Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila (FIKOM UP) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pelatihan public speaking bagi santri Madrasah Aliyah Pesantren Al-Awwabin, Depok, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi santri agar mampu berbicara di depan publik secara efektif, santun, dan beretika.
Kegiatan yang diikuti sekitar 30 santriwan dan santriwati ini berlangsung interaktif. Para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis mengenai teknik berbicara di depan umum, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan public speaking secara langsung di hadapan peserta lainnya.
Kepala Madrasah Aliyah Pesantren Al-Awwabin, Ust. Muhammad Munib, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Muhamad Rosit beserta tim PKM FIKOM Universitas Pancasila yang telah berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri. Ia menegaskan bahwa Universitas Pancasila merupakan mitra Pesantren Al-Awwabin. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kesempatan berharga bagi santri untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka.
Pembukaan Pelatihan Public Speaking
Ust. Muhammad Munib juga menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan publik harus disertai dengan etika. Menurutnya, keterampilan komunikasi tidak cukup hanya diukur dari kefasihan berbicara atau kemampuan memengaruhi audiens, tetapi juga dari nilai dan pesan yang disampaikan.
Public Speaking: Keterampilan yang Dapat Dipelajari Siapa Saja
Ketua tim PKM Muhamad Rosit, dalam sambutannya menyampaikan bahwa public speaking merupakan seni sekaligus keterampilan komunikasi yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh setiap orang. Menurut Rosit, setiap individu memiliki potensi untuk menjadi pembicara yang baik. Kemampuan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh bakat, melainkan juga oleh kemauan belajar, keberanian mencoba, dan konsistensi berlatih.
Pelatihan dipandu oleh Fringkha Tri Ramadhani, mahasiswi FIKOM Universitas Pancasila, sebagai pembawa acara (MC). Dengan pembawaan yang penuh semangat, Fringkha membuka kegiatan dan membangun suasana yang mendorong antusiasme peserta. Sementara itu, Muhammad Rangga bertugas sebagai moderator yang mengarahkan jalannya sesi materi secara komunikatif dan interaktif.
Baca juga : Presentasi di Depan Kelas, Mengapa Mahasiswa Masih Takut Berbicara?
Mengatasi Grogi dan Menguasai Teknik Berbicara
Dalam sesi materi, Muhamad Rosit menjelaskan bahwa rasa gugup, ragu-ragu, takut melakukan kesalahan, dan kecemasan merupakan pengalaman yang umum dialami seseorang ketika mulai berbicara di depan publik.
Namun, menurutnya, perasaan tersebut dapat dikelola melalui pembentukan pola pikir yang positif, peningkatan kepercayaan diri, pengendalian diri, serta latihan yang konsisten. Pembicara juga perlu memperhatikan ekspresi wajah, kontak mata, kejelasan suara, dan bahasa tubuh agar pesan dapat diterima dengan baik oleh audiens.
Rosit menegaskan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, keberanian adalah kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, serta rasa takut salah ketika harus tampil di hadapan orang lain. Orang yang berani bukanlah orang yang tidak pernah takut, melainkan orang yang mampu melewati rasa takutnya dan tetap berusaha tampil dengan baik.
Selain membahas cara mengatasi kecemasan, Rosit menguraikan struktur pidato yang dapat digunakan santri dalam berbagai kegiatan, mulai dari salam pembuka, mukadimah, sapaan dan penghormatan, pendahuluan, penyampaian materi, kesimpulan, hingga penutup.
Ia juga memperkenalkan teknik grabbing, yakni cara menarik perhatian audiens pada awal penyampaian pidato. Teknik ini dapat dilakukan melalui cerita, kisah sejarah, pengalaman pribadi, atau storytelling yang relevan dengan topik pembicaraan.
Menurut Rosit, pembicara tidak sebaiknya langsung menyampaikan inti materi setelah pembukaan. Pembicara perlu membangun perhatian dan keterhubungan dengan audiens terlebih dahulu agar pesan yang disampaikan lebih menarik dan mudah dipahami.
Teknik tersebut dinilai relevan bagi santri, khususnya ketika menyampaikan ceramah, pidato keagamaan, kultum, maupun pesan edukatif di lingkungan masyarakat.
Baca juga : Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih
Santri Praktik Langsung, dari Literasi Digital hingga Keutamaan Ilmu
Pelatihan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Para santri diberi kesempatan mempraktikkan keterampilan public speaking yang telah dipelajari. Dua peserta, Hasan dan Fauzan, tampil di hadapan audiens dengan membawakan topik yang berbeda.
Hasan menyampaikan pidato mengenai bahaya penggunaan media sosial yang dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai konten negatif. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi santri agar mampu menggunakan media sosial secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Hasan, Santri Al-Awwabin Praktik Public Speaking
Melalui materi tersebut, Hasan mengajak sesama santri untuk tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat digital yang mampu menyaring informasi dan menyebarkan konten positif.
Sementara itu, Fauzan tampil dengan suara lantang dan tegas. Ia menyampaikan pesan mengenai keutamaan ilmu dalam Islam, termasuk ajaran Al-Qur’an tentang kemuliaan orang-orang yang beriman dan berilmu. Pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang fasih menjadi bagian dari penampilannya.
Fauzan menegaskan bahwa ilmu merupakan amanah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak cukup hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga perlu diamalkan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Penampilan kedua santri tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan berbicara dapat digunakan untuk menyampaikan pesan sosial dan keagamaan. Keduanya juga memperoleh pengalaman langsung untuk membangun keberanian, mengatur penyampaian pesan, dan berbicara di hadapan audiens.
Baca juga : Metode Public Speaking: Cara Efektif Berbicara di Depan Umum
Membangun Santri yang Percaya Diri dan Menebarkan Kebaikan
Melalui pelatihan ini, FIKOM Universitas Pancasila berupaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan keterampilan komunikasi generasi muda di lingkungan pesantren.
Keterampilan public speaking diharapkan dapat membantu santri tampil lebih percaya diri dalam kegiatan akademik, dakwah, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat. Lebih dari itu, kemampuan komunikasi perlu diimbangi dengan integritas, kesantunan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Foto bersama seluruh peserta Pelatihan Public Speaking
Kolaborasi antara FIKOM Universitas Pancasila dan Pesantren Al-Awwabin juga menjadi wujud pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam dalam mendukung pengembangan kompetensi santri.
Dengan bekal keterampilan komunikasi yang baik dan beretika, santri diharapkan tidak hanya berani berbicara di depan publik, tetapi juga mampu menjadi komunikator yang mencerdaskan, menginspirasi, dan menebarkan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.