BREAKING NEWS
 

Kinerja Moncer, Laba BNI Tembus Rp 10,7 Triliun di Semester I-2024

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : SRI NURGANINGSIH
Kamis, 22 Agustus 2024 19:25 WIB
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam acara paparan kinerja Semester I-2024 secara virtual, Kamis (22/8/2024). (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sukses mengantongi laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 10,7 triliun atau tumbuh hingga 3,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), inline idengan ekspektasi market di sepanjang semester I 2024.

“Kinerja BNI semakin menguat di semester I 2024, didukung akselerasi pertumbuhan bisnis. Baik dari sisi penyaluran kredit dan transaksi nasabah, maupun momentum perbaikan kualitas aset yang terjaga,” ucap Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam acara paparan kinerja Semester I-2024 secara virtual, Kamis (22/8/2024).

Royke mengatakan, menaikan laba turut didukung kinerja kredit yang mengalami akselerasi di kuartal kedua, sehingga BNI mampu mencatatkan pertumbuhan kredit per Juni 2024 sebesar 11,7 persen yoy menjadi Rp 727 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit di kuartal pertama yang sebesar 9,6 persen yoy.

“Pertumbuhan kredit ini dihasilkan dari ekspansi yang prudent di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit consumer, dan anak usaha,” ujarnya.

Tak hanya itu, akselerasi pertumbuhan kredit tersebut sambung Royke, juga tidak lepas dari stabilnya perekonomian nasional di tengah kondisi global yang sangat dinamis, serta operating environment yang membaik bagi perbankan.

Terutama sejak Bank Indonesia (BI) memberikan insentif berupa pelonggaran atas kewajiban pemenuhan giro wajib minimum (GWM) dalam rupiah kepada bank yang menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada sektor tertentu, yang berlaku sejak 1 Juni 2024.

BI melalui insentif tersebut telah memperluas cakupan sektor prioritas kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) dengan turut mencakup sektor otomotif, perdagangan, listrik, gas, air, serta sektor jasa sosial, ekonomi kreatif, dan juga pembiayaan hijau, disamping sektor hilirisasi minerba-non minerba, perumahan, dan pariwisata yang telah ada sebelumnya.

“Dengan memanfaatkan insentif ini, perbankan memperoleh tambahan likuiditas yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada masyarakat,” ujar Royke.

Baca juga : Lampaui Target, Angkasa Pura Indonesia Cetak Laba 900 Miliar di Semester I-2024

Selain itu, bagi BNI pemberian insentif ini juga berdampak positif pada Cost of Fund (CoF) yang mulai menunjukkan perbaikan di kuartal II 2024, karena dapat dimanfaatkan momentumnya untuk memperbaiki struktur DPK.

Dari sisi penyaluran kredit atau loan disbursement BNI (bank only) selama semester I 2024 mencapai Rp 171 triliun, meningkat 48 persen dibandingkan semester I-2023, yang disalurkan terutama pada korporasi blue chip baik swasta dan BUMN.

Tiga sektor ekonomi dengan penyaluran kredit terbesar adalah perdagangan, energi, dan manufaktur. Namun, secara umum BNI masih melihat loan demand yang cukup baik di seluruh sektor ekonomi. 

“Ekspansi kredit kami fokuskan pada debitur top tier di masing-masing industri dan regional yang diikuti optimalisasi bisnis dari ekosistem debitur, sehingga mendorong pertumbuhan kredit di segmen lainnya, seperti consumer yang tumbuh hingga 15,1 persen,” terangnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Finance Novita Widya Anggraini menuturkan, pertumbuhan kredit per Juni 2024 sebesar 11,7 persen menjadi Rp 727 triliun, membaik dibandingkan pertumbuhan kredit di kuartal pertama yang sebesar 9,6 persen .

“Akselerasi kredit ini dilakukan dengan tetap mengedepankan asas kehati-hatian di mana sumber pertumbuhan kredit datang dari segmen berisiko rendah. Yaitu, korporasi  blue chip baik swasta dan BUMN, dan kredit consumer, serta anak usaha,” katanya.

Kredit segmen korporasi tumbuh 18,7 persen menjadi Rp 403,1 triliun yang berasal dari korporasi blue chip baik swasta maupun BUMN.

Adsense

Segmen consumer tumbuh 15,1 persen menjadi Rp 132,7 triliun, yang dikontribusikan terutama dari pertumbuhan personal loan dan kredit pemilikan rumah (mortgage).

Baca juga : Naik 10 Persen, Bisnis Remitansi BSI Tembus Rp 50 Triliun

Penguatan peran dari anak usaha juga semakin kuat. Sinergi antar BNI Grup merupakan salah satu strategi utama untuk mendukung kinerja yang sustain.

Beberapa sinergi yang telah dilakukan adalah kerja sama joint financing  antara BNI dan BNI Finance melalui produk kredit kendaraan bermotor (KKB), serta hibank sebagai future growth engine BNI pada segmen UKM dengan memanfaatkan ekosistem BNI Group.

“Pertumbuhan kredit yang tinggi dilakukan di tengah relaksasi GWM yang diberikan oleh BI melalui insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM),” jelas Novita.

Relaksasi GWM ini memberikan tambahan likuiditas yang dioptimalkan untuk mendukung penyaluran kredit sekaligus dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur DPK BNI, dengan cara mengurangi porsi dana institusi pada giro dan deposito, lalu menggantikannya dengan deposito retail atau perorangan yang lebih efisien dari sisi bunga.

Hasilnya terlihat dari total DPK kami di semester I 2024 yang tercatat tumbuh 1 persen, didukung oleh pertumbuhan tabungan sebesar 4,3 persen dan giro 1,1 persen.

Sementara deposito terkoreksi 2,6 persen. Hal ini mendorong rasio CASA terhadap DPK naik menjadi 70,7 persen dibandingkan setahun sebelumnya sebesar 69,6 persen.

“Upaya tersebut menghasilkan efisiensi CoF, sehingga CoF di kuartal II 2024 menjadi 2,72 persen, membaik 7 bps dibandingkan kuartal sebelumnya,” tuturnya.

Ekspansi bisnis yang terakselerasi dan efisiensi dari sisi CoF yang terjadi di kuartal II 2024 menghasilkan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang meningkat 3,1 persen dari kuartal sebelumnya.

Baca juga : Naik 14 Persen,Citi Indonesia Raup Laba Bersih Rp 1,3 Triliun di Triwulan II-2024

Kinerja top line juga didukung oleh pertumbuhan Fee Based Income (FBI) yang baik mencapai 11,9 persen, didorong oleh pertumbuhan fee dari banking activities dan transaksi digital.

Novita menegaskan, sebagai dampak dari akselerasi kredit di segmen berisiko rendah, kualitas aset terus membaik yang terlihat dari penurunan rasio Non Performing Loan (NPL) dan rasio Loan at Risk (LaR).

“Rasio NPL per Juni 2024 tercatat berada di level 2 persen membaik jika dibandingkan Juni tahun lalu yang sebesar 2,5 persen,” sebutnya.

Sementara itu, LaR yang mencakup NPL, kredit pada kolektibilitas 2, dan kredit kolektibilitas lancar yang sedang direstrukturisasi tercatat sebesar 12,3 persen, membaik dibandingkan Juni tahun lalu sebesar 16,1 persen.

“Meskipun indikator kualitas aset menunjukkan perbaikan yang kuat, kami terus mengimbanginya dengan penyediaan pencadangan pada level yang cukup untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian di masa mendatang,” kata Novita.

Rasio pembentukan beban CKPN terhadap total kredit atau credit cost hingga semester I 2024 sebesar 1 persen menurun 40 bps dibandingkan credit cost yang dibentuk pada semester I tahun lalu sebesar 1,4 persen.

CKPN yang dibentuk sangat memadai untuk meng-cover kebutuhan penambahan pencadangan bagi debitur–debitur yang masih dalam perhatian khusus.

“Kecukupan pencadangan ini tergambar dari rasio pencadangan untuk NPL dan LaR pada posisi Juni 2024, yang berada di level memadai masing–masing sebesar 298 persen dan 48 persen,” ujar Novita.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense