RM.id Rakyat Merdeka - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan dan hilangnya habitat satwa, tetapi juga berpotensi memicu krisis kesehatan jangka panjang.
Dampaknya bahkan dinilai tidak berhenti pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), melainkan dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru yang lebih serius.
Hal tersebut disampaikan dr. Abelina Dini Fitria, Dpl. AAAM, MM, MARS, yang dikenal sebagai dr. Incognito.
Menurutnya, paparan asap karhutla secara berulang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
"ISPA berulang bisa lama-lama jadi bronkitis dan pneumonia. Sekarang ini banyak karbon monoksida (CO) dari kebakaran membuat kadar oksigen di paru berkurang," ujarnya.
Ia menjelaskan, karbon monoksida merupakan gas berbahaya yang dapat mengganggu kemampuan tubuh memperoleh oksigen.
Paparan jangka panjang, menurutnya, berpotensi meningkatkan risiko penyakit paru-paru dan komplikasinya pada orang dewasa.
Baca juga : Jasa Raharja Perkuat Ekosistem Keselamatan Transportasi
Kondisi tersebut dapat berdampak pada produktivitas masyarakat, meningkatkan risiko sakit berkepanjangan, hingga mengancam keselamatan jiwa.
Risiko dinilai semakin besar apabila tidak diimbangi dengan sistem pelayanan kesehatan yang memadai.
Imbau Masyarakat Disiplin Melakukan Pencegahan
Terkait mitigasi dampak kesehatan karhutla, dr. Incognito menyebut sejumlah langkah perlindungan masyarakat yang dapat dilakukan meskipun upaya tersebut masih terbatas.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga disarankan sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah atau tetap berada di dalam ruangan (stay indoors).
Selain itu, debu di lingkungan rumah perlu dibersihkan secara rutin, terutama di rumah yang terdapat anak-anak. Penggunaan alat pemurni udara (air purifier) juga dapat dipertimbangkan jika memungkinkan.
Ia turut mengingatkan masyarakat untuk berhenti merokok dan menggunakan vape, mengonsumsi makanan tinggi antioksidan seperti sayur dan buah, mengurangi makanan cepat saji (junk food), serta tetap berolahraga di dalam ruangan.
Baca juga : Menteri Jumhur Ajak Serikat Pekerja PLN Selamatkan Ekosistem Hijau Danau Toba
Menurut dr. Incognito, suhu panas yang terjadi saat ini juga berkaitan dengan dampak lingkungan akibat karhutla.
Ia menyoroti kombinasi gas karbon monoksida dan metana yang disebutnya memicu efek rumah kaca.
Karhutla Picu Risiko Bencana Susulan
Lebih jauh, dr. Incognito menilai karhutla dalam konteks multi-hazard dapat menciptakan rangkaian ancaman bencana baru.
Lahan yang menjadi gundul setelah kebakaran berpotensi meningkatkan risiko bencana susulan, terutama ketika kawasan hutan berubah fungsi menjadi perkebunan monokultur maupun permukiman.
"Tinggal menunggu waktunya, kalau mau preview kan sudah banyak banjir bandang, longsor akibat hutan yang hilang entah itu diganti perkebunan monokultur atau diganti dengan pemukiman," jelasnya.
Menurutnya, kerusakan hutan tidak hanya menghilangkan habitat satwa dan merusak keseimbangan ekosistem, tetapi juga mengurangi kemampuan lingkungan dalam menjaga keseimbangan alam.
Untuk penanganan ke depan, dr. Incognito berharap pemerintah membuka diri terhadap bantuan dari luar negeri dan memprioritaskan program reboisasi atau penanaman kembali hutan.
Baca juga : Kolaborasi Peruri, Telkom, Danantara dan BSSN Perkuat Ekosistem Digital
Ia juga berharap karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional sehingga penanganannya dapat memperoleh alokasi anggaran khusus melalui APBN.
Menurutnya, isu tersebut perlu menjadi perhatian bersama dalam pembahasan masa depan lingkungan.
Ia menekankan bahwa penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan saat kebakaran berlangsung.
Namun juga, dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat, keselamatan lingkungan, dan kehidupan generasi mendatang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.