BREAKING NEWS
 

Dorong Akses Pembiayaan Dan Literasi Keuangan

IWAPI Gandeng ADB-IsDB Survei Kepemilikan Usaha Perempuan

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Jumat, 28 Februari 2025 19:14 WIB
Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IsDB) menggelar Sosialisasi dan Pengisian Survei Kepemilikan Usaha oleh Perempuan dan Literasi Akses Pembiayaan di Ballroom JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, (26/2/2025). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagai upaya memperkuat peran perempuan pengusaha di Indonesia, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IsDB) menggelar Sosialisasi dan Pengisian Survei Kepemilikan Usaha oleh Perempuan dan Literasi Akses Pembiayaan di Ballroom JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, (26/2/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari 35 DPD IWAPI di seluruh Indonesia, baik secara online maupun offline.

Ketua Umum IWAPI Nita Yudi, menegaskan IWAPI berkomitmen untuk menjadi jembatan bagi perempuan pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya.

"Kami mengajak seluruh anggota untuk berpartisipasi dalam survei ini agar data yang terkumpul dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan pengusaha," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum IWAPI Rinawati Prihatiningsih menjelaskan bahwa hanya 31 persen usaha formal di Indonesia dimiliki oleh perempuan, mayoritas dalam skala mikro dan kecil. Tantangan terbesar adalah akses modal, hanya 18 persen perempuan pengusaha yang memiliki akses penuh ke kredit formal.

Baca juga : Tingkatkan Perlindungan, Askrindo Gandeng Asuransi Kebakaran Developer Dan Deprindo

"Minimnya jaringan bisnis, keterbatasan informasi, serta norma sosial masih menjadi penghalang utama perempuan dalam memperluas pasar dan mengambil peran kepemimpinan dalam bisnis," tambahnya.

Survei ini merupakan bagian dari implementasi WE Finance Code, sebuah inisiatif global yang telah diterapkan di Indonesia dengan tujuan menutup kesenjangan akses pembiayaan usaha bagi perempuan.

"IWAPI, sebagai salah satu penandatangan komitmen WE Finance Code, terus berupaya untuk memastikan bahwa perempuan pengusaha memiliki kesempatan yang lebih setara dalam mendapatkan layanan keuangan guna memperluas dan mengembangkan usahanya," jelas Rina.

Melalui survei ini, IWAPI ingin mengidentifikasi faktor-faktor yang masih menghambat perempuan pengusaha dalam memperoleh akses ke layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya, serta mencari solusi konkret yang dapat diterapkan di tingkat nasional. IWAPI menggandeng BTN, BNI, dan Fintech Gradana Indonesia untuk memberikan edukasi terkait akses pembiayaan dan pengelolaan keuangan.

Adsense

BTN menyoroti pentingnya skema kredit yang lebih inklusif, sementara BNI mendorong pemanfaatan layanan keuangan digital. Gradana Indonesia, sebagai platform fintech, menekankan solusi alternatif bagi mereka yang kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank.

Baca juga : Kolaborasi Dengan Insan Pers Kunci Keberhasilan Tugas Kepolisian

Menurut Early Rahmawati, konsultan IsDB, dari 117 anggota IWAPI yang mengikuti survei, masih banyak yang belum memahami pentingnya asuransi usaha, dan hanya 50 persen responden yang pernah mengakses pinjaman usaha.

"Banyak perempuan pengusaha masih berhati-hati dalam mengambil risiko, padahal akses ke pembiayaan adalah kunci pertumbuhan bisnis mereka," ujarnya.

Acara ini juga menghadirkan Direktur Pengembangan Inklusi Keuangan OJK, Edwin Nurhadi, yang memaparkan tantangan perempuan pengusaha dalam mengakses pembiayaan serta peran regulasi dalam mendukung inklusi keuangan.

Lebih lanjut, OJK terus berupaya meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM, termasuk melalui Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang Pemberian Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM.

Dengan regulasi ini, diharapkan semakin banyak perempuan pengusaha yang dapat memperoleh kredit dan pembiayaan yang lebih fleksibel dan mudah diakses.

Baca juga : Langkah Pembenahan Transportasi Untuk Mengurai Kemacetan Jakarta

Bido Budiman, konsultan ADB, menegaskan bahwa survei ini akan menjadi landasan dalam merancang kebijakan dan program yang lebih efektif.

"Kami ingin memastikan perempuan pengusaha memiliki akses lebih luas ke modal dan peluang bisnis," katanya.

Rinawati Prihatiningsih menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif bagi perempuan pengusaha.

Melalui survei ini, IWAPI, ADB, dan IsDB berharap dapat mengidentifikasi tantangan utama perempuan pengusaha serta mendorong kebijakan yang lebih mendukung pertumbuhan mereka.

Dengan kolaborasi yang semakin kuat dan partisipasi luas dari 35 DPD IWAPI di seluruh Indonesia, perempuan pengusaha diharapkan dapat berkembang lebih pesat dan bersaing di tingkat global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense