BREAKING NEWS
 

Sukses Nego AS, Ketegangan Perang Tarif Mencair

Pemerintah Didorong Ngekor Langkah China

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Kamis, 15 Mei 2025 07:05 WIB
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketegangan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan China, mencair pasca kedua negara raksasa itu melakukan negosiasi. Meski begitu, dunia usaha  memandang perekonomian global masih penuh ketidakpastian sehingga akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi dalam negeri diramal melambat dari 5,03 persen pada 2024 menjadi 4,5 hingga 5,0 persen pada 2025. 

Berdasarkan Permata Institute for Economic Research (PIER) oleh PT Bank Permata Tbk, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 tersebut lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 5,11 persen. 

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, meski ketegangan telah mereda, namun ketidakpastian perang dagang masih akan terlihat. Serta mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi.

“Sehingga ini berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang diprediksi akan melambat, lebih rendah dari target sebelumnya,” terang Josua dalam acara PIER Kuartal I-2025 Economics Review di Jakarta, Rabu (14/5/2025). 

Josua melanjutkan, perang dagang juga akan mempengaruhi pertumbuhan sektoral, meskipun dampaknya akan bervariasi. 

Terutama terhadap sektor de­ngan orientasi ekspor dan memiliki ketergantungan terhadap pasar AS yang relatif tinggi.

Seperti tekstil dan garmen, kulit dan alas kaki, elektronik, furniture, dan produk karet, akan terkena dampak yang cukup signifikan, dan dapat menurunkan pertumbuhan sektor tersebut di tahun 2025.

“Tetapi sektor-sektor yang berorientasi pada pasar domestik, seperti jasa dan perdagangan diyakini masih akan menjadi motor utama pertumbuhan tahun ini,” harapnya.

Baca juga : Paviliun RI Jadi Panggung Promosi Proyek Unggulan

Josua menilai, adanya peningkatan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan yang tampak lesu, dapat membuka ruang bagi pelonggaran moneter. 

Jika ketidakpastian global mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat, imbuh Josua, Bank Indonesia (BI) bisa saja memangkas suku bunga acuan (Bl Rate) hingga 50 basis poin sepanjang sisa tahun ini.

Menurut dia, dalam meres­pons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus tepat sa­sa­r­an, Pemerintah diharapkan mendorong konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak.

Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2025 sebesar 4,87 persen secara tahunan atau year on year (yoy). 

Realisasi itu lebih rendah dibandingkan 5,02 persen pada kuartal sebelumnya, dan menjadi laju paling lambat sejak kuartal III-2021.

Lalu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor utama ekonomi melambat tipis menjadi 4,89 persen secara tahunan. 

“Hal ini didorong oleh melemahnya daya belanja pada sub-komponen makanan dan minuman serta transportasi dan komunikasi,” jelas Josua.

Di kesempatan yang sama, Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman menuturkan, mesin utama pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu permintaan domestik, seperti konsumsi rumah tangga, serta berasal dari investasi. 

Adsense

“Hal ini turut ditopang oleh berakhirnya tahun politik dan agenda pro-pertumbuhan (pro-g­rowth) Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” jelas Faisal.

Baca juga : DKI Didorong Perbanyak Beli Truk Sampah Listrik

Faisal mengingatkan, adanya ketidakpastian global yang terus meningkat akan berdampak pada sektor eksternal Indonesia.Seperti ekspor-impor serta pasar keuangan, terutama suku bunga, nilai tukar rupiah, dan imbal hasil (yield) obligasi, sehingga terdapat tekanan stabilitas.

Meskipun pada April 2025 cadangan devisa terpangkas sebesar 4,6 miliar dolar AS (Rp 76,15 triliun) menjadi 152,5 miliar dolar AS (Rp 2.523,7 triliun), Faisal meyakini, jumlah tabungan valuta asing (valas) tersebut akan kembali naik pada semester II nanti, seiring dengan kebutuhan dolar yang termoderasi.  Hal ini memberikan kabar baik.

“Karena kemungkinan rupiah masih mengalami tren pe­nguatan ke depannya, ditopang oleh kestabilan cadangan de­­visa,” tutur Faisal.

Tak hanya itu, balancing between maintaining stability and supporting growth (menyeimbangkan antara menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan), juga menjadi krusial untuk tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen atau lebih.

Negosiasi Tarif

AS-Indonesia

Saat perang tarif AS-China mereda, Josua berharap, memberikan sinyal positif bagi berbagai negara untuk melakukan negosiasi tarif dengan AS, termasuk Indonesia.

Josua optimistis, negosiasi tarif AS ke Indonesia akan se­gera mendapatkan titik terang. Sebab, selama ini hubungan Indonesia dengan AS baik-baik saja. Tidak seperti hubungan AS dan China yang terus mengalami gejolak dalam beberapa waktu terakhir. 

“Amerika dengan China sa­ja sudah melunak, mestinya Pemerintah Amerika dengan Indonesia juga bisa lebih melunak dan mulus lagi,” harapnya.

Baca juga : Espanyol Vs Barcelona, Derbi Untuk Sang Juara

Josua menuturkan, kesepakat­an negosiasi perang dagang an­tara AS dan China terjadi lan­taran adanya penawaran dari Pemerintah China kepada AS. 

Penawaran tersebut, katanya, akan sangat menguntungkan pihak AS, dan begitu juga dari AS ke China.

Menurut Josua, hal itu perlu juga dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam negosiasi. Sebab, negosiasi tarif ini bukan serta-merta hanya mengimbangi neraca perdagangan AS.

“Namun juga adanya investasi dari Indonesia yang masuk ke Amerika,” tuturnya.

Dia menyebut, yang mesti harus diusahakan oleh Peme­rintah Indonesia bukan hanya semata-mata kebijakan tarif. Tapi juga kebijakan non-tarif dan kebijakan yang berkaitan de­ngan investasi. 

“Bagaimana upaya agar ada investasi dari Indonesia ke Ame­rika, sehingga saya pikir (harus ada) proposal yang agak sulit untuk ditolak oleh Presiden Trump,” ucapnya.

Menurutnya, Pemerintah juga  harus melihat dan mencontoh bagaimana strategi negosiasi Pemerintah China ke Negeri Paman Sam.

“Karena (tarif impor) dari 100 persen le­bih menjadi 30 persen, berarti dalam negosiasi itu kedua belah pihak menawarkan proposal yang oke,” kata Josua. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense