BREAKING NEWS
 

Kembangkan Mobil Etanol, Jurus Toyota Tekan Emisi Dan Sejahterakan Petani

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 5 September 2024 20:16 WIB
Toyota Fortuner Etanol. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) komitmen mengurangi emisi. Salah satunya mengembangkan mobil berbahan bioetanol.

Pemerintah menargetkan target utilisasi Energi Baru Terbarukan (EBT)sebesar 23 persen pada 2025 dan ditingkatkan hingga 31 persen pada 2050. Berbagai inisiatif diimplementasikan untuk mencapai tujuan tersebut.

“Penggunaan EBT seperti bioenergi dapat membantu mengurangi ketergantungan konsumsi bahan bakar fosil di semua sektor terkait seperti pembangkit listrik, domestik, industri, dan sektor transportasi. Bioenergi, termasuk Biofuel, memainkan peranan utama dalam mendukung Indonesia untuk menuju transisi energi serta mereduksi emisi,” ujar Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Bob Azam di Pabrik TMMIN Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/9/2024).

Menurut dia, salah satu strategi optimalisasi potensi EBT di Indonesia yakni melalui inisiatif program bioetanol. Bioetanol dapat dihasilkan dari tanaman tebu, sorgum, jagung, singkong, dan sebagainya tergantung pada ketersediaan sumber daya di negara setempat. Sehingga tidak hanya menekan emisi saja, tapi peningkatan penggunaan tanaman-tanaman tersebut akan membantu kesejahteraan para petani Indonesia. 

Baca juga : KNDS Siapkan Transfer Teknologi Pembuatan Amunisi Dan Artileri

Bahan bakar etanol sendiri memiliki performa unggul dan emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Campuran etanol di dalam bahan bakar fosil bertujuan untuk mendukung pengurangan emisi dan impor gasoline nasional serta menciptakan pekerjaan baru di sektor perkebunan dan pengolahan bahan baku bioetanol.

“Hal ini tentunya sejalan dengan semangat menuju era transisi energi,” ujar Bob.

Menurut dia, etanol menjadi bahan bakar masa depan yang dapat membangun positive cycle, dengan peningkatan penggunaan bioetanol menggunakan tanaman yang diolah oleh para petani tentunya dapat meningkatkan taraf ekonomi serta kesejahteraan mereka. Jika petani sejahtera maka mereka akan mampu membeli mobil lagi, hal itulah yang dinamakan positif cycle. Penjualan dan konsumsi naik sementara import bahan bakar fosil akan menurun.

Adsense

Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah, ketika kinerja otomotif meningkat, maka impor bahan bakar fosil akan naik, sementara bahan bakar bioenergi yang dihasilkan petani tidak dapat maksimal diutilisasi. “Inilah yang dinamakan negative cycle, yang juga dapat menimbulkan efek domino berupa meningkatnya subsidi import bahan bakar bagi kendaraan,” tambah Bob.

Baca juga : Jelang Muktamar PKB, Cak Imin Digelari Tokoh Toleransi Dari 6 Pemuka Adat Bali

Menurut Bob, bahan bakar etanol saat ini sudah digunakan hampir di seluruh dunia. Banyak negara yang sudah mencampur bensin dengan etanol. Komposisinya ada yang dicampur dengan lima persen, ada juga yang 10 persen. Di Indonesia, bahan bakar etanol saat ini memang baru 5 persen, namun ke depannya bisa semakin tinggi. 

Saat ini Toyota Indonesia sudah bisa memproduksi mesin yang mampu menggunakan Bioetanol. “Mesin yang diproduksi juga sudah mampu menggunakan bahan bakar campuran etanol tanpa mengubah mesin yang ada,” ujarnya.

Toyota Indonesia sudah mengembangkan kendaraan dengan bahan bakar bioetanol baik di kendaraan berteknologi ICE pada Fortuner Flexy Fuel Vehicle (FFV), maupun digunakan di kendaraan berteknologi elektrifikasi pada Kijang Innova Zenix Hybrid FFV.

Kerja Sama Dengan Pertamina

Baca juga : Anggota Komisi V DPR Dicecar 10 Pertanyaaan

Pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, Toyota Indonesia berkolaborasi bersama Pertamina melakukan uji coba bahan bakar alternatif bioetanol pada unit Fortuner FFV dan Kijang Innova Hybrid FFV. Pengisian perdana dan test drive kedua produk Toyota ini menggunakan bioetanol yang bersumber dari batang tanaman sorgum.

Menurut Bob, proses produksi bahan bakar nabati tersebut menggunakan peralatan distilasi dan dehidrasi yang terdapat di fasilitas Laboratorium Technology Innovation milik Pertamina. Nira sorgum didapatkan melalui kerja sama dengan universitas setempat yang sudah melakukan uji penanaman di beberapa lahan. Setelah itu nira yang dihasilkan difermentasi menjadi bioetanol dan kemudian dimurnikan.
Semua usaha untuk mengurangi emisi melalui pemanfaatan EBT harus digencarkan, khususnya pada industri otomotif nasional. Dengan pengembangan industri otomotif yang mensejahterakan petani, akan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sehingga roadmap emisi, energi, dan otomotif mampu menjadi solusi mobilitas sekaligus mensejahterakan masyarakat.

“Sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan etanol, Pemerintah juga bisa melakukan trade off yaitu menukar barang-barang yang diekspor dengan impor etanol, sambil menyiapkan perkebunan untuk melakukan substitusi,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense