BREAKING NEWS
 

Bedah Buku Indonesia-Tiongkok, Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Rabu, 4 November 2026 17:46 WIB
Bedah buku Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan yang diselenggarakan di Ruang Kaca Sisi Barat, Lantai 10, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Minggu (1/11/2026). Foto: Dok UAD

RM.id  Rakyat Merdeka - Hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak semata-mata dibangun melalui kepentingan ekonomi dan perdagangan. Jauh sebelum kedua negara menjalin hubungan diplomatik modern, interaksi masyarakat Nusantara dan Tiongkok telah berlangsung melalui jalur perdagangan, kebudayaan, pendidikan, hingga pertukaran pengetahuan.

Jejak panjang tersebut menjadi fondasi penting untuk memahami sekaligus merancang kemitraan kedua negara pada masa mendatang.

Perspektif tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan yang diselenggarakan di Ruang Kaca Sisi Barat, Lantai 10, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Minggu (1/11/2026).

Kegiatan yang melibatkan kolaborasi sejumlah institusi tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Sucipto, ketua prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UAD sekaligus alumnus Central China Normal University; Anang Masduki, wakil dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi UAD sekaligus alumnus Shanghai University; serta Budy Sugandi, lenulis buku sekaligus alumnus Southwest University, Chongqing, Tiongkok.

Diskusi tidak hanya membahas sejarah hubungan Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga mengulas bagaimana warisan interaksi kedua bangsa dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih produktif di bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, teknologi, dan pembangunan sumber daya manusia.

Baca juga : Prasasti Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 5,2% YoY

Budy Sugandi mengatakan, buku tersebut berangkat dari kesadaran bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok perlu dipahami melalui perspektif yang lebih luas daripada sekadar hubungan bilateral kontemporer.

Menurut dia, sejarah perjumpaan kedua bangsa menunjukkan bahwa interaksi antarperadaban memiliki peran penting dalam membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat.

"Hubungan Indonesia dan Tiongkok bukanlah cerita yang baru dimulai dalam beberapa dekade terakhir. Ada jejak sejarah, pertukaran budaya, dan interaksi masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad. Fondasi historis inilah yang perlu kita pahami agar kemitraan masa depan dapat dibangun di atas pengetahuan, saling pengertian, dan kepercayaan," ujar Budy.

Dia menambahkan, penerbitan buku tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat mengenai Tiongkok secara lebih objektif dan komprehensif.

Pemahaman terhadap negara lain, menurut dia, tidak cukup hanya melalui pemberitaan atau persepsi populer, tetapi perlu ditopang oleh kajian akademik, pengalaman langsung, dan dialog lintas budaya.

Baca juga : Xiaomi Hadirkan 6 Perangkat Smart Home, Bikin Rumah Lebih Praktis

"Di tengah perubahan geopolitik dan perkembangan teknologi global, Indonesia perlu memiliki perspektif yang matang dalam membangun hubungan internasional. Kita tidak hanya perlu memahami Tiongkok sebagai mitra ekonomi, tetapi juga mempelajari perkembangan pendidikan, riset, inovasi, dan peradabannya. Pengetahuan akan membuat kerja sama menjadi lebih bermakna," katanya.

Sementara itu, Sucipto menyoroti pentingnya pendidikan dan pertukaran akademik sebagai salah satu jembatan strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Tiongkok.

Adsense

Pengalamannya sebagai alumnus Central China Normal University memberikan perspektif mengenai bagaimana lingkungan akademik internasional dapat membuka ruang pertukaran gagasan, memperluas wawasan, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

"Hubungan antarnegara yang kuat seharusnya tidak hanya dibangun melalui kerja sama pemerintah dan dunia usaha. Perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, serta peneliti memiliki peran yang sangat penting. Pertukaran akademik memungkinkan masyarakat kedua negara saling memahami, belajar dari pengalaman, dan menghasilkan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata," tutur Sucipto.

Ia juga menilai, penguatan jejaring pendidikan internasional perlu menjadi perhatian perguruan tinggi di Indonesia. Kolaborasi riset, publikasi ilmiah, program pertukaran mahasiswa, dan kemitraan antarlembaga pendidikan dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing akademik Indonesia di tingkat global.

Baca juga : SBY Prihatin Kondisi Politik RI: Kok Jadi Begini Negara Kita?

Adapun Anang Masduki menekankan pentingnya komunikasi antarbudaya dalam membangun hubungan yang harmonis antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Menurut dia, perbedaan bahasa, nilai, tradisi, dan cara pandang tidak semestinya menjadi penghalang bagi kerja sama.

Sebaliknya, keberagaman tersebut dapat menjadi modal untuk memperkaya perspektif dan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.

"Komunikasi menjadi fondasi penting dalam hubungan antarperadaban. Kita tidak cukup hanya mengetahui keberadaan budaya lain, tetapi juga perlu memahami nilai, konteks, dan cara pandang masyarakatnya. Tanpa pemahaman tersebut, kerja sama berpotensi berhenti pada kepentingan pragmatis. Namun, dengan komunikasi yang baik, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun kepercayaan," ujar Anang.

Dia menambahkan, ruang-ruang diskusi akademik seperti bedah buku memiliki arti strategis karena memungkinkan masyarakat mengembangkan pemahaman yang lebih kritis, terbuka, dan berimbang terhadap dinamika hubungan internasional.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense