BREAKING NEWS
 

Catatan Madhusudan Pandya

Bagaimana Jaringan yang Lebih Kuat Tingkatkan Daya Saing Pedesaan Indonesia

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 11 Februari 2025 20:18 WIB
Madhusudan Pandya (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat pedesaan di seluruh Indonesia terus mengadopsi berbagai inovasi digital. Hal itu membuka jalan untuk partisipasi yang lebih besar dalam berbagai kegiatan ekonomi. Konektivitas digital yang lebih baik memungkinkan bisnis di daerah pelosok untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Sebagai contoh, platform e-commerce di Indonesia memberdayakan usaha kecil dan individu untuk terhubung dengan pelanggan di seluruh nusantara. Demi memastikan penjual di pelosok dapat bersaing pada pasar yang luas, pemerintah dan sektor swasta gencar melakukan inisiatif program literasi digital untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut.

Sebagai contoh, pada sektor keuangan, kerja sama antara lembaga keuangan mikro dan perusahaan fintech telah meningkatkan akses kredit bagi masyarakat pedesaan, terutama bagi yang berbisnis di bidang pertanian dan perikanan. Didukung oleh berbagai program pengembangan infrastruktur digital yang dilaksanakan oleh pemerintah meningkatkan akses terhadap layanan keuangan serta layanan dasar yang esensial, serta mendorong pertumbuhan di sektor-sektor yang secara tradisional terpinggirkan, sehingga dapat memajukan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Tingkatkan Konektivitas Broadband di Daerah Pelosok

Kesenjangan digital di Indonesia masih menjadi tantangan, dengan daerah pelosok berpotensi tertinggal dari pusat-pusat kota dalam hal konektivitas. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di daerah pelosok baru mencapai sekitar 80 persen dari jumlah populasi di area pedesaan.

Pemerintah telah berkomitmen dan mengambil tindakan untuk meningkatkan konektivitas di daerah pedesaan. Contohnya melalui program prioritas seperti Penyediaan Akses Internet Broadband Tetap (FBB). Sejauh ini, data menunjukkan bahwa persentase rumah tangga yang telah dilayani oleh jaringan akses broadband tetap telah mencapai 20,86 persen atau 14.332.914 rumah tangga dari total 68.700.700 rumah tangga di Indonesia.

Baca juga : Hadiri Pelantikan MBI, Bamsoet Dorong Bikers Tingkatkan Budaya Aman Berkendara

Hal ini merupakan langkah-langkah penting dalam menjembatani kesenjangan infrastruktur jaringan. Layanan broadband kini dianggap sebagai kebutuhan penting di samping listrik, gas, dan air. Tanpa konektivitas dengan kecepatan tinggi, bisnis di pedesaan akan kesulitan menjangkau pelanggan potensial, terhubung dengan mitra, dan terlibat aktif dalam ekonomi digital. Meskipun kebijakan dan inisiatif yang bermanfaat telah hadir untuk menjembatani kesenjangan pedesaan-perkotaan, warga di pedesaan mungkin masih merasa kurang akses terhadap layanan dasar yang penting.

Kunci Perluas Akses Digital

Jaringan fiber optik, khususnya jaringan middle-mile, sangat penting untuk menjembatani kesenjangan digital. Jaringan ini berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan backbone internet nasional ke Penyedia Layanan Internet (ISP) last-mile, sehingga memainkan peran kunci dalam konektivitas broadband dan inklusi digital pada masyarakat pedesaan.

Di Indonesia, kolaborasi antara pemerintah, ISP, dan komunitas lokal telah memperlihatkan janji dalam memperluas jaringan middle-mile, mengurangi biaya bagi penyedia layanan, dan memungkinkan investasi lebih lanjut dalam konektivitas last-mile.

Adsense

Jaringan middle-mile dapat mendukung konektivitas untuk kota-kota kecil dengan lembaga penting seperti perguruan tinggi, rumah sakit, dan penyedia layanan dasar. Pemerintah daerah dapat bekerja untuk menggabungkan upaya mereka dalam mengembangkan jaringan middle-mile yang menjadi pendorong untuk memperluas inklusi digital.

Baca juga : Kapolri Tegaskan Polri Komitmen Tingkatkan Pelayanan Dan Perlindungan Masyarakat

Dengan menyediakan redundancy dan ketahanan, jaringan ini dapat membantu masyarakat menghindari pemadaman internet yang dapat mengganggu layanan penting seperti rumah sakit dan keselamatan publik. Resiliensi dicapai melalui perangkat lunak pendeteksi masalah yang cepat dan pemeliharaan koneksi otomatis. Sedangkan redundancy memastikan pengalihan rute yang mulus jika terjadi pemutusan kabel. Maka dari itu, jaringan middle-mile sangat cocok untuk diimplementasikan di Indonesia, mengingat wilayah Indonesia yang rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Jaringan middle-mile dapat menyediakan konektivitas yang terjangkau ke lembaga pusat serta mengurangi biaya bagi penyedia layanan dan perusahaan lain yang memberikan konektivitas last-mile. Hal ini menciptakan insentif yang secara aktif memungkinkan investasi last-mile. Dengan menggunakan pendekatan middle-mile, wilayah yang belum terlayani dan kurang terlayani dapat mengakses berbagai pilihan konektivitas sekaligus mengurangi biaya. Akibatnya, jaringan ini berfungsi sebagai pendorong untuk membawa peluang bisnis dan pekerjaan ke daerah pedesaan dan daerah yang kurang terlayani.

Pertumbuhan Digital Inklusif: Rencana Masa Depan

Dengan keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau memberikan tantangan tersendiri dalam hal konektivitas. Namun, program yang sedang berlangsung seperti program Bakti Kominfo Kewajiban Pelayanan Universal (KPO) yang bertujuan untuk menghubungkan lebih dari 5.000 desa yang belum terlayani pada tahun 2025, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempercepat konektivitas wilayah terpencil dan secara konsisten memajukan ekonomi desa.

Meskipun demikian, jaringan fiber optik hanyalah salah satu bagian dari persamaan konektivitas. Berinteraksi dengan bisnis dan masyarakat untuk memahami kebutuhan dan masalah spesifik mereka tetap menjadi hal yang krusial dalam mengembangkan strategi holistik jangka panjang yang mampu meningkatkan daya saing di pedesaan.

Baca juga : Bamsoet Dorong APLI Terus Tingkatkan Industri Penjualan Langsung di Indonesia

Sebagai langkah selanjutnya, kolaborasi antar instansi, ISP, dan pihak ketiga dapat memfasilitasi pembagian sumber daya untuk merampingkan penyebaran broadband di daerah pelosok. Dengan memanfaatkan keahlian dan kekuatan unik dari berbagai pemangku kepentingan, bersama-sama dapat menciptakan jaringan yang dibangun khusus yang selaras dengan tujuan pemerintah kota.

Tujuan ini dapat mencakup kegiatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, kesempatan pendidikan dan sosial, serta mengembangkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Untuk mendorong kerja sama semacam itu dan mencapai tujuan bersama, para pemangku kepentingan harus mendorong komunikasi terbuka dan transparansi untuk membangun rasa saling percaya.

Dengan kombinasi rencana yang matang, hubungan berbasis kepercayaan antara para pemangku kepentingan, dan penyebaran teknologi fiber optik generasi berikutnya, visi pertumbuhan daerah pedesaan di Indonesia dapat diwujudkan, sehingga dapat menyamaratakan tingkat pertumbuhan dan mendorong era perkembangan selanjutnya.

Madhusudan Pandya
Senior Advisor, International Market Development (5G, Cloud, AI, IP/Optical), Ciena.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense