Di tengah kesibukan dan aktivitas harian, makanan cepat saji menjadi pilihan utama bagi banyak orang, terutama kalangan remaja. Didukung oleh faktor harga yang ramah di kantong, rasa yang menggugah selera, serta visual yang menarik, makanan cepat saji sering kali dianggap sebagai solusi di waktu-waktu yang sempit. Sering kali jenis makanan cepat saji menjadi pilihan paling praktis saat rasa malas sudah menyerang.
Dengan naiknya popularitas dari makanan cepat saja, sudah tentu menggeser popularitas dari jenis makanan lainnya. Misalkan saja buah-buahan yang kaya vitamin, mineral, dan serat. Buah-buahan tersebut justru semakin jarang hadir di meja makan maupun menu pilihan sebagai camilan. Pergeseran kebiasaan ini terlihat sangat sederhana. Akan tetapi, hal tersebut diam-diam membawa dampak besar bagi kesehatan masyarakat.
Ditinjau dari apa yang dikandungnya, makanan cepat saji atau fast food umumnya mengandung kalori, gula, garam, dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Sebaliknya, kandungan serat, vitamin, dan mineral di dalamnya relatif rendah. Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan cepat saji dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
Baca juga : Penting, Ruang Terbuka Hijau bagi Kesehatan Masyarakat
Walau pun demikian, fast food tetap menjadi andalan utama dalam kebutuhan harian. Di sisi lain, buah yang sering menjadi pilihan terakhir makanan justru memiliki sumber gizi alami yang dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral harian, menjaga daya tahan tubuh, serta mendukung kesehatan pencernaan.
Banyak remaja lebih memilih ayam goreng, burger, kentang goreng, atau minuman manis dibandingkan membawa buah sebagai camilan. Tidak sedikit pula yang menganggap buah kurang mengenyangkan atau kurang menarik dibandingkan makanan yang sedang tren di media sosial. Padahal, kebiasaan memilih makanan hanya berdasarkan rasa dan kemudahan dapat membentuk pola makan yang kurang sehat dalam jangka panjang.
Fenomena ini menjadi perhatian karena konsumsi buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Padahal, Kementerian Kesehatan melalui pedoman Isi Piringku menganjurkan agar buah menjadi bagian dari menu andalan yang harus hadir di meja makan sebagai pelengkap gizi. Buah bukan hanya pelengkap makanan, melainkan sumber zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berfungsi secara optimal.
Baca juga : Kesepian di Tengah Keramaian: Masalah Kesehatan yang Sering Diabaikan
Buah mengandung serat yang membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, memberikan rasa kenyang lebih lama, serta membantu mengontrol kadar gula darah. Berbagai buah seperti jeruk, jambu biji, pepaya, dan stroberi kaya akan vitamin C yang berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Pisang mengandung kalium yang baik untuk kesehatan jantung dan otot, sedangkan alpukat mengandung lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan.
Sebaliknya, konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat menyebabkan asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh. Lemak jenuh dan gula yang tinggi juga dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh. Dampaknya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi perlahan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Pada remaja, pola makan yang kurang sehat juga dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kebugaran tubuh, hingga kesehatan mental.
Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pengobatan ketika sakit, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari dalam memilih makanan. Pilihan antara buah dan makanan cepat saji mungkin tampak sederhana, tetapi keputusan itu dapat memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Saat gizi mulai tersingkir oleh kepraktisan, sudah saatnya kita kembali memberi ruang bagi buah sebagai bagian penting dari pola makan sehari-hari.
Baca juga : Ketika Hijau Menghilang: Ancaman bagi Kehidupan Manusia
Memilih buah bukan berarti menolak semua makanan cepat saji, melainkan belajar menempatkan kesehatan sebagai prioritas di tengah gaya hidup modern. Dari satu potong apel, satu buah pisang, atau semangkuk pepaya, kita sedang membangun kebiasaan kecil yang dapat menjadi investasi besar bagi kesehatan di masa depan.
Artikel ini ditulis oleh Sitti Fhadilah Pasaribu, Lutfiah Mawar M.K.M., Dr. M. Agung Rahmadi M.Si., dan Annisa Ardianti Br Tarigan. Lalu Diedit oleh: Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar dan Aninda Listya.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.