Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Industri Manufaktur Terancam Hancur
Realisasikan Kebijakan BMAD
Jumat, 2 Agustus 2024 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto mendesak Pemerintah segera merealisasikan kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD). Hal ini menyusul semakin terkontraksinya kegiatan industri manufaktur di dalam negeri
Darmadi menuturkan, kegiatan industri manufaktur Indonesia terpantau dalam zona kontraksi. Berdasarkan data yang dirilis S&P Global, Kamis (1/8/2024), data Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia mengalami penurunan dalam kurun waktu empat bulan terakhir ini. Data tersebut juga menunjukkan, PMI mengalami kontraksi dari 54,2 pada Maret 2024 menjadi 49,3 pada Juli 2024.
“Saya kira ini sudah mendesak agar tidak banyak lagi industri lokal yang ambruk, dan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) massal tidak terjadi,” tegas Darmadi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/8/2024).
Darmadi menuturkan, ada beberapa faktor yang membuat PMI terkontraksi. Pertama, banyak industri dalam negeri sudah terlanjur gulung tikar. Ini karena buruknya iklim usaha, banyaknya pungli dan rendahnya produktivitas produksi serta infrastruktur yang tidak memadai.
Kedua, bertumbangannya industri dalam negeri karena derasnya barang-barang impor yang masuk tanpa prosedur yang jelas.
Baca juga : Capaian Kuartal II-2024 Bank Mandiri Impresif
“Barang-barang impor yang beredar di dalam negeri ini banyak melalui jalur tidak benar. Meski sebagian barang sudah termasuk barang lartas (larangan terbatas) impor, namun barang tersebut masih bisa diimpor oleh sebagian pengusaha dengan memakai berbagai jasa yang ditawarkan,” jelasnya.
Karenanya, tak sedikit pengusaha rela membayar mahal asalkan mendapatkan kuota impor. Selain itu, sebagian barang yang dilarang impor juga bisa menggunakan jasa borongan untuk dimpor.
Kondisi itu, lanjutnya, menyebabkan banyak industri mengalami penurunan produksi. Alhasil, pelaku usaha industri terpaksa merumahkan bahkan melakukan PHK terhadap karyawannya. Situasi ini yang mengakibatkan PMI turun.
“Kondisi ini sebenarnya sudah sangat dirasakan sejumlah industri Tanah Air. Sebab, hampir 80 hingga 90 persen pabrik tekstil, pakaian, alas kaki dan keramik sudah bangkrut. Selain industri tersebut, masih banyak industri yang sedang bergumul untuk survive,” ungkapnya
Darmadi mengatakan, langkah penyelamatan yang dilakukan Pemerintah saat ini juga sudah tidak efektif atau sulit menolong kondisi sektor industri. Sebab, para pengusaha industri sudah terlanjur trauma atas kondisi perekonomian saat ini. Situasi ini diperberat oleh supply chain atau rantai pasok yang sudah rusak parah.
Baca juga : Ekspor Pakaian Dan Alas Kaki Ke Eropa Bebas Pajak
Dia menilai, inspeksi mendadak dari aparat di lapangan semakin meresahkan pengusaha dan tidak bisa menolong apa-apa. Akhirnya banyak pelaku usaha terutama para pedagang toko-toko dan mal yang tidak berani buka toko karena punya barang ilegal.
“Barang-barang tersebut sudah telanjur masuk ke Indonesia melalui jalur tidak benar, sehingga membanjiri pasar. Barang-barang tersebut sulit dimusnahkan, paling-paling jadi sasaran pemerasan oknum saja,” tandasnya.
Makanya, lanjut dia, kondisi yang tidak menentu ini membuat para pelaku usaha di bawah cemas atas kondisi ini. Mereka memutuskan lebih baik menutup toko miliknya lantaran takut disidak yang ujung-ujungnya malah memicu terjadinya pemerasan.
Untuk menyelamatkan sektor industri secara umum dari badai kehancuran, menurutnya, Pemerintah harus segera mengimplementasikan kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), sebagaimana diterapkan terhadap industri keramik.
“Kebijakan BMAD untuk keramik impor China itu cukup relevan sebagai upaya memperkuat sektor industri tanah air. Implementasi kebijakan tersebut harus segera dilakukan,” tegasnya.
Baca juga : Dishub Diminta Gercep Atasi Kisruh Mikrotrans
Dia berharap kebijakan BMAD dan langkah penegakan hukum bisa menyelesaikan persoalan ini. Pemerintah harus segera melakukan transformasi di sektor industri.
“Ketika para importir keramik bertransformasi menjadi industri, terbukti bisa menarik investasi-investasi baru,” urainya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya