Dark/Light Mode

Penjualan Mobil Rontok, Menperin Minta Produsen Turunkan Harga

Sabtu, 1 Maret 2025 12:35 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Ist)
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan signifikan sepanjang 2024. Berdasarkan data terbaru, total penjualan domestik hanya mencapai 865 ribu unit, turun 13,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Faktor utama yang menyebabkan stagnasi pasar otomotif ini adalah penurunan daya beli masyarakat, inflasi, serta ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu kendala terbesar adalah harga mobil yang masih relatif tinggi, yang semakin membebani konsumen. Biaya produksi, bahan baku, serta kebijakan pajak dan regulasi industri turut berkontribusi terhadap mahalnya harga jual kendaraan.

Baca juga : Menkop: Penguatan Koperasi Untuk Kesejahteraan Rakyat

Untuk mengatasi kondisi ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong para pelaku industri otomotif untuk menyesuaikan harga agar lebih terjangkau dan mendukung daya beli masyarakat.

Dalam peresmian pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 (KAP2) milik PT Astra Daihatsu Motor (PT ADM) pada Kamis (27/2/2027), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, langkah strategis diperlukan guna meningkatkan daya beli masyarakat.

“Kami mengharapkan perusahaan otomotif dapat menyesuaikan harga dan bersedia mengurangi margin keuntungan agar pasar tetap bergerak. Hal ini penting agar industri otomotif bisa kembali bangkit dan mencapai pertumbuhan positif di tahun ini,” ujar Agus Gumiwang.

Baca juga : BCA Perkuat Keamanan Siber Untuk Lindungi Transaksi Nasabah

Selain itu, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan menerbitkan berbagai kebijakan, termasuk insentif kendaraan ramah lingkungan serta mendorong efisiensi industri guna menekan biaya produksi.

Meski Indonesia memiliki populasi besar, yakni 281 juta jiwa pada 2024, rasio kepemilikan mobil masih rendah, hanya 99 unit per 1.000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar dalam negeri masih sangat besar, namun harga yang tinggi menjadi tantangan utama dalam menarik minat konsumen.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Kukuh Kumara menyoroti, kesenjangan antara kenaikan harga mobil dan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa harga mobil naik rata-rata 7,5 persen per tahun, sementara pendapatan masyarakat hanya meningkat sekitar 3 persem per tahun. Kondisi ini membuat jarak antara harga mobil dan kemampuan beli masyarakat semakin lebar, seperti “mulut buaya” yang terus menganga.

Baca juga : Tantangan Tata Kelola Manajemen Pemerintahan Presiden Prabowo

Akibat ketimpangan ini, banyak konsumen beralih ke pasar mobil bekas. Data menunjukkan bahwa penjualan mobil bekas mencapai 1,8 juta unit per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan mobil baru yang hanya sekitar 1 juta unit.

Kukuh juga menyoroti kenaikan harga mobil Low Cost Green Car (LCGC), yang awalnya dirancang terjangkau, namun kini beberapa modelnya sudah menembus harga di atas Rp 200 juta. Hal ini semakin menyulitkan konsumen yang mencari kendaraan hemat biaya.

Untuk mengatasi masalah ini, Kukuh mengusulkan agar pertumbuhan ekonomi nasional ditingkatkan menjadi 6-7 persen per tahun agar pendapatan masyarakat dapat mengejar kenaikan harga mobil. Selain itu, strategi harga yang lebih kompetitif dari produsen otomotif juga menjadi kunci untuk mendorong kembali pertumbuhan penjualan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.