Sebelumnya
“Sejalan dengan penjualan positif dan kemampuan bayar yang kuat,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.
Penyaluran kredit UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) tetap tumbuh 4,76 persen yoy. Didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran, serta pertanian.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga masih tumbuh, yaitu 6,74 persen yoy, alias meningkat dari tahun sebelumnya (3,43 persen yoy). Ini menjadi salah satu faktor pendorong terjaganya likuiditas perbankan.
Menurut Dian, kondisi likuiditas bank umum juga terpantau memadai sebagaimana tercermin dari rasio Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK), masing-masing sebesar 113,64 persen dan 25,58 persen. Jauh di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen.
Tingkat permodalan juga solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 27,02 persen. Meski menurun dari tahun sebelumnya, namun didorong oleh pertumbuhan ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko) yang tumbuh 9,44 persen yoy. Ini sejalan dengan pertumbuhan kredit, dan melampaui pertumbuhan modal.
Baca juga : Airlangga: Indonesia Jadi Destinasi Belanja Menarik
“Terutama dari sisi risiko kredit, juga terpantau membaik. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross yang menurun menjadi sebesar 2,20 persen dan NPL net stabil, yaitu 0,77 persen,” jelas mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan itu.
Dian menekankan, wasit perbankan akan terus mencermati perkembangan volatilitas ekonomi global. Termasuk dampaknya kepada ekonomi domestik serta perbankan Indonesia.
OJK juga senantiasa mendorong perbankan untuk menatap tahun 2025 dengan penuh keyakinan dan optimisme serta terus memperkuat manajemen risiko. Salah satunya, penguatan permodalan dan menjaga coverage CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) yang memadai.
Pihaknya juga meminta bank-bank agar terus memperhatikan aspek kehati-hatian (prudential banking), profesionalisme dan inovatif.
“Jaga selalu integritas untuk bisa mencapai pertumbuhan yang tinggi, sehat dan berkelanjutan,” imbau Dian.
Baca juga : Subsidi Jaminan Layanan Kesehatan Salah Sasaran
Dihubungi terpisah, Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, ketidakpastian tahun ini berpotensi membatasi aliran investasi ke pasar keuangan Tanah Air.
“Adanya risiko pelemahan fundamental ekonomi dapat menyebabkan nilai tukar rupiah dan pasar surat utang domestik tertekan,” warning Josua kepada Rakyat Merdeka, Rabu (1/1/2025).
Dia melihat, fokus pasar kini bergeser dari ekspektasi pemangkasan 25 bps (basis poin) ke antisipasi nada hawkish The Fed untuk tahun 2025.
Meski begitu, Josua meyakini, upaya Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjaga rupiah, bakal mengadopsi pendekatan pelonggaran moneter yang terukur sepanjang tahun 2025. Khususnya dalam menghadapi volatilitas pasar yang meningkat di bawah Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Dengan begitu, kami optimistis masih akan ada pertumbuhan kinerja saham-saham di pasar modal,” ujarnya.
Baca juga : Inter Milan Vs Atalanta, Si Ular Besar Bidik Quattrick
Sementara dari segi perbankan, Josua menyakini, pertumbuhan kredit perbankan pada 2025 diproyeksikan masih berada di kisaran 10-12 persen secara tahunan.
“Perkiraan tersebut dengan asumsi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen (yoy),” katanya.
Karena itu, dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis dibutuhkan agar mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. DWI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Kamis, 2 Januari 2025 dengan judul "Indikator Kinerja Melampaui Target, OJK: Industri Keuangan Masih Ciamik Tahun Ini"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.