RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan terus memantau perkembangan ekonomi global, terutama dampak dari pengumuman tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Saat ini (dampaknya) relatif lebih terbatas dan mungkin masih lebih banyak mencerna terhadap apa yang terjadi,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2025 secara virtual, Selasa (8/7/2025).
Menurut Mahendra, pasar masih menunggu perkembangan yang akan terjadi hingga tarif dagang berlaku efektif pada 1 Agustus 2025. Sebab, kemungkinan perubahan tarif tetap terbuka hingga tiga pekan ke depan.
“OJK turut memantau perkembangan tersebut dengan cermat,” tegas mantan Wakil Menteri Keuangan itu.
Mahendra menjelaskan, berbagai dampak yang mungkin terjadi di sektor keuangan imbas penerapan tarif dagang juga dikalkulasi, agar otoritas dapat mengambil upaya mitigasi yang tepat.
Kebijakan yang pernah diterapkan beberapa bulan lalu juga berpotensi diaktivasi atau diberlakukan kembali oleh OJK, sebagai langkah antisipasi.
Mahendra mengatakan, kebijakan yang terkait dengan transaksi efek, kebijakan terkait pengelolaan investasi maupun stimulus dan relaksasi bagi pelaku industri, juga dapat diterapkan sewaktu-waktu.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini juga mengingatkan, lembaga-lembaga internasional kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025 dan 2026.
Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Co-operation and Development/OECD) menilai, ketidakpastian perkembangan geopolitik masih membayangi prospek pemulihan ekonomi ke depan.
Baca juga : Akhirnya, Naili-Ome Menangkan Pilkada
“Kami melihat perkembangan hari ini (kemarin), keputusan dari AS berkaitan dengan tingkat tarif kepada sejumlah negara-negara lain, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Selanjutnya, tensi geopolitik kembali meningkat, terutama di kawasan Timur Tengah saat terjadinya perang Israel dan Iran, disusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir utama di Iran.
OJK mencatat, tekanan terhadap pasar keuangan dan harga minyak mereda, setelah gencatan senjata Israel dan Iran diberlakukan.
Di tengah perkembangan itu, indikator ekonomi global menunjukkan tren moderasi dan sebagian besar di bawah ekspektasi perkiraan sebelumnya. Hal ini mendorong kebijakan fiskal dan moneter global yang lebih akomodatif.
Di Negeri Paman Sam, meski outlook pertumbuhan ekonomi diturunkan, Bank Sentral AS atau The Fed masih belum menurunkan suku bunganya.
“Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 4,25 sampai 4,5 persen, menunggu kejelasan kebijakan tarif dan dampaknya terhadap inflasi,” katanya.
Meski begitu, Mahendra menyebut, perekonomian domestik masih menunjukkan resiliensi di tengah tekanan global. Laju inflasi terus menurun, dengan inflasi inti tercatat termoderasi di level 2,37 persen.
“Dari segi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 mencatatkan surplus cukup besar, setelah sempat mengalami tekanan pada bulan sebelumnya,” ungkapnya.
Kinerja ekspor pun menunjukkan perbaikan, terutama didorong oleh pertumbuhan positif pada ekspor produk pertanian dan manufaktur dalam tiga bulan terakhir.
Baca juga : BRICS Jadi Penyeimbang Sistem Ekonomi Global
“Peningkatan ini berhasil mengimbangi penurunan yang terjadi pada ekspor produk pertambangan dan komoditas lainnya,” ujar Mahendra.
Untuk itu, OJK juga terus meminta Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Tanah Air selalu proaktif melakukan penilaian risiko (asesmen) dan melakukan stress test secara berkala terhadap ketahanan permodalan dan kecukupan likuiditas. Semua itu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menambahkan, dari sisi intermediasi perbankan, mencatat kredit perbankan tumbuh sebesar 8,43 persen year on year (yoy), atau menjadi Rp 7.997 triliun pada Mei 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 8,88 persen.
“Kinerja intermediasi perbankan stabil dengan profil risiko yang tetap terjaga,” tegasnya.
Namun, menurut Dian, sebagian besar bank merevisi ke bawah target bisnis pada tahun ini dalam perubahan Rencana Bisnis Bank (RBB). Ini merespons kondisi perekonomian global dan domestik yang menantang.
Dian menjelaskan, setiap tengah tahun, bank memang dimungkinkan merevisi RBB jika terdapat deviasi yang signifikan, antara target dan realisasi. Atau jika ada perubahan kondisi makro ekonomi yang berbeda dengan asumsi awal.
Umumnya, kata Dian, revisi RBB tergantung pada stabilitas ekonomi dan ekspektasi ke depan. Seperti suku bunga acuan, permintaan kredit dan likuiditas maupun realisasi kinerja bank hingga Juni 2025.
Selanjutnya, Dian merinci pertumbuhan kredit tersebut terdiri dari kredit investasi tumbuh tertinggi, yaitu sebesar 13,74 persen. Kredit konsumsi 8,82 persen dan kredit modal kerja 4,94 persen.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 11,92 persen. Sementara kredit UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) tumbuh 2,17 persen di tengah upaya perbankan yang fokus pada pemulihan kualitas kredit UMKM.
Baca juga : Modifikasi Cuaca Cegah Hujan Ekstrem Dan Banjir
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Mei 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,29 persen yoy menjadi Rp 9.072 triliun.
Dengan capaian giro, tabungan dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 5,57 persen, 5,39 persen dan 2,31 persen yoy.
Lalu, likuiditas industri perbankan pada Mei 2025 tetap memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 110,33 persen dan 24,98 persen.
Capain itu, kata Dian, masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 192,41 persen.
Dari kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL (Non Performing Loan) gross perbankan sebesar 2,29 persen dan NPL net sebesar 0,85 persen. “Sedangkan untuk Loan at Risk (LAR) relatif stabil sebesar 9,93 persen,” rincinya.
Adapun ketahanan perbankan Indonesia pada Mei 2025 tetap kuat. Hal ini tercermin dari permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang tinggi sebesar 25,51 persen.
“Ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat ditengah kondisi ketidakpastian global dewasa ini,” pungkas mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.