BREAKING NEWS
 

Produksi Beras Nasional 2025 Naik, Guru Besar IPB: Swasembada Makin Dekat

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 10 Oktober 2025 12:56 WIB
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Edi Santosa. (Foto: Humas IPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Produksi beras nasional tahun 2025 melonjak signifikan dan mendekati proyeksi lembaga pangan dunia. Kenaikan ini dinilai membuka kembali peluang Indonesia mencapai swasembada beras.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut produksi beras Januari sampai November 2025 mencapai 33,19 juta ton. Jumlah ini naik 12,62 persen dibanding periode sama tahun 2024 yang sebesar 29,47 juta ton. 

Kenaikan ini juga mendekati proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) yang memprediksi produksi mencapai 35,6 juta ton untuk masa tanam 2025/2026 dan United States Department of Agriculture (USDA) yang memproyeksi 34,6 juta ton di 2025.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Edi Santosa menilai capaian tersebut menunjukkan strategi pemerintah di sektor pertanian berjalan efektif. Menurut dia, program jangka menengah dan panjang pemerintah memberi pengaruh langsung pada produksi.

“Saya melihat ini sebuah terobosan dari pemerintah. Produksi naik karena pembenahan dilakukan dari hulu hingga hilir,” kata Prof. Edi Santosa, dalam keterangan tertulis Jumat (10/10/2025).

Baca juga : SKK Migas-KKKS: Optimalikan Sumur Masyarakat

Dia mengatakan peningkatan produksi beras dipengaruhi berbagai program. Sejumlah program tersebut antara lain gerakan pompa air di sentra padi, pemenuhan pupuk, penyaluran benih, dan distribusi alat dan mesin pertanian yang merata.

“Pemerintah fokus memperbaiki rantai produksi pangan. Itu terlihat dari suplai input yang mulai lancar,” ujarnya.

Edi juga menilai peningkatan produksi berdampak langsung pada perbaikan kesejahteraan petani. Hal ini terlihat dari data Nilai Tukar Petani (NTP) September 2025 yang mencapai 124,36. Angka itu naik 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 123,57.

“NTP adalah indikator kesejahteraan petani. Saat produksi naik dan harga gabah bagus, kesejahteraan petani ikut menguat,” jelasnya.

Adsense

Ia menyebut pemerintah saat ini sedang memfinalkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP). Indeks ini digunakan untuk mengukur kesejahteraan petani secara lebih komprehensif dibanding NTP.

Baca juga : Warga Makin Melek Digital

“IKP dibangun supaya kesejahteraan petani tidak hanya dilihat dari sisi produksi. Ini langkah perbaikan data yang penting,” katanya.

Selain memperkuat pangan nasional, kenaikan produksi juga berdampak pada ekonomi nasional. Prof. Edi menyebut produksi yang stabil mampu menjaga inflasi pangan pada 2025.

“Jika produksi beras stabil, harga bisa dikendalikan. Dampaknya langsung terasa pada daya beli masyarakat,” tuturnya.

Kementerian Pertanian juga mencatat pertumbuhan positif pada ekspor sektor pertanian. Ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 38,25 persen menjadi 4,57 miliar dolar AS pada Januari sampai Agustus 2025. Pada periode sama tahun lalu, ekspor masih 3,30 miliar dolar AS.

Nilai ekspor pertanian saja mencapai 0,6 miliar dolar AS atau naik 10,98 persen dibanding Agustus 2024. Sementara ekspor nonmigas pada Agustus 2025 mencapai 23,89 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 0,60 miliar dolar AS.

Baca juga : Deklarasi MAKN 2025: Dari Ekonomi, Budaya, hingga Pembangunan Berkelanjutan

Prof. Edi menjelaskan peningkatan ekspor tidak hanya berasal dari komoditas bahan mentah. Sektor hilirisasi dinilai memberi kontribusi besar pada ekonomi petani.

“Hilirisasi mulai memberi hasil. Produk olahan buah, kopi, hingga beras premium sudah tembus pasar internasional,” ujarnya.

Ia menilai penguatan hilirisasi menggerakkan ekonomi desa. Petani kini tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga produk olahan.

“Gerakan ekonomi di desa semakin masif. Ini dampak nyata pembangunan pertanian,” ujar Prof. Edi.

Ia menyebut capaian tersebut tidak lepas dari koordinasi pemerintah pusat dengan daerah. Kementerian Pertanian disebut memperkuat distribusi alat, pendampingan penyuluh, dan efisiensi tata niaga. “Ini kerja bersama. Jika program berjalan konsisten, swasembada beras bisa tercapai,” katanya menutup.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense