RM.id Rakyat Merdeka - Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Indonesia kian menarik di mata investor asing. Tidak kalah dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia.
Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Sri Endang Novitasari mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, terutama usai banyak hambatan birokrasi diberesin, Indonesia semakin seksi di mata investor global.
“Kalau kita mau jujur ya, kita tuh jauh lebih baik sekali, sejak beberapa tahun yang lalu ketika kita melakukan reformasi regulasi,” kata Sri Endang dalam Podcast di kanal YouTube Rakyat Merdeka TV yang dipandu Siswanto, belum lama ini.
Upaya reformasi regulasi menjadi kunci penting. Online Single Submission (OSS) yang menyatukan 18 kementerian dan lembaga telah memangkas tatap muka dalam pengurusan perizinan. Sinkronisasi aturan pusat dan daerah juga dilakukan, termasuk penyederhanaan aturan-aturan daerah yang sebelumnya tumpang tindih.
“Kita selalu masuk ke top 20 negara-negara tujuan investasi global. Artinya apa? Bahwa kita tuh ternyata masih menarik sebagai negara tujuan investasi,” lanjutnya.
Selain itu, kekuatan ekonomi Indonesia yang besar menjadi daya tarik utama bagi investor. Dengan populasi mencapai 40 persen dari seluruh ASEAN dan menyumbang 36 persen kekuatan ekonomi kawasan, Indonesia memiliki potensi domestik market yang sulit disaingi. Faktor ini, menurut Sri, harus terus dimanfaatkan sambil tetap memperbaiki berbagai aspek lain dalam kemudahan berusaha.
Baca juga : Pesan Menag Di Natal 2024: Sebarkan Cinta Kasih & Semangat Kemanusiaan
Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang solid, bahkan sempat masuk kategori upper middle-income country di tahun 2022, dengan pendapatan per kapita mencapai 4.580 dolar Amerika.
Namun, untuk keluar dari jebakan middle-income trap, Indonesia harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen seperti ditargetkan pleh Presiden Prabowo Subianto. Investasi menjadi salah satu motor utama untuk mewujudkan target tersebut, karena berkontribusi sekitar 23-24 persen terhadap PDB.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, Indonesia membutuhkan target investasi sebesar Rp 13.528 triliun hingga 2029.
“Rp 13.528 triliun itu angka yang harus diraih investasi yang masuk Indonesia, itu tidak hanya dari penanaman modal asing tentu saja,” tandasnya.
Target ini mencakup penanaman modal asing dan dalam negeri yang difokuskan pada sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, dan energi terbarukan.
Kebijakan hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah. Dengan sumber daya alam melimpah, seperti nikel (nomor satu di dunia), timah (nomor dua), dan kelapa sawit (nomor satu), pemerintah mendorong pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.
Baca juga : Makan Bergizi Gratis, Nggak Semua Anak Dapat Susu
“Kebijakan hilirisasi itu sekarang menjadi salah satu kunci, karena kita tidak bisa bergantung pada sumber daya alam,” tegasnya.
Pemerintah juga memetakan peluang investasi di sektor energi terbarukan, seperti tenaga hidro, panas bumi, dan bahan baku panel surya. Dengan potensi sebesar 3.700 Gigawatt, sektor ini menjadi daya tarik utama bagi investor Eropa dan Amerika yang kini semakin tertarik pada proyek-proyek berkelanjutan.
Meski begitu, persaingan di ASEAN tetap ketat. Investor dari Amerika dan Eropa kerap membandingkan Indonesia dengan Thailand dan Vietnam dalam proses visibilitas studi.
Salah satu keunggulan Indonesia dibandingkan Malaysia dan Vietnam adalah percepatan izin investasi. Reformasi yang dilakukan sejak beberapa tahun terakhir membawa dampak nyata. Survei global menunjukkan peringkat kemudahan berusaha Indonesia naik ke posisi 37. Lebih baik dari Vietnam.
“Artinya apa? Bahwa dari sisi birokrasi juga kita sudah lebih baik walaupun tetap harus melakukan perbaikan,” terangnya.
Kehadiran delegasi pemerintah Amerika dan Eropa dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto juga menjadi bukti meningkatnya kepercayaan internasional. Bahkan dalam kunjungan kerja ke Inggris, misalnya, komitmen investasi senilai 8,1 miliar dolar Amerika berhasil diumumkan.
Baca juga : Indonesia & Jepang Teken Kerja Sama Pengadaan Benih Strawberry Bebas Virus
Meski tantangan tetap ada, seperti perang dagang antara Amerika dan China serta kebijakan Donald Trump, Indonesia tetap optimis dapat memanfaatkan peluang di balik tantanan tersebut. Beberapa perusahaan bahkan sudah berkomitmen untuk relokasi dari China ke Indonesia guna memenuhi kebutuhan pasar Amerika.
Di sektor kendaraan listrik, potensi Indonesia tak kalah menjanjikan. Dengan cadangan nikel melimpah, Indonesia siap menarik investor yang sebelumnya terhambat kebijakan Inflation Reduction Act di Amerika.
“Dengan tadi potensi kita punya nikel, kemudian kita punya sumber daya lainnya, kita bisa mencoba menarik kembali yang tadinya akan masuk ke Amerika untuk kita dorong masuk ke Indonesia,” katanya.
Ia juga menjelaskan perbedaan antara investor Asia dan Eropa yang memiliki karakteristik berbeda dalam pengambilan keputusan investasi. Jika Asia cenderung cepat, Eropa lebih teliti, membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk memutuskan investasi. Proses ini menuntut kesabaran dan kemampuan pemerintah dalam memberikan fasilitasi terbaik.
Bagi Indonesia, komitmen investasi yang telah diumumkan tak hanya menjadi janji, tetapi harus dikawal hingga Financial Investment Decision (FID) tercapai. Proses ini, menurut Sri Endang, memerlukan upaya konsisten dari pemerintah untuk memastikan setiap rencana investasi benar-benar terealisasi.
“Kita sangat bisa bersaing dengan Malaysia dan Vietnam walaupun dengan segala dinamikanya ya,” tegas Sri Endang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.