Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Generasi Boba: Ketika Gula Merampas Kesehatan Generasi Muda
Jumat, 2 Oktober 2026 16:29 WIB
Dulu diabetes adalah penyakit orang tua. Kini, ia juga menyerang anak-anak SMA. Fenomena ini melahirkan istilah baru yang mengkhawatirkan: Generasi Boba. Generasi yang tumbuh bersama minuman manis kekinian, namun harus menanggung beban penyakit kronis di usia yang seharusnya paling produktif. Ini adalah potret nyata darurat kesehatan masyarakat Indonesia yang sedang kita hadapi.
Data International Diabetes Federation 2024 mencatat, Indonesia berada di peringkat ke-5 dunia dengan 19,5 juta penderita diabetes. Yang paling mengejutkan adalah lonjakan terbesar justru terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun. Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) menunjukkan prevalensi diabetes pada remaja naik hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Satu dari lima remaja Indonesia kini berada dalam fase prediabetes tanpa gejala, tanpa sadar, dan tanpa kepedulian dari lingkungannya.
Akar masalah ini ada pada budaya minuman manis yang telah dinormalisasi. Boba, kopi susu gula aren, dan teh kekinian bukan lagi sekadar minuman, melainkan identitas sosial remaja. Satu gelas boba mengandung 50 hingga 60 gram gula, setara dengan 200 persen batas harian yang dianjurkan WHO. Bayangkan jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari sepulang sekolah. Pankreas remaja yang seharusnya masih kuat justru dipaksa bekerja lembur sebelum waktunya. Manis yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan, perlahan berubah menjadi racun yang merusak sistem insulin tubuh.
Baca juga : Berdampak Buruk Terhadap Kesehatan, Stop Konsumsi Obat Tanpa Resep Dokter!
Kondisi ini diperparah oleh gaya hidup mager dan krisis gerak yang melanda remaja. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan bahwa 87 persen remaja kurang aktivitas fisik. Waktu mereka habis untuk scrolling TikTok, bermain game, dan duduk berjam-jam di kelas. Olahraga telah tergantikan oleh rebahan.
Akibatnya, lemak visceral menumpuk di perut, sensitivitas insulin menurun drastis, dan diabetes tipe 2 yang dulu baru muncul di usia 50 tahun, kini muncul di usia 15 tahun. Literasi gizi yang minim juga menjadi pemicu. Banyak remaja menganggap kurus sama dengan sehat, padahal fenomena skinny fat dengan lemak tersembunyi jauh lebih berbahaya karena mereka tidak pernah membaca label gizi.
Bahaya diabetes pada remaja jauh lebih ganas daripada pada orang dewasa. Penelitian menunjukkan komplikasinya datang lebih cepat dan lebih agresif. Di usia 25 tahun mereka sudah terancam gagal ginjal dan harus cuci darah seumur hidup. Di usia 30 tahun mereka berisiko mengalami kebutaan akibat retinopati diabetik dan amputasi kaki akibat luka yang tak kunjung sembuh. Ini bukan sekadar isu kesehatan, ini adalah ancaman serius bagi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Bagaimana mungkin kita membangun negara maju jika generasinya sudah sakit kronis sejak muda.
Baca juga : Susu Formula vs ASI: Perang Gengsi yang Mengorbankan Gizi Anak
Oleh karena itu, pendekatan promotif-preventif harus dilakukan dengan inovasi komunikasi yang relevan dengan dunia remaja, bukan dengan cara lama yang kaku. Strategi promotif harus masuk ke dunia mereka melalui TikTok, Reels, dan duta kesehatan sebaya. Kampanye seperti gerakan tujuh hari ganti boba dengan air putih akan jauh lebih efektif daripada poster medis. Sekolah juga harus menjadi benteng utama dengan kebijakan kantin sehat dan skrining gula darah rutin setiap semester.
Generasi Boba adalah peringatan keras. Gula telah merampas masa muda mereka, merampas produktivitas, dan merampas mimpi Indonesia Emas. Mencegah satu gelas boba hari ini jauh lebih murah dan lebih sehat daripada membiayai cuci darah seumur hidup esok hari.
Artikel ini ditulis oleh Najwa Chairun Naya, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya