan program juga mendapat dukungan dari Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Desa Oesao, Karang Taruna Desa Oesao, PPL Naibonat, serta KWT Mekar Indah sebagai mitra kegiatan.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.