Dark/Light Mode

Perkuat Ekonomi Desa

Mendes: Stunting Bukan Sekadar Kekurangan Gizi

Rabu, 4 November 2026 06:55 WIB
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Monitoring dan Evaluasi Pusat dan Daerah terkait Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Desa Wilayah Banten, di Pendopo Gubernur Banten, Serang, Banten, Selasa (3/11/2026). Foto: Dok. Kemendes PDT
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Monitoring dan Evaluasi Pusat dan Daerah terkait Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Desa Wilayah Banten, di Pendopo Gubernur Banten, Serang, Banten, Selasa (3/11/2026). Foto: Dok. Kemendes PDT

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto tidak ingin penanganan stunting hanya berkutat pada persoalan pemenuhan gizi anak. Menurutnya, upaya menekan angka stunting harus dimulai dengan menekan atau membenahi akar persoalan dari hulu hingga hilir. Terutama kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan penguatan ekonomi masyarakat desa.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu menegaskan, penanganan stunting membutuhkan kebijakan yang menyeluruh dan melibatkan banyak sektor. Sebab, persoalan tumbuh kembang anak tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi keluarga.

Karena itu, Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan program pemberian makanan bergizi tanpa memperbaiki faktor-faktor yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

“Kemendes melihat stunting bukan sekadar kurang gizi, tapi ada di balik itu yang perlu kami tuntaskan,” tegas Yandri saat membuka Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi (Rakor Monev) Pusat dan Daerah Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Desa Wilayah Provinsi Banten, di Pendopo Gubernur Banten, Selasa (3/11/2026).

Baca juga : Suara Rakyat Tidak Boleh Dibungkam Oleh Siapa Pun

Salah satu langkah yang didorong Kemendes PDT adalah memperkuat aktivitas ekonomi di desa. Yandri menilai, terbukanya lapangan pekerjaan dan meningkatnya pendapatan masyarakat akan membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan pangan dan kesehatan anak.

Dengan demikian, penurunan kemiskinan dapat menjadi pintu masuk untuk menekan angka stunting.

“Kalau ada aktivitas ekonomi di desa, kemudian orang bisa bekerja, kemudian bisa mendatangkan pendapatan, maka kemiskinan bisa ditekan. Kalau kemiskinan bisa ditekan, insya Allah stunting bisa kita tekan,” tambahnya.

Menurutnya, desa memiliki peran strategis dalam upaya tersebut karena menjadi lingkungan terdekat tempat anak-anak tumbuh dan berkembang. Pembangunan ekonomi desa harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca juga : PKB Jatim Minta DPC Siapkan Media Center

Penurunan stunting juga menjadi bagian dari prioritas nasional untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Potensi sumber daya alam Indonesia harus diimbangi dengan kualitas generasi penerus agar pembangunan nasional dapat berjalan berkelanjutan.

Untuk mencapai target tersebut, Kemendes PDT terus mendorong konvergensi program pencegahan dan percepatan penurunan stunting dengan melibatkan kementerian, lembaga, Pemda, hingga masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar setiap program tidak berjalan sendiri-sendiri dan benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.

Mantan Wakil Ketua MPR itu juga mengingatkan, perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab satu kementerian atau lembaga. Seluruh pemangku kepentingan harus mengambil bagian karena persoalan stunting berkaitan dengan masa depan generasi bangsa.

“Harusnya anak-anak dilindungi, kita perlu superteam. Jadi untuk penurunan stunting ini ada Kemendagri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sejatinya kepentingan kita semua. Kita harus terlibat, keterlibatan itu harus pakai hati,” katanya.

Baca juga : Pupuk Indonesia Bangun Ammonia Hub Di Batam

Dia berharap, kerja sama lintas sektor yang dibangun di Provinsi Banten dapat menjadi contoh untuk memperkuat gerakan serupa di daerah lain. Pemerintah Pusat dan daerah perlu memastikan program yang dijalankan tidak berhenti pada rapat koordinasi, tetapi diterjemahkan menjadi langkah nyata hingga tingkat desa dan keluarga.

Dalam target yang disampaikan pada kegiatan tersebut, angka stunting ditargetkan turun menjadi 17,5 persen pada 2026. Selanjutnya, Pemerintah menargetkan penurunan menjadi 16,3 persen pada 2027, 15,2 persen pada 2028 dan 14,2 persen pada 2029.

Target jangka panjangnya, angka stunting diharapkan dapat ditekan hingga lima persen pada 2045. Pencapaian target tersebut membutuhkan kesinambungan program, penguatan koordinasi pusat dan daerah, serta keterlibatan masyarakat dalam memperbaiki kualitas kesehatan dan kesejahteraan keluarga. ASI

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 4 November 2026 dengan judul "Perkuat Ekonomi Desa Mendes: Stunting Bukan Sekadar Kekurangan Gizi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.