RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah ekonom mendorong Pemerintah kompak dalam melindungi industri dalam negeri dari serangan impor.
Ekonom Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Fahmi Wibawa menilai, Purchasing Manager Index (PMI) bulan Juli 2024 masuk ke zona kontraksi karena ketidakkompakan dalam menyikapi serangan barang impor.
"Penurunan PMI pada Juni dan Juli ini tidak lepas dari relaksasi impor dengan keluarnya Permendag 8 Tahun 2024 tentang Ketentuan Impor. Buntut dari aturan ini puluhan ribu kontainer barang impor dilepaskan pada 17 Mei 2024," kata Fahmi.
Baca juga : Kasus Dugaan Korupsi LPEI, KPK Geledah Kantor Di Balikpapan
Menurut dia, relaksasi impor secara khusus terhadap tujuh kelompok barang yang sebelumnya dilakukan pengetatan impor seperti elektronik, alas kaki, pakaian jadi, aksesoris, kosmetik, dan perbekalan rumah tangga lainnya berimbas besar dan menjadikan PMI Indonesia sebagai salah satu korbannya.
Seperti diketahui, PMI Manufaktur Indonesia terus memburuk dan turun selama empat bulan terakhir. PMI anjlok dari 54,2 pada Maret 2024 menjadi 49,3 pada Juli 2024.
Ekonom senior Dradjad Wibowo juga memiliki pandangan serupa. Dia menilai, dampak relaksasi impor. Kebijakan ini membuat industri dalam negeri terpukul hingga PMI Manufaktur RI masuk zona kontraksi.
Baca juga : Realisasikan Kebijakan BMAD
“Tapi masalah ini dilematis. Tanpa relaksasi impor, kontainer akan menumpuk di gudang pelabuhan. Lalu lintas barang tersendat," katanya.
Dampaknya, lanjut Dradjad, inflasi bisa naik. Rakyat sebagai konsumen akan dirugikan. Namun demikian, dia menekankan bahwa menyalahkan relaksasi impor bukan hal yang bijak. Bahkan bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidakharmonisan kerja antar kementerian/lembaga.
Mengatasi masalah ini, menurutnya, semua pihak terkait bersama-sama mendesain kebijakan agar sinkron dan optimal dalam pengembangan industri dalam negeri, perdagangan luar negeri, serta kepabeanan dan cukai. Regulasi impor mesti diracik lagi agar baik untuk konsumen dan baik juga untuk produsen domestik.
Baca juga : Wanita Tanpa Kaki Pecahkan Rekor Skateboard Handstand
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita juga meyakini PMI Manufaktur turun dampak relaksasi impor.
"Kami tidak kaget dan logis saja melihat hasil survei ini, karena ini semua sudah terprediksi ketika kebijakan relaksasi impor dikeluarkan," ujar Agus dalam rilis resmi, Kamis (1/8/2024).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.