RM.id Rakyat Merdeka - Dari hamparan sumur minyak Blok Cepu, Bojonegoro, di kejauhan, menara rig menjulang seperti obor logam yang tak pernah padam. Dari tanah inilah, sumber energi nasional berdenyut, menyalakan mesin-mesin ekonomi Indonesia.
Lebih dari satu dekade sejak pertama kali minyak Banyu Urip mengalir, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menjelma menjadi salah satu penopang utama ketahanan energi negeri ini. Dari sumur-sumur di bawah perut tanah Jawa bagian utara itu, tercatat lebih dari seperempat produksi migas nasional berasal dari sini — angka yang menegaskan posisi Cepu sebagai tulang punggung produksi minyak Indonesia.
“Hingga saat ini, produksi kumulatif dari Blok Cepu sudah lebih dari 700 juta barel minyak, jauh di atas rencana awal yang hanya 450 juta barel,” ujar Tezhart Elvandiar, External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, saat Kunjungan Lapangan Media SKK Migas-KKKS di Bojonegoro, Selasa, 4 November 2025.
Baca juga : Pusaka Blora: Pertamina EP Cepu Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pertanian Organik
Nada bangga terdengar di balik suaranya. Bukan tanpa alasan. Produksi itu bukan sekadar angka, tapi simbol keandalan operasi dan keberhasilan kolaborasi lintas pihak di tengah tantangan global sektor energi.
Sejak akhir Juni lalu, produksi minyak Lapangan Banyu Urip meningkat signifikan. Tambahan pasokan datang dari proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) — tujuh sumur baru yang berhasil diselesaikan sepuluh bulan lebih cepat dari jadwal. Di tangan teknisi lokal dan rig buatan dalam negeri milik PT Pertamina Drilling Services Indonesia, efisiensi dan kemandirian teknologi menjadi bukti nyata, energi nasional bisa diolah oleh tangan sendiri.
Dari tanah yang sama, lebih dari US$35 miliar atau sekitar Rp 586 triliun pendapatan negara telah mengalir. Nilai ini, lebih dari 10 kali lipat investasi awal. Sebagian besar dana itu kembali ke rakyat Bojonegoro melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas, yang menyumbang hingga 40 persen APBD kabupaten.
Baca juga : Dorong Ketahanan Pangan Nasional, Menteri Imipas Panen Jagung Di Sidoarjo
Di sisi lain, EMCL juga tercatat sebagai wajib pajak badan terbesar di wilayah kerja KPP Pratama Bojonegoro, menjadi penopang kas pembangunan dari jalur fiskal.
“Peran EMCL sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasokan migas nasional,” ujar Heru Setyadi, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas. “Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama dalam menjaga ketahanan energi Indonesia.”
Kini, Blok Cepu bukan lagi sekadar ladang minyak. Ia telah menjadi laboratorium besar ketangguhan energi nasional — tempat teknologi, kerja keras, dan kebijakan bersinergi dalam satu tujuan: memastikan lampu-lampu di negeri ini tak pernah padam.
Baca juga : PLN EPI Perkuat Ketahanan Energi Nasional Lewat Proyek Pipa Gas WNTS–Pemping
Untuk diketahui, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) adalah satuan kerja khusus yang diberikan tugas oleh Pemerintah RI c.q. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk menyelenggarakan pengelolaan kegiatan usaha hulu Minyak dan Gas Bumi berdasarkan Peraturan Presiden No. 95/2012 jo. Peraturan Presiden No. 9/2013 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No. 36/2018 jo. Peraturan MESDM No. 2/2022.
SKK Migas bertugas melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi berdasarkan Kontrak Kerja Sama. Pembentukan lembaga ini dimaksudkan supaya pengambilan sumber daya alam minyak dan gas bumi milik negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.