RM.id Rakyat Merdeka - Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menegaskan kembali peran strategis industri otomotif sebagai penggerak utama perekonomian nasional saat membuka Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 di ICE BSD, Jumat (21/11/2025).
Tata-sapaan Setia Diarta-yang mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ini menjelaskan, peran industri otomotif tidak hanya terlihat dari capaian produksinya, namun juga dari kontribusi yang luas terhadap sektor hulu maupun hilir. Industri kendaraan bermotor mencatat Nilai Tambah Bruto mencapai Rp 180 triliun pada tahun 2024. Secara analisis input–output, industri ini mempunyai koefisien backward linkage 2,07 dan forward linkage 2,40. Artinya, peningkatan aktivitas industri kendaraan bermotor dapat menggandakan dampak pada industri bahan baku dan komponen, serta mendorong sektor hilir seperti perdagangan, transportasi, dan logistik hingga 2,4 kali lipat.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan betapa pentingnya industri otomotif sebagai motor penggerak rantai pasok nasional. Pemerintah terus mendorong percepatan transformasi menuju industri otomotif rendah emisi melalui Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang diluncurkan berdasarkan Permenperin No. 36/2021.
Baca juga : Produksi Dan Ekspor Naik, Industri Otomotif RI Makin Ngegas
“Hingga saat ini sebanyak 15 perusahaan telah berpartisipasi dalam program LCEV dan memproduksi berbagai jenis kendaraan rendah emisi, mulai dari KBH2, HEV, PHEV hingga BEV. Program ini juga menghasilkan tambahan investasi sebesar Rp22,37 triliun,” kata Setia.
Ia menambahkan, sepanjang periode 2022 hingga September 2025, total produksi kendaraan LCEV mencapai 878 ribu unit dan melibatkan 274 industri komponen lokal. Dari sisi ketenagakerjaan, program ini telah menyerap tenaga kerja hingga 182.348 orang dari industri kendaraan bermotor maupun pemasok komponen.
Untuk memperkuat struktur industri dan mempercepat pembentukan pasar kendaraan listrik di dalam negeri, pemerintah juga melakukan penyesuaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sesuai Perpres 55/2019. Target TKDN ditetapkan sebesar 40 persen hingga 2026, naik menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan mencapai 80 persen pada 2030.
Baca juga : Yulisman Dorong Pemerintah Perkuat dan Percepat Eksplorasi Minyak Nasional
“Hingga kini sudah terdapat tujuh perusahaan produsen kendaraan listrik yang memiliki nilai TKDN antara 40 persen hingga 80 persen. Dengan peningkatan TKDN, kami berharap lebih banyak produsen kendaraan listrik membangun fasilitas produksi di Indonesia,” ujar Tata.
Ia menegaskan, Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional melalui kebijakan industri yang kompetitif, mendorong investasi, serta mengoptimalkan peran industri komponen. Menurutnya, potensi pasar otomotif dalam negeri yang besar menjadi modal penting untuk mempercepat transisi menuju industri otomotif yang berdaya saing dan berkelanjutan.
“Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Indonesia dapat menjadi pusat produksi kendaraan rendah emisi di kawasan,” kata Tata.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.