RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menyoroti kondisi industri otomotif di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan tekanan ekonomi.
Berdasarkan data Gaikindo penjualan mobil pada Januari 2025 hanya mencapai 60.000 unit. Turun dari sebelumnya yang mencapai 70.000 unit.
“Kami berharap tahun ini tidak lebih buruk dari tahun kemarin. Tapi tantangannya besar, terutama karena kita dibayangi oleh tingginya non-performing loan (NPL). Ini harus diperbaiki dengan memperkuat struktur ekonomi, khususnya bagi kelas menengah,” ujar Bob Azam di Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Menurutnya, salah satu solusi untuk mendorong penjualan adalah dengan memberikan relaksasi pajak, seperti yang pernah dilakukan pemerintah saat pandemi Covid-19. Ia menilai kebijakan tersebut terbukti efektif meningkatkan daya beli masyarakat, mendorong penjualan, dan pada akhirnya juga meningkatkan pendapatan negara.
Baca juga : Manjain Pengguna Mobil Listrik, Toyota Sediakan Parkir Dan Charging Spot Di MOI
“Pengalaman kita waktu Covid, begitu pemerintah kasih relaksasi, penjualan naik, revenue pemerintah juga naik. Jadi yang perlu dicari adalah sektor mana yang jika diberikan insentif justru bisa mendongkrak penerimaan negara, bukan malah menguranginya,” jelasnya.
Bob Azam juga menekankan bahwa kebijakan pajak seharusnya tidak hanya berorientasi jangka pendek, melainkan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Kita harus pelajari sektor mana yang insentif pajaknya bisa kembali dalam waktu tertentu. Ada yang bisa balik dalam 6 bulan, 1 tahun, atau bahkan 3 tahun. Yang penting ada perhitungan jelas, jangan sampai kita bertahan tanpa solusi dan kondisi terus memburuk,” paparnya.
Ia mencontohkan kebijakan di Nagoya, Jepang, di mana pemerintah setempat memberikan insentif yang baru memberikan hasil setelah tiga tahun. Namun, yang terpenting menurutnya adalah adanya kepastian dan strategi yang jelas dalam kebijakan fiskal.
Baca juga : Rektor Untad Minta Pemerintah Relaksasi Kebijakan Efisiensi
Bob Azam juga menyoroti ketimpangan dalam kebijakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), di mana mobil Low Cost Green Car (LCGC) masih dikenakan pajak, sementara beberapa kendaraan mewah justru dibebaskan dari PPnBM.
“Ini yang menurut saya kurang adil. LCGC yang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah masih kena pajak, sementara yang lebih mewah ada yang bebas PPnBM. Harusnya kebijakan ini bisa lebih mempertimbangkan daya beli masyarakat bawah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa industri otomotif memiliki multiplier effect yang sangat besar terhadap perekonomian. Dengan rantai pasok yang luas, sektor ini menciptakan banyak lapangan pekerjaan, mendukung industri komponen, serta memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan pajak daerah melalui pajak kendaraan.
“Hampir semua pemerintah daerah mengandalkan pajak kendaraan sebagai sumber pendapatan. Industri otomotif juga berkontribusi besar dalam ekspor. Jadi, tidak ada salahnya pemerintah memberikan dukungan lebih untuk sektor ini,” katanya.
Baca juga : Penjualan Mobil Rontok, Menperin Minta Produsen Turunkan Harga
Bob Azam menegaskan bahwa selain mendukung industri otomotif, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah bisa memberikan sentimen positif bagi perekonomian secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa tidak akan ada investasi baru di sektor industri jika pasar domestik terus melemah dan daya beli masyarakat terus menurun.
“Kalau daya beli masyarakat turun, market ikut turun, maka investasi juga sulit masuk. Kecuali investasi di sektor sumber daya alam, tapi itu pun sekarang harga komoditas juga sedang tidak terlalu bagus,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk bekerja sama dengan dunia usaha dalam mencari cara terbaik untuk memulihkan daya beli masyarakat. Salah satunya dengan memberikan insentif yang terukur dan memiliki dampak jangka panjang bagi perekonomian.
“Kalau pemerintah bisa sepakat dengan dunia usaha untuk mencari solusi dalam mengembalikan daya beli, itu akan memberikan sinyal yang kuat dan positif bagi ekonomi kita,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.