RM.id Rakyat Merdeka - Pelaku industri mengharapkan kepastian harga dan alokasi gas untuk mendukung peningkatan produksi pupuk. Sebab, hal ini memiliki pengaruh besar terhadap upaya meningkatkan ketahanan pangan.
Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan mengatakan, pihaknya menjadi salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang mendapatkan penugasan dari Pemerintah untuk menyalurkan pupuk subsidi ke petani.
Saat ini perseroan memiliki 11 anak perusahaan, lima di antaranya khusus untuk memproduksi pupuk. Yakni, PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh memproduksi amoniak sebanyak 0,7 juta ton per tahun, urea 1,1 jta ton per tahun, NPK (Nitrogen, Phospor/Fosfor dan Kalium) 0,5 juta ton per tahun.
Lalu, PT Pusri Palembang di Sumatera Selatan (Sumsel), memproduksi amoniak 1,8 juta ton per tahun, urea 2,6 juta ton per tahun dan NPK 0,3 juta ton per tahun.
Baca juga : 2027, Jakarta Dipatok Bebas Wilayah Kumuh
Sedangkan di Jawa, terdapat PT Pupuk Kujang yang memproduksi amoniak 0,7 juta ton per tahun, urea 1,1 juta ton per tahun dan NPK 0,3 juta ton per tahun.
Sementara PT Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi cukup besar, karena produknya beragam. Yakni mulai dari pupuk hingga pestisida. Perusahaan memproduksi amoniak sebanyak 1,1 juta ton per tahun, urea 1,03 juta ton per tahun dan NPK 3,5 juta ton per tahun.
Menurut Nababan, produksi NPK di pabrik Petrokimia cukup besar, karena adanya peningkatan kebutuhan NPK dalam negeri akhir-akhir ini.
Selanjutnya, pabrik kedua terbesar perseroan ada di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), yang memproduksi amoniak sebesar 2,7 juta ton per tahun, urea 3,4 juta ton per tahun dan NPK 0,3 juta ton per tahun.
Baca juga : Garuda Muda Ogah Remehkan Lawan
Total dari lima pabrik pupuk ini, lanjut Nababan, perseroan memproduksi amoniak total mencapai 7 juta ton per tahun dan urea 9,4 juta ton per tahun.
“Dibandingkan kompetitor di industri pupuk, perusahaan kami masih leading dalam kapasitas produksi,” ujar Nababan dalam Diskusi bertajuk: Membangun Ketahanan Pangan Kontribusi Energi Terhadap Produktivitas Pertanian, yang digelar Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, Selasa (16/7/2024).
Bahkan bila dibandingkan dengan kompetitor secara global, Pupuk Indonesia ada di urutan 8 dari sisi total aset, revenue dan EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization), serta berada di posisi ketujuh dari sisi net profit.
“Pupuk Indonesia memegang peranan penting dari sisi produksi pupuk secara global,” katanya.
Baca juga : The Gunners Pede Abis
Bila dikaitkan dengan seberapa penting kontribusi energi ke pertanian, ia menegaskan hal itu sangat besar. Pasalnya, energi yang digunakan perseroan, seperti gas, menjadi bahan baku, bukan sebagai bahan bakar.
“Sebanyak 90 persen kebutuhan gas itu, dikonversi sebagai bahan baku dan 10 persennya untuk utilitas, atau fuel untuk pabrik,” jelasnya.
Sementara pemupukan sangat tinggi kontribusinya terhadap produktivitas tanaman, yaitu sebesar 62 persen.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.