RM.id Rakyat Merdeka - Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) memastikan penyaluran kredit akan ditujukan untuk sektor usaha yang sehat dan produktif. Terutama, sektor yang mendukung program prioritas Pemerintah dan agenda Asta Cita.
Himbara tengah kebanjiran likuiditas setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengguyur dana Rp 200 triliun guna mendukung akselerasi pemulihan ekonomi nasional.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda melihat, asumsi yang dibangun oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yakni dunia usaha kekurangan dana, sehingga investasi tidak berjalan dengan baik.
Bahkan, arahan yang diberikan juga jelas, yakni dana tersebut tidak boleh digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca juga : IKM Kerajinan Siap Perluas Pasar Ekspor
“Artinya, perbankan harus menyalurkannya melalui skema kredit,” tutur Nailul saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun yang menjadi pertanyaan, sambung Nailul, apakah dengan derasnya kredit perbankan ke dunia usaha, akan meningkatkan produksi?
“Lalu, bagaimana dengan sisi demand masyarakat ?” tanya Huda.
Pasalnya, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate dari sekitar 6 persen pada akhir 2024 menjadi 5 persen saat ini.
Baca juga : Hore, Lewat Gerbang Tol Fatmawati 2 Gratis
Namun kenyataannya, pertumbuhan kredit terus menurun, bahkan hanya sekitar 6 persen saja.
“Artinya meskipun diturunkan (suku bunga), permintaan kredit masih cukup rendah. Jadi masalahnya juga ada di sisi demand,” terangnya.
Selanjutnya, sambung Nailul, jika Pemerintah sudah mengguyur dana sebesar itu, namun perbankan tetap sulit menyalurkannya, dia khawatir akan berdampak negatif pada kinerja perbankan ke depannya.
“Ini akan menjadi dana mengendap. LDR (Loan to Deposit Ratio) bank akan mengecil, sehingga membuat kinerja perusahaan akan memburuk dalam laporan keuangannya,” katanya.
Baca juga : Ajukan Red Notice Ke Interpol, Kejagung Buru Cheryl Darmadi
Untuk itu, dia mengingatkan perbankan agar berhati-hati dalam pengelolaan dana jumbo tersebut. Bank juga diharapkan mampu mencari alternatif lain bila penyaluran kreditnya tidak optimal.
“Bagi perbankan, sepertinya dana itu akan lebih mudah kalau ditempatkan ke investasi,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.