Dark/Light Mode

Di Tengah Perang Dagang & Ketegangan Geopolitik Dunia

BRICS Jadi Penyeimbang Sistem Ekonomi Global

Rabu, 9 Juli 2025 07:00 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah perang dagang dan ketegangan geopolitik dunia, para Menteri Keuangan (Menkeu) dan Gubernur Bank Sentral negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan South Africa) kompak bersuara.

Dalam pertemuan di Rio de Janeiro, Brazil, Sabtu (5/7/2025), mereka menyepakati langkah bersama untuk memperkuat tatanan ekonomi global. Termasuk menyerukan keadilan dalam sistem keuangan dunia.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono yang mewakili Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mul­yani, menjelaskan bahwa forum ini membahas peran kolektif BRICS dalam menyeimbangkan sistem global. Termasuk lewat pembentukan New Investment Platform, BRICS Multilateral Guarantee dan Infrastructure Information Hub.

“Pada forum tersebut juga menegaskan pentingnya pe­nguatan sektor keuangan BRICS dengan fokus pada pembiayaan berkelanjutan,” ujar Thomas dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (8/7/2025).

Menurutnya, negara berkembang menghadapi tantangan besar akibat pergeseran komitmen pendanaan iklim dari negara maju.

Baca juga : Sebarkan Semangat KAA Bandung di KTT BRICS, Prabowo Seperti Soekarno

“Inisiatif BRICS dalam mendorong agenda keuangan berkelanjutan menjadi sangat krusial pada saat negara maju menunjukkan perubahan prioritas,” tegasnya.

Forum tingkat menteri ini dilanjutkan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-17 BRICS pada Minggu (6/7/2025). Tema yang diangkat: Memperkuat Kerja Sama Selatan-Global untuk Tata Kelola yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan.

Deklarasi Rio yang dirilis dalam KTT itu menegaskan posisi BRICS sebagai kekuatan tandingan di te­ngah ketidakpastian global.

Soal iklim, para pemimpin BRICS menyatakan dukungan terhadap implementasi Perjanjian Paris dan menuntut pendanaan transisi energi yang adil dan mudah diakses oleh negara berkembang.

Leaders’ Framework Declaration on Climate Finance pun diteken sebagai bentuk desakan agar negara maju ikut bertanggung jawab.

Baca juga : Mikirin Banjir Jakarta, Pramono Tidak Bisa Tidur

Tak hanya soal ekonomi dan iklim, BRICS juga bicara lantang soal konflik global. Mereka mendesak penghentian serangan terhadap Gaza dan penarikan pasukan Israel, serta mendukung kemerdekaan Palestina.

Serangan terhadap Iran juga dikecam keras. Konflik Ukraina ditegaskan harus diselesaikan lewat dialog. Sementara di Sub-Sahara, prinsip “solusi Afrika untuk masalah Afrika” disuarakan sebagai pendekatan damai.

Dalam bidang ekonomi, Thomas mengatakan, BRICS menuntut reformasi menyeluruh lembaga internasional se­perti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

“Lembaga-lembaga ini belum merepresentasikan realitas ekonomi global yang sebenarnya,” katanya.

Peluncuran New Investment Platform dan BRICS Multila­teral Guarantees disebut sebagai langkah konkret memperkuat kemandirian finansial negara-negara Selatan.

Baca juga : Menko Polkam Fokus Jaga Stabilitas Nasional Mengawal Program Prioritas Presiden

BRICS juga mendirikan Grain Exchange untuk memperkuat ketahanan pangan dan rantai pasok internasional.

Di sektor teknologi, para pemimpin BRICS menandatangani Leaders’ Statement on Global AI Governance yang menekankan pembangunan teknologi inklusif dan aman.

“Penolakan terhadap fragmentasi internet serta komitmen untuk memperkuat kerja sama keamanan siber juga menjadi bagian dari deklarasi tersebut,” ujar Thomas. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.