RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus menggaungkan program hilirisasi mineral. Tujuannya, meningkatkan nilai tambah mineral dan menciptakan industri yang berkelanjutan. Sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mengetahui tantangan dan dampak program tersebut, konsorsium lima lembaga terkemuka menggelar “Diskusi Hasil Riset Tantangan dan Implikasi Hilirisasi Mineral di Indonesia”. Kegiatan digelar di Hutan Kota by Plataran, Jalan Jenderal Sudirman, Gelora, Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Senin (3/2/2025).
Lima lembaga tersebut, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (PEBS FEB) Universitas Indonesia, RIG Al in Geospatial Economics Binus University, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya dan The Reform Initiative.
Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengatakan, hilirisasi mineral sangat penting. Sebab kontribusi sumber daya alam (SDA) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cukup besar. “Dari 2010-2023 kontribusinya rata-rata 42 persen per tahun. Kalau dilihat dari kontribusi ekspornya juga demikian,” kata Esthe, yang penelitiannya fokus pada hilirisasi industri tembaga.
Baca juga : Riset FEB UI: Hilirisasi Tambang Bangun Masa Depan Ekonomi Inklusif di Indonesia
Esther menuturkan, untuk industri tembaga, Indonesia kuat di hulu dan hilir. Permintaan terhadap produk olahan tembaga, seperti Cu Wire dan Electric Wire sangat kuat. “Karena dinilai produknya berkualitas baik dan harganya kompetitif. Ini adalah tanda keberhasilan awal hilirisasi. Kedepannya, kalau bisa ini terus ditingkatkan kinerjanya,” katanya.
Dia bilang, investasi sektor SDA juga terus mengalami peningkatan. Baik yang berasal dari domestik maupun asing. “Namun kami juga melihat ada tantangan dalam pengembangan hilirisasi industri ini. Pertama, adanya ketergantungan ekspor bahan mentah,” ujarnya.
Diungkap dia, konsumsi tembaga global diprediksi akan terus meningkat. Dengan pertumbuhan rata-rata 14 persen sejak 2016. Hal ini didorong oleh perkembangan industri kendaraan listrik. “Perkembangan global menuju transisi hijau membuka peluang besar bagi Indonesia sebagai negara penghasil mineral kritis untuk mendukung teknologi ramah lingkungan,” ucapnya.
Menurut dia, hal ini juga menjadi peluang bagi Indonesia untuk tidak mengekspor dalam bentuk tembaga mentah. Diolah terlebih dahulu menjadi Katoda, Cu Rod, Cu Wire atau Electric Wire. “Ketika diolah menjadi Katoda ini nilainya bisa empat kali lipat dari sisi harga, kalau diolah dari Cu Rod menjadi Cu Wire ini nilainya 24 kali lipat. Apalagi kalau diolah menjadi Electric Wire, itu sekitar 39 kali lipat. Ini sangat menguntungkan,” jelasnya.
Baca juga : Sindir Suami Yang Beradegan Mesra
Dia berharap, ke depan investasi komoditas tembaga digarap investor lokal. Sebab saat ini, masih didominasi investor asing. Hal ini, lanjut dia, butuh dukungan pemerintah sebagai regulator, termasuk perbankan domestik.
Wakil Kepala PEBS FEB Universitas Indonesia Nur Kholis mengatakan, hilirisasi tembaga sudah lebih maju dibandingkan dengan bauksit dan pasir silika. Padahal smelter bauksit yang sudah beroperasi dan sedang dibangun lebih banyak dibandingkan smelter tembaga dan hilirisasi silika.
Kholis menyebut, hilirisasi industri tambang memiliki permasalahan. Di antaranya, keterbatasan infrastruktur dan teknologi, terbatasnya tenaga kerja yang terampil, tingginya biaya produksi dan investasi, ketergantungan investasi luar negeri, permintaan pasar yang fluktuatif, regulasi yang kompleks, dan ketergantungan pada pasar ekspor.
“Hal tersebut menyebabkan masih lambatnya pertumbuhan ekonomi, masih terjadinya kerusakan lingkungan, dan ketergantungan pada impor teknologi,” kata dia.
Baca juga : Hasil Liga Inggris: Man United Bangkit, Spurs Masih Lupa Cara Menang
Selain berdampak terhadap pendapatan negara, lanjut dia, hilirisasi juga berdampak terhadap pendapatan daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. “Baik untuk daerah lokasi hilirisasi maupun daerah asal
bahan baku tambangnya, yaitu melalui DBH dan PAD, berupa Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,” ujarnya.
Ke depan, dia berharap, hilirisasi industri tambang berdampak positif dan optimal terhadap ekonomi, fiskal, sosial, dan lingkungan baik nasional maupun daerah. “Hilirisasi industri tambang merupakan prasyarat bagi sektor industri pengolahan untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia Emas 2045, yaitu agar perekonomian nasional dapat tumbuh minimal 8 persen per tahun,” tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.