BREAKING NEWS
 

Dijual Di Atas HET Saat Ramadan

Bulog Diminta Jaga Stok Dan Stabilkan Harga Beras

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Selasa, 4 Maret 2025 07:05 WIB
Beras Bulog (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Memasuki Ramadan, peningkatan harga sejumlah komoditas pangan tak terelakkan. Karena itu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Perum Bulog, harus sigap menjaga stok dan menstabilisasi harga di pasaran.

Peneliti Center for Indone­sian Policy Studies (CIPS) Rach­mad Supriyanto mengatakan, setiap kali harga beras naik, masyarakat resah. Kenaikan ini, sejalan dengan peningkatan permintaan atau konsumsi masyarakat, seperti saat Ramadan maupun Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) lainnya.

Untuk itu, Perum Bulog di­harapkan mampu mengelola stok pangan nasional, seperti be­ras, guna memenuhi kebutuhan tersebut agar harga tetap terjaga.

Apalagi Pemerintah telah memberlakukan kebijakan Har­ga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 6.500 per kilogram (kg), dari sebelumnya Rp 6.000 per kg.

“Kebijakan HPP itu agar Bu­log dapat menyerap stok beras dalam negeri,” kata Rachmad kepada Rakyat Merdeka, Senin (3/3/2025).

Dia juga mengingatkan, Pe­rum Bulog harus berkompe­tisi dengan pihak swasta dalam membeli GKP, GKG (Gabah Kering Giling) dan beras giling dari petani dengan harga pasar.

“Penetapan HPP juga bertu­juan melindungi petani, teru­tama ketika pasokan melimpah saat masa panen,” katanya.

Rachmad melihat, berbagai tantangan lain juga terjadi di sisi ritel. Yakni ketika harga berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), maka Bulog perlu melakukan upaya stabilisasi, dengan menggelar Operasi Pasar. Artinya, Bulog harus menambah pasokan beras dari gudangnya sendiri.

Baca juga : Pelayanan ASN Kepada Warga Tak Boleh Kendor

Sayangnya, berbagai upaya stabilisasi harga ini sifatnya jangka pendek.

“Ketika ada kesenjangan harga, maka para petani berpotensi menjual berasnya ke swasta yang mau membayar lebih mahal dari harga yang sudah ditetapkan,” jelasnya.

Menurut Rachmad, hal ini tak menutup kemungkinan akan ber­dampak pada menurunnya sera­pan beras Bulog dalam negeri.

Karena itu, tetap dibutuhkan solusi jangka panjang yang tidak bisa hanya bergantung pada intervensi harga.

“Tetapi harus berfokus pada modernisasi pertanian dan efisiensi rantai pasok,” tutur Rachmad.

Menurutnya kebijakan beras juga perlu mempertimbangkan berbagai aspek. Sebab, kebijakan penetapan harga sangat mungkin mendistorsi pasar dan tidak men­gatasi persoalan utama.

Adsense

“Belum efisiennya proses produksi beras, pada akhirnya menyebabkan kualitasnya be­lum terlalu baik dan harganya tinggi,” warning-nya.

Soal menjaga stok dan stabi­lisasi harga pangan ini, Perum Bulog memastikan segala upaya akan terus dilakukan.

Baca juga : PSV Eindhoven Vs Arsenal, Duel Pelampiasan Kekecewaan

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan, pihaknya telah menetap­kan target penyediaan stok beras nasional yang stabil dan dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik itu dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maupun hasil pembelian gabah dari petani domestik.

“Masyarakat tidak perlu kha­watir tentang kelangkaan paso­kan beras. Total stok beras yang dikuasai Bulog sekitar 1,9 juta ton,” terang Suyamto dalam jumpa pers Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Pangan Selama Ramadan dan Idul Fitri di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Selain itu, pihaknya juga akan melaksanakan operasi pasar pangan murah, seperti beras, gula dan bahan pokok lainnya di sejumlah daerah. Mengingat ko­moditas tersebut rentan mengalami lonjakan harga menjelang Ramadan dan Hari Raya.

Bulog berjanji akan terus melakukan stabilisasi harga di tingkat produsen maupun konsumen.

“Misalnya beras kami stabilisasi di tingkat produsen, petani juga akan kami cek harganya. Di konsumen juga kami jaga harganya,” ungkap Suyamto.

Dalam menggelar operasi pasar pangan murah, pihaknya berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), PT Pos Indo­nesia (Persero), Holding BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Pangan atau ID Food dan BUMN terkait lain untuk memperluas jangkauan penyaluran bahan pangan ke masyarakat.

Dengan begitu, diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih stabil.

Dia meyakini, melalui lang­kah-langkah ini, baik dalam hal pengelolaan stok beras, operasi pasar dan penyerapan gabah, pihaknya dapat mendukung kebijakan Pemerintah dalam menciptakan ketahanan pangan yang kuat. Sekaligus memberi­kan manfaat langsung kepada masyarakat serta petani.

Baca juga : Agnez Mo, Diselingkuhi Corbuzier

Karena itu, Bulog optimistis dapat menjaga kestabilan pa­sokan dan harga bahan pangan. Termasuk memberikan manfaat langsung kepada petani dan konsumen di seluruh Indonesia.

Menurutnya, penugasan dari Pemerintah kepada Bulog untuk menyerap gabah hasil panen petani dalam negeri, memiliki dua tujuan.

“Pertama, bagaimana petani mendapatkan harga minimal HPP GKP sebesar Rp 6.500 per kg. Kedua adalah swasembada,” katanya.

Pihaknya juga melakukan pengadaan melalui mitra kerja dengan persyaratan, mereka membeli ke petani seharga Rp 6.500 per kg.

“Baik Bulog maupun peng­gilingan swasta tetap membeli GKP di tingkat petani sebesar Rp 6.500 per kilogram,” tegas Suyamto. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense