BREAKING NEWS
 

Kondisi Global Penuh Ketidakpastian

Kinerja Bank Dioptimalkan Agar Jadi Bantalan Ekonomi

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Selasa, 8 Oktober 2024 07:05 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Kinerja perbankan diyakini masih tetap tumbuh positif, bahkan hingga tahun depan meski ketidakpastian global masih tinggi. Oleh karena itu, peranan perbankan dalam menopang pertumbuhan ekonomi, diharapkan bisa lebih dioptimalkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif, dengan profil risiko yang terjaga kendati outlook kinerja perekonomian global tengah menurun.

Ekonom senior sekaligus pendiri Segara Institute, Piter Abdullah optimistis, kondisi perbankan Indonesia masih akan tetap tumbuh positif, bahkan hingga tahun depan.

“Tantangan global, tentu ada. Tapi bicara soal kondisi bank, saya yakin masih akan tumbuh stabil dan sehat ke depannya,” ujar Piter kepada Rakyat Merde­ka, kemarin.

Namun yang terpenting, kata dia, di tengah tantangan yang ada, baik secara global maupun domestik, perbankan diharap­kan bisa lebih memainkan lagi peranannya sebagai lembaga intermediasi. Yakni mengum­pulkan dana masyarakat untuk kemudian disalurkan dalam bentuk pembiayaan untuk masyarakat, serta ikut mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca juga : Kadin Usul Rakyat Dikasih Insentif Fiskal Dan Bansos

“Perbankan juga harus men­jadi agen, yang mampu mendo­rong bangsa ini untuk keluar dari kondisi ekonomi yang mengalami kelesuan,” katanya.

Pendapat senada disampaikan Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto. Menurutnya, sektor keuangan masih menunjukkan tren positif. Sebab, pendorong kinerjanya adalah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di level angka 6 persen.

Ia menjelaskan, posisi suku bunga acuan ini, diharapkan memberikan efek ke penyesuaian suku bunga perbankan, yang pada gilirannya akan me­naikkan permintaan kredit.

Sehingga perekonomian kem­bali pulih dan membaik, khu­susnya di masa transisi pemerintahan mendatang.

“Kami harapkan, hal ini mam­pu tertransmisi secara efektif dalam penurunan suku bunga perbankan dan non-perbankan, serta mendongkrak permintaan kredit nantinya,” ungkap Ryan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : APBD Fokus Atasi Macet, Banjir Dan Pengangguran

Terpisah, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menggarisbawahi, sektor jasa keuangan terjaga stabil dan pasar keuangan menguat, di tengah sentimen aki­bat periode pemotongan tingkat bunga (cut cycle) Bank Sentral di berbagai negara.

Di dalam negeri, kata dia, kinerja perekonomian stabil dengan tingkat inflasi terjaga dan neraca perdagangan yang tercatat surplus.

Bahkan ketahanan perbankan juga tetap kuat, tercermin dari permodalan (CAR/Capital Ade­quacy Ratio) yang berada di level tinggi dan meningkat, yaitu sebe­sar 26,78 persen (dibandingkan Juli 2024 sebesar 26,56 persen).

“Ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang solid, di tengah kondi­si ketidakpastian global,” kata Mahendra dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) September 2024, secara virtual, Selasa (1/10/2024).

Ia merinci, pada Agustus 2024, pertumbuhan kredit masih melanjutkan catatan double digit growth sebesar 11,40 persen secara year on year (yoy), atau menjadi Rp 7.507,7 triliun dibandingkan Juli 2024 di angka 12,40 persen.

Baca juga : Persaingan Barca Dan Madrid Mulai Panas, Lewandowski Menyala

Menurut mantan Wakil Men­teri Keuangan ini, berdasarkan jenis penggunaan, kredit in­vestasi tumbuh tertinggi, yaitu 13,08 persen, diikuti kredit kon­sumsi 10,83 persen dan kredit modal kerja 10,75 persen.

Bila ditinjau dari kepemilikan bank, sambung dia, bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) men­jadi pendorong utama pertumbu­han kredit, yaitu 13,13 persen yoy.

Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 16,51 persen. Begitu juga, kredit UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) tetap tumbuh, meskipun lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 4,42 persen.

Adsense

Dana Pihak Ketiga (DPK) per­bankan tercatat tumbuh sebesar 7,01 persen yoy (Juli 2024: 7,72 persen yoy) menjadi Rp 8.650 triliun, dengan giro, tabungan dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 10,06 persen, 6,14 persen dan 5,37 persen yoy.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense