RM.id Rakyat Merdeka - Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, dari sisi bisnis, hasilnya tidak bisa dilihat langsung saat ini.
Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung disebut sebagai penyebab PT Wijaya Karya (WIKA), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ikut konsorsium pembangunan Whoosh. Namun, Kementerian BUMN memastikan penilaian itu keliru dan tidak tepat.
Untuk diketahui, proyek kereta cepat itu dibangun dari investasi konsorsium BUMN, yang kemudian membentuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Setelah itu, menggandeng konsorsium perusahaan perkeretaapian China, melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Sehingga terbentuklah perusahaan patungan yang dinamakan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang kini menjadi operator Whoosh.
Sekadar mengingatkan, dilansir dari laman kcic.co.id, pada 16 Oktober tahun 2015, Whoosh ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016.
Baca juga : 26 Wilayah Jakarta Masuk Zona Merah
Dalam pengembangannya, KCIC beroperasi tanpa bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maupun jaminan Pemerintah Indonesia. Alhasil, pembangunan proyek Kereta Cepat Whoosh diperoleh dari dana pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75 persen.
Sisanya, atau sebesar 25 persen merupakan setoran modal pemegang saham, yaitu gabungan dari PT PSBI sebesar 60 persen dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40 persen.
Sementara komposisi pemegang saham PSBI, yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebanyak 51,37 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 39,12 persen, PT Perkebunan Nusantara I sebanyak 1,21 persen dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebesar 8,30 persen.
Sedangkan, komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd, yaitu CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen dan CRIC 5 persen.
Baca juga : Skuad Garuda Tak Ciut Nyali
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menegaskan, pembangunan infrastruktur di sektor transportasi, seperti kereta cepat, memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Apalagi proyek tersebut bukan bersifat penugasan dari Pemerintah. Sehingga tidak heran bila masing-masing perusahaan yang tergabung dalam konsorsium, harus merogoh cukup dalam kocek mereka sendiri.
“Berbeda kalau skemanya penugasan, Pemerintah bisa ikut masuk membantu. Misalnya, bantuan itu diberikan dalam bentuk PMN (Penyertaan Modal Negara),” ujar Djoko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Djoko mengatakan, dari sisi bisnis perusahaan, kereta cepat di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan kereta serupa di luar negeri. Lokasi stasiun Kereta Cepat Jakarta Bandung ini berada di pinggiran kota. Berbeda bila dibandingkan kereta cepat di luar negeri yang melintas di pusat kota.
Baca juga : Pecco Dan The Baby Alien Sangat Sulit Dikalahkan
Karena itu wajar, untuk bisa menikmati imbal hasil dari investasi yang telah digelontorkan pada proyek ini pun memakan waktu panjang.
Meski demikian, imbuhnya, Djoko meyakini keberadaan Whoosh ini lambat laun akan berkontribusi positif, khususnya terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang dilalui kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu. Apalagi mengingat, seiring waktu, manajemen KCIC mencatat kenaikan jumlah penumpang yang signifikan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.