BREAKING NEWS
 

Gas Jadi Pilar Transisi, Tantangan Pasokan dan Infrastruktur Menguat

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Minggu, 23 November 2025 21:48 WIB
Direktur Gas dan BBM PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Erma Melina Sarahwati menegaskan bahwa gas bumi tetap menjadi pilar utama dalam transisi energi nasional. Hal tersebut disampaikan dalam Breakout Room Forum Natural Gas Ecosystem bertopik Progress of Natural Gas Infrastructure and Supply Availability, bagian dari gelaran Electricity Connect_ 2025 oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) pada Rabu (20/11). (Foto: Humas PLN EPI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gas bumi tetap menjadi pilar penting dalam transisi energi nasional. Meski ekosistem gas terus berkembang, dua tantangan mendasar masih dihadapi, yakni kepastian pasokan dan kesiapan infrastruktur.

Direktur Gas dan BBM PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Erma Melina Sarahwati menjelaskan, kedua tantangan tersebut menentukan kemampuan Indonesia menyalurkan gas dari sumber menuju pembangkit.

Pernyataan itu disampaikan dalam Breakout Room Forum Natural Gas Ecosystem bertema Progress of Natural Gas Infrastructure and Supply Availability, bagian dari rangkaian Electricity Connect 2025 oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Rabu (20/11/2025).

Menurut Erma, gas bumi memiliki peran strategis sebagai bridging fuel untuk mencapai target emisi nol bersih.

“Dibandingkan batu bara dan BBM, gas merupakan energi fosil paling bersih sehingga tetap dibutuhkan sebagai penyangga fleksibilitas sistem ketenagalistrikan,” ujarnya.

Baca juga : Pelaku Industri Ekraf Butuh Regulasi Tepat

Ia merujuk RUPTL 2025–2034 yang menetapkan tambahan pembangkit 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034, dengan lebih dari 75 persen berbasis energi terbarukan.

Gas tetap disiapkan sebesar 10,3 GW sebagai pengaman sistem, mengingat sifat intermiten energi surya dan angin, sementara pengembangan geothermal dan hidro membutuhkan waktu.

Kebutuhan gas PLN meningkat rata-rata 5,3 persen per tahun. Pada 2025 kebutuhan mencapai 1.600 billion British thermal unit per day (BBTUD) dan diproyeksikan naik menjadi 2.600 BBTUD pada 2034, terutama dipicu program konversi pembangkit BBM ke gas.

Adsense

Menurunnya, produksi gas pipa membuat PLN semakin bergantung pada pasokan gas alam cair (LNG), termasuk kontrak LNG Tangguh sebanyak 60–62 kargo per tahun yang akan berakhir bertahap hingga 2034.

“Sehingga diperlukan tambahan pasokan gas dari penemuan cadangan baru, pengalihan ke domestik dari kontrak ekspor yang akan berakhir, maupun perpanjangan kontrak eksisting untuk mengisi gap kebutuhan,” kata Erma.

Baca juga : Indonesia-Malaysia Sepakati Pengembangan Infrastruktur Perbatasan

Ia menambahkan, disparitas antara lokasi cadangan dan pusat permintaan masih menjadi persoalan utama.

Cadangan terbesar berada di wilayah timur Indonesia, sementara pusat beban listrik berada di Jawa dan Sumatera. Untuk menjembatani itu, Indonesia mengoperasikan jaringan pipa dan fasilitas floating storage regasification unit (FSRU) seperti Lampung, Arun, Nusantara Regas, Bali, dan Gorontalo, dengan total kapasitas penyimpanan sekitar 700 ribu meter kubik dan kapasitas regasifikasi 1,4 juta kaki kubik per hari.

PLN EPI tengah mengembangkan sejumlah proyek gasifikasi pembangkit di klaster Nias, Sulawesi–Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua.

Infrastruktur gas menjadi fondasi agar program gasifikasi berjalan optimal. Perusahaan juga memperluas dan meng-upgrade sejumlah FSRU, termasuk FSRU Bali yang kapasitasnya ditingkatkan karena kenaikan permintaan listrik sektor pariwisata.

“Penambahan FSRU di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Cilegon juga diperlukan. Setelah seluruh pengembangan rampung, kapasitas penyimpanan LNG nasional meningkat menjadi 1,2 juta meter kubik, sementara kapasitas regasifikasi naik hampir tiga kali lipat menjadi 4 juta kaki kubik per hari,” ujar Erma.

Baca juga : Film 23 Seconds Karya Peter Taslim Raih Segudang Penghargaan Internasional

Sejumlah proyek strategis memasuki fase penting. Klaster Nias ditargetkan beroperasi Desember 2025, pembangunan pipa WNTS–Pemping ditargetkan selesai 2026, sementara pengembangan klaster Sulawesi–Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua dijadwalkan tuntas 2028.

Erma menegaskan perlunya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur gas, termasuk dukungan pemerintah dalam perizinan, penetapan proyek strategis nasional, hingga penjaminan alokasi gas.

“Transisi energi tidak akan berjalan tanpa fondasi gas yang kuat. Pasokan yang pasti dan infrastruktur yang andal adalah syarat mutlak menuju sistem energi bersih dan berkelanjutan,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense